Sabtu, 30 April 2022

Most effective Learning: PBL

 By Donny Boy

 <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>

courtesy of Yose Hendry


Why is Project-Based Learning (PBL) effective for teachers today? Before going there, I suggest you to immediately leave your old learning style that is stale. Refresh your mind, especially skeptical teachers. Why is that? The appearance of the class will be more independent and the use of time will be emphasized. It's like an offer you have to choose from. Are you going to instill more energy and excitement into the classroom? Your classroom is so monotonous and boring that you are the center of the learning and teaching process. Are you going to use pedagogical tools that can encourage students to think critically? You make your students followers of the theories they memorized. Will you facilitate collaborative learning? Meanwhile, your students are learning objects for the transfer of knowledge. Have you closed your eyes to the digitalization era staring intently at you? Worse, your students are preparing, in, and about to enter the era of digitalization. All of this is like a donkey forcing the cavalry to ride on a raid.

We can't wait for a single petus (single thunder) to escape from the mingkaruang (lizard) bite. Petus will solve all the problems exacerbated by Covid-19 or state exams. It is possible that with a bit of thoughtful creativity, we could end this academic year on a strong note by using Project Based Learning. This expectation is often dismissed as "another thing on our already full plates," but as author, John Spencer shares in his article "Seven Myths Keep Teachers From Implementing Creative Projects," "When I switched to the. about adding Project-Based Learning something new to my plate. It was about rearranging my plate." But how does it feel to “reset your plate” in a way that can help alleviate some of the seemingly insurmountable challenges you face every day? There is no denying that the last few years have taken a toll. But if we rethink how we use the time we have, if we focus on strengthening classroom culture, and if we make the learning journey more transparent—in serving students—there are opportunities for excitement and empowerment. It is possible that Project Based Learning is feasible to apply. Here are three reasons according to James Fester and Erin Starkey why now might be a good time to take a look at Project Based Learning.


courtesy of Yose Hendry



Collaborate

How simple is that? Yes, it's simple when compared to the complexity of learning in your mind. Simple and relaxing. Project-Based Learning is often considered to waste time-consuming to plan or implement. Who has time for that? It sounds tiring before you even get started, so why bother? But if we challenge our assumptions about what Project-Based Learning looks like to be “high quality”, we find that time may not be as big a barrier as it seems. What if you collaborated with a colleague (say you teach English, with them teaching physics or Natural Sciences, Informatics, and Entrepreneurship) to create a large project about proving whether the earth rotates and rotates? You can use the science material as a whole by using the Learning Outcomes of the Science subject. The question arises, then where is your portion as an English teacher and Informatics colleague? Well, you can create conversations and narratives that according to natural law it is not true that the earth rotates and rotates. How about the subject of Informatics? You just have to document using digital records, everything that is possible and worthy for you to make blogs, vlogs, tik tok, youtube, instagram, podcasts, and others. At the end of the project, you can make content to be developed on Entrepreneurship subjects.

Collaborating can not only help ease any of your lesson planning and assessment burdens, but it can also empower students by highlighting how real learning can be. Imagine the impact you will have from collaborating on these four subjects. You can imagine how great Project Based Learning is. The face of learning will be cheerful and fun with a few crunchy challenges. Four subjects worked on a big issue that made the world's eyes open. Collaboration that answers all the questions at the beginning.


Transparency and Responsive

What if your students saw this learning differently and made a lot of changes? So much in the last three years was lost and changed in them. That perception can make learning much more difficult. Project-Based Learning Units can not only empower students but also spark the joy of learning, discovering, and asking questions, which also brings educators much-needed energy. This intentional content connection provides other benefits according to your students.

Integrating concepts gives you more time to explore, manipulate, and question topics. It increases rigor in a way that empowers students, rather than boring, frustrating or burdening them.

courtesy of Yose Hendry

Strengthening School Culture and Functions

Time has always been a challenge, and recently it seems to be getting more acute. Research shows that, on average, you lose about 7–10 minutes of teaching time per day due to common management issues such as off-task behavior and another 6–7 minutes to general distractions such as a phone call or sudden visit by the principal. These lost minutes add up to hours at the end of the month and weeks at the end of the year. However, most project-based teachers don't see distractions or problems as a problem for two important reasons: They tend not to always be central to teaching, and they have a well-known structure for helping students stay engaged.

