Kamis, 26 Januari 2023

Wakasek: Penentu Lain Keberhasilan Sekolah

<script async security="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>

Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) sebenarnya berada dalam posisi yang strategis untuk (1)membangun hubungan dengan siswa, (2)mengamati dinamika kelompok siswa, (3)peralatan sekolah, (4)alat pendukung sekolah dan pembelajaran, (5)kelancaran proses belajar mengajar, (6)menciptakan kemistri harmonis inter dan antar guru siswa dan tenaga kependidikan, (7)hubungan internal, eksternal dan pihak ketiga, (8)membangun sinergi semua komponen pendukung kemajuan sekolah dan (9)mencegah masalah sebelum dimulai, sampai semuanya bermuara pada Kepala Sekolah. Semuanya adalah kemampuan standar yang bisa dibaca, dipajang, dipelajari, dan dihafalkan, disebut sebut dan dicangkukkan ke diri pribadi. Tapi semuanya jadi berbeda ketika itu dipegang oleh mereka yang punya gagasan cemerlang. Sayangnya kecemerlangan tidak bisa ditiru. Pastinya tidak semua orang memilikinya seperti 'a few good man'. Apakah itu anda yang saat ini disana?

Sebelum melangkah kepada penjelasan ideal dari bahasan ini, saya ingin memberitahu anda bahwa ada kekonyolan lumrah di sekolah yang ditutupi. Mustahil mendapatkan wakil kepala sekolah cemerlang kalau penentuan mereka dari hasil pemilihan suara. Mirip dengan PGPS (Pintar Goblok Penghasilan Sama) dan kepangkatan bukan menentukan kepintaran seseorang. Anda membenarkannya tapi terpaksa anda sangkal karena anda mengikuti permainan tersebut. Menggelitik lagi, kenapa bisa terjadi? Apalagi anda yang berminat disitu untuk literasi anda menjadi Wakasek. Mudah mudahan bisa menjadikan sekolah anda hebat, kontras dengan hanya jargon hampir semua sekolah menambahkan kata 'hebat' setelah angka sekolahnya. "Misalnya SMA/SMK Negeri 378 hebat", dibawah foto guru sambil mengacungkan jempol tangan kanan seperti like pada postingan di medsos. Bagi mereka hebat itu adalah postingan foto dengan berbagai pose. Ya, segitulah literasi hebat menurut mereka. Rata rata mereka miskin ide dan gagasan. Busyet dah!

Iklim sekolah sebenarnya adalah sesuatu yang dapat anda pengaruhi dan pantau sebagai wakasek. Karena visibilitas anda di seluruh sekolah, anda dapat mewujudkan iklim sekolah untuk orang lain pada saat yang sama anda mengawasinya. Ambil suhunya, lalu bekerja untuk mengaturnya. Gruenert & Whitaker, 2015, merekomendasikan pemeriksaan suhu harian sekitar pertengahan pagi dan sekali lagi setelah makan siang. Tidak butuh banyak waktu. Di antara kelas, dengarkan suara di lorong, terutama jika anda berjalan berada di balik pintu kelas tertutup dan tidak terlihat. Lakukan beberapa penelusuran kelas. Tanyakan kepada guru piket di depan, bagaimana keadaannya. Pada dasarnya, lakukan apa pun yang anda bisa untuk mengukur dengan cepat sikap, keadaan pikiran, dan perasaan kelompok, karena iklim sekolah merupakan indikator moral secara keseluruhan, penting dalam memahami sistem sosial sekolah. Anda akan mengiyakannya karena iklim sekolah dan sosial sekolah berdampak jelas pada jalannya visi dan misi sekolah itu sendiri. Apapun itu, anda pasti merasakan bahwa di lingkungan guru sendiripun ada blok/kelompok disitu apalagi siswa anda.


Data iklim sekolah tidak hanya berupa angka; mereka observasional dan sesuai kebutuhan dengan frame like/dislike disitu. Jika anda mengamati sesuatu berulang kali saat anda berjalan di sekitar bangunan sekolah anda yang tampaknya memengaruhi perasaan, atau jika sesuatu yang sangat besar membalikkan keadaan, keduanya layak untuk dianalisis.

Poin terakhir mengenai pengukuran suhu adalah bahwa begitu anda menentukan iklim pada hari tertentu, anda dapat melakukan sesuatu untuk itu. Cari apa pun yang menghalangi nada positif dan profesional di antara siswa dan tentukan pelakunya. Poin yang harus anda lakukan adalah mencari hal-hal yang, jika tidak segera ditangani, dapat mengakibatkan siswa membuat keputusan yang buruk dan mendapat masalah. Kemudian, habiskan beberapa upaya untuk mengoreksi jika perlu.

Jika iklim sekolah berubah, jadilah pelayan yang baik, bukan penyelamat. Jika ada alasan yang sah untuk kesedihan atau kesedihan dalam tubuh siswa, jangan mencoba untuk membalikkannya secara artifisial. Gunakan keaslian sebagai panduan anda. Jangan pernah memasuki ranah kesimpulan berdasarkan subjektif, karena objek anda memiliki subjek berbeda dengan subjek anda. Ini dipengaruhi situasi, umur, pengalaman pikiran, era, orientasi, dan tantangan berbeda dengan anda.


Anda selalu dapat melakukan pemeliharaan iklim preventif. Ini mungkin termasuk memastikan anda memiliki harapan yang jelas untuk perilaku dan konsekuensi untuk perilaku buruk dan bahwa anda mengukur upaya anda dalam hal keadilan dan kesetaraan melalui analisis data (Austin, O'Malley, & Izu, 2011). Apa yang bisa menjadi data anda? Mereka dapat mencakup jumlah rujukan tempat tinggal, jumlah keterlambatan atau ketidakhadiran, jumlah siswa yang ingin meninggalkan sekolah lebih awal, dan sebagainya. Tidak terletak pada orang atau situasi yang dihindari siswa; itu mungkin sesuatu di luar sekolah yang menciptakan kekhawatiran, kekhawatiran, atau pengasingan diri.

Jangan hanya melihat di permukaan. Perhatikan apa yang terjadi ketika kelompok siswa bubar dan memasuki kelas. Pahami nuansanya. Bagaimana siswa berperilaku ketika mereka menjadi individu sekali lagi dan berjalan menyusuri lorong? Jangan mengabaikan intuisi anda ketika ingin memahami ekosistem anda; jangan menulis hal-hal kecil sebagai kebetulan atau efek samping dari sesuatu yang jelas tetapi mungkin tidak penting. Goleman (2013) mencatat bahwa apa yang kita lihat sebagai efek samping dalam sistem salah nama; mereka bukan efek dari sistem. Berpikir bahwa suatu sistem memiliki efek samping adalah pemahaman yang salah; semua terjadi karena suatu alasan.

Dalam melihat dinamika grup dan individu, perbesar, perkecil, dan pindai elemen baik mikro maupun makro. Lihat grup ke grup juga. Saya suka deskripsi Goleman (2013) tentang bagaimana "bukaan emosional, kemampuan untuk merasakan isyarat halus seperti itu dalam sebuah kelompok, beroperasi sedikit seperti kamera. Kita bisa memperbesar (makro) untuk fokus pada perasaan satu orang, atau memperkecil (lenskep) untuk mengambil kolektif”. Perhatikan tren dari waktu ke waktu, tren yang luput dari kedekatan saat ini. Jangan lewatkan hal-hal tak kasat mata yang memengaruhi lingkungan sekolah dari waktu ke waktu, namun selalu hadir. Anda mendengarkan suara gemerisik di dedaunan yang mungkin menandakan harimau yang sedang mengintai. Tetapi kita tidak memiliki kesadaran persepsi yang dapat merasakan penipisan lapisan ozon atmosfer, maupun karsinogen dalam partikel yang kita hirup pada hari yang berkabut. Keduanya pada akhirnya bisa berakibat fatal, tetapi otak kita tidak memiliki radar langsung untuk ancaman ini (Goleman, 2013).


Wakil kepala sekolah perlu meluangkan waktu dalam pengamatan yang penuh upaya dan bernuansa, jika pengawasan memungkinkan. Berdiri dengan tujuan sekolah dan jangan hanya melihat apa yang siswa anda lakukan; melihat apa yang tidak mereka lakukan. Pikirkan hal-hal dari sudut pandang anda, tetapi juga dari sudut pandang mereka. Bagaimana mereka melihat dunia, saat ini, melalui mata mereka bukan mata anda yang sudah mulai katarak, kabur, dan berair? Pengaruh apa yang mungkin ada untuk perilaku mereka dan apa yang dapat dikatakan ini tentang orang lain? Isyarat kontekstual adalah karunia anda; mereka menandakan apa yang terlihat di depan anda serta apa yang tidak terlihat namun masih berdekatan. Pernahkah anda bertanya pada diri sendiri ketika anda sedang "meronggoh" di pagi hari saat perut anda "marumeh"? “Apa artinya ini?” Rasa ingin tahu yang sehat bukan kepo yang "culiak garik" akan membantu anda dengan baik dalam pencegahan lingkungan melalui ketajaman pengamatan.

Anda akan bertanya, bagaimana dengan problematika pada wakil kepala sekolah bidang lain? Kurikulum, Sarana Prasarana dan Humas? Ya, mereka semua adalah gambaran umum deskripsi dalam perimbangan. Tapi paling tidak mereka bisa dijadikan landasan komprehensif dalam bertindak. Sedangkan lainnya jika anda disitu, itulah yang saya maksud kecemerlangan dengan ide baru kreatif yang membedakan anda dengan yang biasa. Guru seperti ini tidak banyak dan cenderung tidak tertarik tampil kepermukaan, tapi sebenarnya mereka sangat mudah distempeli. Sayangnya guru biasa yang cenderung 'nakal kagak goblog iya' akan cenderung mematikan lampu dengan alasan sederhana tidak sesuai dengan selera mereka.

Bagaimana dengan Kepala Sekolah? Ini yang menarik yang paling ingin saya kemukakan. Ya, proses rekrutmen Wakil Kepala Sekolah saja memungkinkan untuk mengalahkan kecemerlangan, sedangkan Kepala Sekolah berasal dari sistim diatas. Ditambah lagi faktor kedekatan dengan penguasa dan atau faktor kedekatan dengan yang dekat penguasa lebih dominan. Wow, ya begitulah karena kemampuan bagi mereka adalah hanya masalah secarik kertas; padahal itu adalah masalah isi di dalam tempurung kepala. Selamat menikmati kekuasaan dan semoga hari anda menyenangkan... Rrrrruaaaaaaarrrggghhh.


Gabung dengan cewangputih: https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g

Cigok:




Minggu, 22 Januari 2023

Mengatasi Penggunaan Smartphone di Sekolah

 <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>
Syahril Garinsel, seorang guru bahasa asing di sekolah menengah atas , 'tersurut kalambuainya" ketika sedang asyik dengan materinya, tiba tiba smartphone siswa berdering. Resky Securin, seorang guru Informatika di sekolah yang sama, 'tersimbaba" saat melihat siswa yang diawasinya waktu ujian, mendapatkan kunci jawaban dari gadgetnya. Jika siswa diizinkan untuk memiliki ponsel mereka di sekolah anda, anda dapat mengatur parameter untuk membantu mereka fokus pada pekerjaan mereka bukan untuk kasus yang tidak terkendali.

Apakah anda tidak terganggu oleh feed Instagram, postingan Twitter, konten TikTok, Chat WhatsApp, main game, judi online, dan menonton YouTube? Aplikasi tersebut dirancang untuk membuat orang tetap terlibat dengannya. Karena generasi siswa yang anda sekarang ini menjadi lebih berorientasi pada teknologi, apakah anda pikir mereka juga menjadi lebih terganggu olehnya? Atau anda menikmati keadaan yang sebenarnya harus diatur, atau malah tidak dibiarkan?

Sekarang, anda tidak sedang mengangkat tangan dan berkata, "Saya tidak bisa membiarkan!" dengan pertempuran para remaja yang sibuk dengan Snapchat sementara mereka seharusnya mempelajari materi pelajaran. Sebaliknya, anda dapat memikirkan kembali instruksi anda dan bagaimana Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) kelas anda berfungsi. Mari kita pelajari siapa siswa anda untuk mendukung pembelajaran mereka.

Apakah anda ingin lebih dulu mendapatkan artikel "cewangputih"? Silahkan gabung Group WhatsApp ini: https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g
Mengenali siswa anda di awal tahun bukanlah hal yang anda lakukan satu kali. Disamping itu regulasi sekolah harus tegas disitu, jelas dijalankan para guru, dan lugas diikuti siswa. Faktanya tidak banyak sekolah yang serius menyikapi ini. Pertimbangkan saran berikut untuk meningkatkan tingkat keterlibatan siswa di ruang kelas anda saat mereka semua memiliki ponsel menurut Sara Said (Agustus 2023)

Ya, ada kalanya siswa masih akan menguji batasannya. Mereka terlihat dengan sengaja melakukannya karena tindakan anda beragam. Ketika itu terjadi, tindak lanjut itu penting. Saya menemukan cara dengan bekerja melalui percakapan restoratif untuk membantu. Ini membantu siswa untuk memahami “mengapa” di balik perubahan perilaku, daripada menghukum mereka. Dalam beberapa percakapan itu, saya menekankan keterlibatan kelas. Ada juga saat saya menjelaskan dampak ponsel dan media sosial terhadap kesehatan mental dengan menguraikan ilmu otak tentangnya untuk mereka dalam frame Sosial Emosional Learning

Walaupun jawaban anda 'ada' ketika ditanyakan tentang batasan penggunaan ponsel, tapi anda sering mengeluh dengan ini. Kadang anda pura pura tidak tahu dan malu membahasnya untuk suasana nyaman belajar. Jika batasan itu terus-menerus sengaja dilanggar, maka kontak orang tua dan konsekuensi sekolah ikut bermain. Namun, ketika siswa memiliki pemahaman yang jelas tentang kapan mereka boleh menggunakan ponsel, saya tidak memiliki banyak masalah dengan mereka di kelas. Kontras mereka yang banyak masalah dengan saya, seperti stereotipe pikiran anda.
SEDIAKAN CHARGER DI KELAS ANDA

Ketika anda memasuki kelas dapat dipastikan semua colokan listrik terisi oleh charger ponsel. Belum lagi wajah pasrah siswa anda yang baterai ponselnya sekarat. Walaupun kasus ini sedikit tapi ini jelas membuat pikiran mereka terganggu selama pelajaran anda. Untuk itu anda bisa menyediakan mereka charger yang diletakkan di meja khusus sekaligus tempat semua ponsel siswa dikumpulkan dengan menempatkannya di area kelas. Sebelum membuatnya tersedia, biasanya anda memberi tahu siswa, "Matikan HP kalian, Silence kan HP kalian, Simpan telepon kalian, dan lainnya." Itu menjadi pernyataan hukuman, dan anda terdengar seperti kaset/radio rusak bagi mereka.

Sekarang, alih-alih itu, saya bertanya, "Apakah anda ingin mengisi daya ponsel anda?" dan siswa bersemangat karena dapat mengisi daya ponsel mereka di dalam ruangan. Hal ini memberi siswa lebih banyak kepemilikan atas solusi tersebut, dan ini berhasil lebih baik daripada memiliki bagan saku penyimpanan di kelas dan menuntut siswa memasukkan ponsel ke dalamnya.

MASUKKAN TELEPON KE DALAM INSTRUKSI

Ponsel dapat dimasukkan ke dalam instruksi dengan cara yang berbeda. Anda dapat menggunakan Formulir Google yang disematkan ke dalam kode QR agar siswa menyelesaikan survei, memeriksa pemahaman, atau bahkan check-in sosial dan emosional. Pastikan untuk selalu memiliki versi kertasnya untuk siswa yang kamera atau datanya tidak berfungsi. Ini akan menjadi
awal PBM yang berbeda tampilannya. Bisa juga anda gunakan untuk LKS (Like Komen Sabskraib) konten akun sekolah, anda atau salah seorang siswa anda.
Siswa dapat menggunakan ponsel mereka untuk menyelesaikan penelitian tentang topik yang mereka rancang, dek slide dan infografis, atau untuk tugas menulis. Ada begitu banyak aplikasi yang dapat digunakan siswa untuk membuat mereka tetap terlibat dengan ponselnya. Canva adalah aplikasi yang sering digunakan, dan siswa benar-benar dapat membuat dari ponsel mereka. Aplikasi ini juga berfungsi di perangkat sekolah jika tidak dapat diakses di ponsel—jadi semuanya disertakan.

PASTIKAN INSTRUKSI INTI ANDA MENARIK

Jujur saja, kita semua mengeluarkan ponsel dan mulai menggulirnya saat bosan. (Jangan katakan anda tidak pernah mengeluarkan ponsel selama PBM atau rapat dinas atau Lokakarya sedang berlangsung) Anda tidak berbeda dengan siswa anda. Wajah Chandura Irruham, seorang guru senior memerah ketika tiba-tiba ponsel siswa dikelasnya berdering. Belum lagi begitu '"merumasnya lambung" Sunny Boy, guru pemalas ketika melihat dengan santainya Kepala Sekolah berbicara keras ketika telepon masuk saat mereka berbicara. Apakah etika itu disclaimer?

Memiliki ruang kelas di mana siswa aktif dalam pengajaran adalah kuncinya. Ya, instruksi langsung memiliki tempat di dalam kelas—tetapi tidak selama seluruh periode. Di kelas anda, anda menggunakan strategi yang melibatkan siswa dalam diskusi, memberi mereka peran dalam pembelajaran kooperatif, dan membuat mereka bergerak mengikuti aliran sekolah penggerak. Bangga, menjadi Guru Penggerak dan apatah lagi Calon Guru Penggerak.
Anda bisa menggunakan struktur seperti gallery walk, inside-outside circle, world cafe, dan pembelajaran kinestetik front-to-front back-to-back untuk melibatkan siswa. Ketika anda melihat bahwa siswa tidak bergerak atau berpartisipasi dalam struktur ini di kelas, pindahkan aktivitas ke lorong dan minta siswa berpartisipasi dalam pembelajaran kooperatif di sana sampai kita semua merasa akan terlibat secara aktif di dalam kelas. Hanya perlu satu atau dua kali di aula untuk membuat mereka memahami pentingnya keterlibatan di kelas.

Suatu hari, dalam percakapan dengan anak remaja saya di rumah, saya memberi tahu mereka bahwa matikan ponselmu saat sedang disekolah.


Cigok:




Rabu, 11 Januari 2023

Sosial Emosional Learning pada Bahasa Inggris

 <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>


Sekarang anda dapat yakin bahwa anda memiliki apa yang diperlukan untuk menjadi guru yang baik! Anda dapat memilih antara kotak alat Basic, Essentials, Premium atau Ultimate referensi pengajaran Bahasa Inggris. Jika anda ingin kotak alat seperti itu penuh dengan materi pengajaran Bahasa Inggris, lalu bergabunglah dengan saya, bersama memberikan pengalaman lanjutan dalam Program Pertukaran Pelajar yang telah saya jalin dan baru berjalan. Cukup hubungi saya 0811664758 dan saya dengan senang hati berbagi dengan anda dan sekolah anda (SMA/SMK/MA).

Menjadi seorang guru bahasa Inggris itu menyenangkan, bermanfaat, tetapi juga menantang. Sekolah favorit membutuhkan sumber daya pengajaran bahasa Inggris yang ketat namun menarik untuk membantu siswa mereka belajar dan menjaga mereka tetap fokus di kelas (what the students need). Guru pemula atau veteran, kita semua harus memilih dengan bijak dan menyesuaikan materi dengan kebutuhan siswa (what the students want)

Karena fakta jelas-jelas "mambulalikkan incek mato" anda bahwa siswa anda adalah manusia yang unik, tidak ada satu pun kurikulum kalengan yang cocok untuk mereka semua (apakah itu juga kurikulum merdeka?). Oleh karena itu, anda harus berhati-hati dalam memelihara pertumbuhan mereka dengan menawarkan beragam sumber belajar bahasa Inggris yang menarik dan kreatif. Bagaimana dengan di sekolah anda?

Beberapa hari yang lalu saya berpikir, “Seandainya saja saya memiliki kotak alat sumber pengajaran bahasa Inggris yang dapat saya gunakan sepanjang tahun, semuanya akan luar biasa. Saya akan mengurangi stres, lebih bahagia, dan lebih percaya diri.” Jadi, saya mulai membuat kotak peralatan saya sendiri. Apakah Anda ingin tahu apa yang saya masukkan ke dalam?

1. Lonceng berdering sepanjang tahun – Setiap hari dengan tantangan baru, semuanya diatur sehingga saya tidak perlu khawatir tentang apa yang akan saya lakukan di awal setiap kelas.

2. Aktivitas kembali ke sekolah – Minggu pertama sangat penting untuk menjalin hubungan dengan siswa, jadi saya menggunakan aktivitas ini dengan percaya diri.

3. Aktivitas belajar dengan lagu untuk digunakan dengan musik apa pun – Saya memilih proyek kecil yang menyenangkan dan kreatif yang dapat digunakan siswa terlepas dari apa yang akan kita baca sepanjang tahun.

3. Aktivitas dan proyek tongue twister – Saya sering menggunakan tongue twister dan menurut saya itu adalah kunci untuk meningkatkan keterampilan listening dan speaking dengan cepat, jadi saya perlu tugas yang menarik agar siswa tetap tertarik.

4. Panduan menulis esai – Ketika saya meminta siswa saya untuk menulis esai, saya menawarkan kepada mereka semua alat yang mereka butuhkan untuk menjadi sukses. Strategi ini membantu meredakan kecemasan mereka dan menyerahkan esai tertulis yang bagus tentang topik yang menarik.

5. Aktivitas menulis argumentatif – Dari semua jenis keterampilan menulis, mengetahui cara membuat argumen yang kuat adalah salah satu yang paling berguna. Saya banyak mengembangkan keterampilan ini di kelas saya dan saya telah melihat peningkatan luar biasa dalam kemampuan berpikir kritis siswa saya.

6. Aktivitas yang sangat menyenangkan – Aktivitas ini membantu kita menghentikan rutinitas dan menghadirkan kegembiraan di kelas. Kita semua membutuhkan tawa yang baik dan beberapa proyek out of the box sesekali.

7. Bagian pemahaman membaca – Saya menggunakan berbagai macam bagian untuk mengembangkan keterampilan membaca dan berfokus pada teks nonfiksi. Kegiatan pertanyaan pilihan ganda cepat digunakan dan membantu siswa fokus untuk mencapai standar.

8. Petunjuk menulis kreatif – Mendorong kreativitas adalah kunci penting untuk sukses sebagai guru. Menulis kreatif meningkatkan keterampilan menulis dalam lingkungan yang ramah dan tekanan rendah. Pada akhirnya, kita semua suka menggunakan imajinasi kita saat menulis, bukan? Alasan inilah yang saya gunakan untuk format dan gaya tulisan saya di blog ini.

9. Aktivitas pembelajaran sosial emosional – Pendidikan karakter dan aktivitas Social Emotional Learning (SEL) ini penting untuk menciptakan manusia yang utuh dan berbelas kasih. Hubungan di kelas meningkat drastis saat kami melewati tantangan SEL ini setiap minggu.

10. Aktivitas penulisan dan pengginaan media sosial – Saya percaya pada kekuatan media sosial dan inilah mengapa siswa saya sarankan menggunakan medsos dalam pembelajaran. Medsos dan berkelas, dengan pesan yang kuat dan bagus untuk mengembangkan keterampilan pemahaman diskursus dan membagikannya.

11. Aktivitas liburan – Saya menandai hampir setiap kemungkinan liburan di kelas saya. Saya menganggap mereka sebagai kesempatan belajar dan cara untuk menerima keragaman bakat, hobi dan pemikiran. Oleh karena itu, setiap liburan adalah momen bagi mereka untuk mengembangkan kreatifitas.

12. Kegiatan akhir tahun – Setelah melewati tahun yang berat namun menyenangkan, saya suka bersantai dengan tugas-tugas yang menyenangkan. Minggu-minggu terakhir itu adalah minggu-minggu yang akan melekat pada ingatan siswa anda dan mereka sangat baik untuk memperkuat semua yang telah dipelajari, tetapi juga memiliki beberapa kegiatan yang menyenangkan dan mengikat.

Apakah anda ingin lebih dulu mendapatkan artikel "cewangputih"? Silahkan gabung Group WhatsApp ini: https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g


Selasa, 10 Januari 2023

Mendefinisikan Instruksi Differensiasi

   <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>

Ketika PBLCenter (PBLC) dibangun, saya telah menulis blog "cewangputih". Ide dasar PBLC lebih kepada menyebarkan pemahaman lebih tentang PBL untuk dunia pendidikan yang ProPeLa sendiripun tampil memaksakan diri untuk paham dengannya. PBL dalam pikiran mereka jadi ambigu. Kok bisa? PBL adalah metamorfosis dari konsep 'Learning By Doing' , itu mereka tahu tapi genre orientasi adaptif dan digabung dengan advantages oriented arah jalan, maka PBL butuh waktu lama mereka pahami. Jalannya masih panjang.
Ini juga ditujukan bagi anda yang sama skeptisnya melihat PBL itu sendiri. Anda galau dan gamang dalam mengaplikasikan metode PBL. Anda gagap karena anda gagal 'move on' dengan pola 'vintage' tersebut. Makanya jauh di relung hati anda sebenarnya berharap PBLCenter dapat membawa anda keluar dari lingkaran gelap itu. Parahnya anda stereotip dengan penulis cewangputih itu sendiri dan 'dislike'. Jadi, perhatikanlah dengan cara seksama, bacalah berulang ulang, dan mustahil anda dapatkan dalam tempo yang sesingkat- singkatnya.

Saat anda mulai merencanakan kolaborasi pembelajaran dengan guru berbeda mata pelajaran, di luar jangkauan pendengaran sesama guru dan kepala sekolah anda, saya tidak dapat memberi tahu anda seberapa sering saya ditagar, "seperti apa bentuknya?" "saya kurang yakin dengan anda, karena anda pemalas!" "ah, anda hanya banyak cerita dan ide, buktinya apa?", ketika datang ke instruksi diferensiasi.

Di dunia pendidikan, instruksi diferensiasi banyak dibicarakan sebagai kebijakan atau sebagai solusi, tetapi jarang pendidik mendapat kesempatan untuk menyingsingkan lengan baju dan berbicara tentang seperti apa dalam praktiknya. Rebecca Alber (April 13, 2010) memulai definisi tersebut dengan ini: Pendidikan yang setara itu tidak semua siswa mendapatkan yang sama, tetapi semua siswa mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Mendekati semua peserta didik secara akademis sama, tidak berhasil. Kita harus mulai dari mana setiap anak berada dalam proses belajarnya untuk memenuhi kebutuhan akademisnya secara otentik dan membantunya berkembang. Dengan ruang kelas yang penuh dengan anak-anak pada berbagai tahap pembelajaran, saya tahu ini terdengar luar biasa. Jadi saya ingin menyarankan tempat untuk memulai dan memberikan beberapa contoh.


Anda diundang bergabung menjadi "dunsanak cewangputih" https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g

Mulailah dengan Siswa. Jika seorang anak di kelas anda benar-benar bergumul dengan membaca, menulis, mengatur, mengatur waktu, keterampilan sosial, atau semua hal di atas, langkah pertama adalah mencari tahu sebanyak mungkin tentang riwayat pendidikannya dan hal lainnya. Ini termasuk belajar tentang minatnya, latar belakang budaya, gaya belajar, dan sesuatu tentang kehidupan rumah tangganya (Anak bungsu? Asuh? Rumah orang tua tunggal? Mengontrak?). Sepertinya guru BP/BK hanya "parami alek" di sebuah sekolah, kalau instruksi diferensiasi dilakukan oleh guru mata pelajaran.

Faktanya adalah, anda mengurusutamakan lebih banyak siswa anda ke mata pelajaran umum, yang, 15 tahun yang lalu, mungkin malah ditugaskan ke kelas pendidikan khusus. Itu kabar baik dalam banyak hal tetapi membuat pekerjaan guru lebih menantang. Ini juga salah satu alasan mengapa instruksi diferensiasi menjadi topik hangat.

Anda dan saya tampaknya akan "mainguang" ke arah yang sama untuk langkah awal dalam instruksi diferensiasi ini. Sebagai sebuah tim, sekolah sebenarnya punya formasi lengkap secara struktur organisasi. Ya, kita akan melihat mengarahkan pandangan pada fungsi unit BK/BP di sekolah. Turbulensi pikiran kita, kenapa instruksi diferensiasi dalam PBL harus guru yang merencanakan? Apakah BK/BP adalah unit yang benar adanya berjalan kecuali hanya memanggil siswa bermasalah? Bukankah unit ini dapat menjadi bantalan rel jalannya ide besar instruksi diferensiasi? Nampaknya perlu https://cewangputih.blogspot.com/2022/10/komite-pembelajaran-berbasis-sekolah.html Komite Pembelajaran Berbasis Sekolah (KBPS)


Cewangputih juga dapat ditemukan disini Follow IG: @pblcenter_

Jadi, anda harus lebih banyak belajar. Coba anda habiskan banyak periode konferensi kepada menyisir file siswa. Sungguh menakjubkan apa yang dapat anda temukan tentang seorang anak dari melakukan ini. Misalnya, anda memiliki seorang siswa dengan perilaku yang membingungkan kemudian anda mengetahui bahwa dia menderita skizofrenia. Bagaimana anda mengetahuinya? Melihat berkasnya? Anda adalah guru yang jauh lebih baik baginya setelah mendapatkan informasi ini. Tentu saja, dia memiliki kemampuan bahasa, dan seseorang (guru BP/BK kalau dia bekerja) seharusnya memberi tahu anda di awal tahun, tetapi kita semua tahu bagaimana hal-hal -- dan anak-anak -- gagal di sekolah umum.

Contoh Kelas. Membuat tugas, latihan, quiz atau tujuan yang berbeda untuk satu siswa dari siswa lainnya di kelas adalah bertemu anak itu di mana mereka berada dalam perjalanan belajar mereka. Tidak apa-apa, anda tidak perlu merasa buruk atau merasa seolah-olah anda tidak adil, atau menurunkan standar. Anda adalah guru anak itu dan anda menghabiskan cukup waktu bersamanya untuk memahami apa yang dia butuhkan. Ingat, kesetaraan adalah tentang memenuhi kebutuhan individu.

Ini kelas Bahasa Indonesia sekolah menengah, dan siswa sedang membaca novel. Tujuan hariannya adalah melatih inferensi dan penerapan keterampilan ini. Mereka sedang menulis esai singkat yang memprediksi apa yang mungkin dilakukan oleh karakter Dilan dari Dilan 1991 (anggap saja novelnya ada). Mereka harus menarik bukti tekstual dari buku untuk mendukung prediksi dan klaim mereka.

Tapi Resky Fermones (siswa) duduk di sana, frustrasi. Dia bergumul dengan konsep inferensi, sebagian karena dia membaca di bawah tingkat kelasnya. Mengetahui hal ini tentang kemampuan membacanya, dan tantangan lain yang ditunjukkan pada kemampuan kebahasaannya, apakah anda mengharapkan dia untuk tetap berada di jalur tersebut, atau apakah anda mengakui bahwa dia tidak mungkin berhasil dengan tugas tersebut? Anda memutuskan untuk memberi Resky Fermones tugas untuk membuat daftar lima kata sifat untuk mendeskripsikan karakter Dilan, rooaaaaaargh. Dia harus menemukan satu kutipan dari karakter di buku untuk membuktikan satu atau lebih kata yang dia pilih. Ada kemiripan dengan kedua tugas ini, tetapi cukup berbeda untuk memastikan kemungkinan keberhasilan yang lebih tinggi -- dan pembelajaran -- untuknya.

Masalah Keadilan. Instruksi yang berbeda untuk Resky Fermones, dan untuk siswa lain yang kesulitan, mungkin berarti memberikan selebaran dengan pembuka kalimat atau pengatur grafis untuk membantu mereka membangun makna. Ini mungkin berarti memberikan waktu ekstra untuk menyelesaikan tugas, memberikan arahan lagi, mengurangi panjang tugas, atau menawarkan tugas atau proyek alternatif sekaligus. Anda juga dapat memberikan siswa yang kesulitan dengan teks berjenjang -- bacaan yang tidak terlalu sulit yang berisi konten yang sama.

Untuk ide, anda dapat minta bantuan PBLC, karena disana banyak kecerahan yang belum diaplikasikan. Tanpa sadar iklim sekolahnya yang adaptif, skeptis advantages oriented tidak cocok dengannya. Apakah anda merencanakan variasi tugas sebelumnya? Tidak selalu, tetapi ketika anda mengetahui siswa anda yang berjuang dan tantangan mereka dengan cukup baik untuk memprediksi rintangan di depan mereka, anda siap?

Salah satu cara untuk siap? Buat folder file yang diisi dengan berbagai pengatur grafik, pembantu visual, dan pembuka kalimat untuk berbagai jenis pemikiran (sebab dan akibat, kronologis, bandingkan dan kontras, untuk beberapa nama). Anda dapat dengan cepat menarik salah satunya dalam keadaan darurat. Jika seorang siswa menyelesaikan tugas yang berbeda dengan waktu tersisa, nilailah apakah itu terlalu mudah, dan tambahkan satu langkah. Jika tugas yang dibedakan terlalu sulit, uraikan lebih banyak lagi petunjuknya, beri mereka waktu berdua dengan anda, atau hapus satu langkah.

Saya pernah mendengar guru menyarankan bahwa membuat tugas yang lebih mudah untuk satu siswa tidak adil bagi yang lain. Disamping ada juga guru yang bergerilya untuk menaikkan/mengatrol nilai anak kandung/keluarga mereka. Tapi saya bertanya: Apakah ini soal apa yang adil, atau apa yang benar?
Apa cara anda membedakan instruksi untuk tingkat kelas dan konten yang anda ajarkan?

Cigok:









Sabtu, 07 Januari 2023

Ide Besar Kepala/Wakil Sekolah

  <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>



Saya yakin anda akan "mangaruik-an kaniang" (mengernitkan dahi) ketika mambaca judul diatas. Liar dan cenderung "malantun-lantun"(kemana-mana) arah pemikiran anda. Begana begini mereka keluar dan sayangnya anda akan kanalisasikan lantunan tadi dalam kerangka streotip "utak"(pikiran) anda, karena dipastikan anda gunakan pendekatan like dan dislike dalam menilai seseorang. Anda sepertinya akan "manggantangkan/manekak" (mengukur) orang dengan 'labelling'. Jangan pernah membaca ini jika anda adalah termasuk bagian dari Kepala/Wakil/Guru diatas"

Anda diundang bergabung menjadi "dunsanak cewangputih" https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g

Kerangka dasar dari tulisan ini adalah keprihatinan saya melihat dinamika kebanyakan sekolah secara umum dan khususnya formasi Kepala/Wakil Sekolah. Saya tidak masuk pada sistem pemilihan mereka, tapi lebih kepada isian untuk mengisi celah kosong yang sepertinya banyak dalam kerangka otak mereka. Kenapa begitu? Karena blank spot itu disebabkan frekwensi adaptif mereka dalam menjalani profesi sebagai guru. Akan jelas terbaca seperti running text, mereka tidak akan tertarik pada kreatifitas dalam dinamika sekolah dan pembelajaran. Lalu apa? Kemana orientasi passion mereka? Anda akan setuju dengan saya bahwa mereka hanya tertarik melakukan sesuatu kalau ada advantages dan benefits. Ya, itulah mereka, apakah anda juga tergolong dalam bagian itu? Cepatlah berbalik arah. Sebagai pengisi yang kosong tadi, berikut ini bisa anda jadikan referensi primer, sekunder dan atau tersier anda, terserah!

Follow IG: @pblcenter_

Sekolah Anda Harus 100 persen Untuk Semua. Jika anda mulai membuat keputusan berdasarkan menghindari konflik, para siswa kalah. Inilah yang menopang dasar anda melalui salah satu keputusan tersulit anda. Anda menjadi penyokong sekolah untuk tidak diskriminatif pada ekonomi orang tua murid. Anda pastinya menjawab itu tidak pernah terjadi di sekolah anda. Tapi pernahkah anda agak sedikit menurunkan frekuensi itu dengan mempelajari kenapa ada siswa anda yang memundurkan diri dari sekolah? Secara psikologi apakah pernah anda mendekat kesana dan atau ini anda lakukan juga pada siswa anda yang bermasalah? Lihatlah dengan kacamata empati dan differensiasi.


Buat Visi, Tulis, dan Mulai Implementasikan. Jangan menaruh visi anda di laci anda dan berharap yang terbaik hindari hanya jadit pajangan di dinding dinding sekolah anda. Setiap keputusan harus selaras dengan visi tersebut. Seluruh organisasi mengawasi ketika anda membuat keputusan, jadi konsistensi sangat penting.

Ini Orangnya, Bodoh,
Rahasia mengelola adalah menjauhkan orang-orang yang membenci anda dari mereka yang masih ragu-ragu. (Itu diadaptasi dari Casey Stengel.) Timkan orang yang mendukung visi anda, yang cerdas (ini sulit menemukannya), dan kreatif (apalagi ini).

Dayung di dalam Air
Di Outward Bound, anda belajar bahwa ketika anda menavigasi jeram berbahaya di rakit, satu-satunya cara untuk berhasil adalah semua orang di perahu duduk di tepi dan mendayung dengan sangat keras, meskipun semua orang lebih suka duduk di tengah, mana lebih aman. Di saat krisis, semua orang merespons dengan dayung di dalam air.


Temukan Waktu untuk Berpikir Sepanjang Hari. Anda digaji untuk khawatir. Tidak apa-apa untuk menatap dinding dan berpikir tentang bagaimana mengelola perubahan. Hebat bukan maksimal dalam patron tupoksi anda, tapi anda dapat membuat centangan inovasi diluar itu semua. Anda akan jadi tidak disukai, karena mereka standar. Anda akan jarang mengalami hari yang baik -- lupakan saja!

Bertanggung Jawab Atas Yang Baik Dan Yang Buruk. Jika masalah di sekolah atau organisasi anda terletak di bawah anda dan solusinya ada di tangan anda, maka anda telah menjadikan diri anda tidak relevan. Hebat sekolah terletak di dalam sekolah dan yang mengatakannya adalah dari luar sekolah. Bukan kosakata yang keluar dari anda dengan postingan di media anda yang disertai gambar dan video "ntah haha se"(entah apa saja). Solusi untuk masalah hampir selalu ada di depan anda. 

Anda Memiliki Tanggung Jawab Utama. Memiliki harapan yang sangat jelas. Pastikan orang memiliki pengetahuan, sumber daya, dan waktu untuk mencapai apa yang anda harapkan. Ini menunjukkan rasa hormat. Sebisa mungkin, realisasikan Komite Pembelajaran Berbasis Sekolah (KPBS) otonom.


Memiliki Bias untuk Ya
Ketika putra saya masih kecil, saya mengalami banyak kekacauan di rumah, dan saya tidak ingin melakukan banyak hal ketika saya tiba di rumah. Suatu hari, saya memutuskan bahwa apa pun yang ingin dia lakukan, saya akan lakukan -- bermain bola, makan es krim, dan sebagainya yang kadang konyol dan kekanak-kanakan menurut saya. Saya menyadari kekuatan 'Ya'. Itu mengubah hubungan kami. Satu-satunya kemajuan yang pernah anda buat melibatkan risiko: Gagasan yang dimiliki guru mungkin tampak sedikit tidak aman dan gila. Coba pikirkan, "Bagaimana saya bisa membuat permintaan ini menjadi ya?"

Konsensus Berlebihan. Dua puluh persen orang akan menentang apa pun. Ketika anda menyadari hal ini, anda menghindari kompromi dengan apa yang sebenarnya harus dilakukan karena anda berhenti memperumit masalah. Jika anda selalu berusaha mencapai konsensus, anda sedang dipimpin oleh 20 persen.

Perubahan Besar Harus Dilakukan dengan Cepat. Jika Anda menunggu terlalu lama untuk membuat perubahan pada budaya sekolah, anda telah menyetujui perilaku biasa-biasa saja karena anda mengizinkannya. Saat itulah perubahan itu sulit, dan anda mulai membuat kesepakatan yang buruk.

Cigok:
Komentari dan Bagikan