When classroom norms and expectations are understood—in most cases shared with students—it encourages clarity and acceptance from the start. When students work in collaborative groups, a structure that provides additional support when clarification is needed, they experience individual and team accountability through joint product creation. This grouping is reinforced through teacher-provided tools such as team agreements, work notes, and protocols all of which focus on increasing independence. These tools free you to provide additional support to individual students or to deal with unexpected issues.

Paling Efektif adalah Pembelajaran Berbasis Proyek

Oleh : Donny Boy

 <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>

Courtesy of Yose Hendry

Kenapa Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL) menjadi efektif bagi guru dimasa sekarang? Sebelum masuk kesana saya sarankan pada anda untuk segera tinggalkan gaya pembelajaran lama anda yang sudah basi. Refresh pemikiran anda terutama para guru yang berpikiran skeptis. Kenapa begitu? Tampilan kelas nantinya jadi lebih mandiri  dan pemanfaatan waktu lebih ditekankan. Ini seperti tawaran yang harus anda pilih. Apakah anda akan menanamkan lebih banyak energi dan kegembiraan ke dalam kelas? Faktanya, dalam kelas anda begitu monoton dan membosankan dimana anda adalah pusat proses belajar dan mengajar. Apakah anda akan gunakan pedagogis yang dapat menjadi pendorong  siswa dengan pemikiran kritis? Padahal, anda menjadikan siswa anda pengikut teori teori yang  mereka hafalkan. Apakah anda akan memfasilitasi pembelajaran kolaboratif? Sedangkan, siswa anda adalah objek pembelajaran untuk transferan ilmu pengetahuan. Apakah anda menutup mata dengan era digitalisasi sedang menatap tajam pada anda? Parahnya, siswa anda sedang bersiap, dalam, dan akan kearah era digitalisasi. Semua ini seperti  keledai yang memaksa jadi tunggangan pasukan kavaleri dalam penyerbuan. 

Mustahil kita menunggu petus tungga (petir tunggal) untuk lepas dari gigitan mingkaruang (kadal). Petus yang akan menyelesaikan semua masalah yang diperburuk oleh Covid-19 atau ujian negara. Ada kemungkinan bahwa dengan sedikit kreativitas yang bijaksana, kita dapat mengakhiri tahun akademik ini dengan catatan yang kuat dengan menggunakan Pembelajaran Berbasis Proyek. Harapan ini sering diberhentikan karena dianggap sebagai "hal lain di piring kita yang sudah penuh," tetapi seperti yang dibagikan penulis John Spencer dalam artikelnya "Tujuh Mitos Menjaga Guru Dari Menerapkan Proyek Kreatif," "Ketika saya beralih ke pendekatan , saya menyadari bahwa itu bukan tentang menambahkan Pembelajaran Berbasis Proyek sesuatu yang baru ke piring. Itu tentang menata ulang piring saya.” Tetapi bagaimana rasanya “mengatur ulang piring Anda” dengan cara yang dapat membantu meringankan beberapa tantangan yang tampaknya tidak dapat diatasi yang Anda hadapi setiap hari?
Tidak dapat disangkal bahwa beberapa tahun terakhir ini telah memakan korban. Tetapi jika kita memikirkan kembali bagaimana kita menggunakan waktu yang kita miliki, jika kita fokus pada penguatan budaya kelas, dan jika kita membuat perjalanan belajar lebih transparan—dalam melayani siswa—ada peluang untuk kegembiraan dan pemberdayaan. Ada kemungkinan bahwa Pembelajaran Berbasis Proyek layak diaplikasikan. Berikut adalah tiga alasan menurut James Fester dan Erin Starkey mengapa sekarang mungkin waktu yang tepat untuk melihat Pembelajaran Berbasis Proyek.

Courtesy of Yose Hendry

Berkolaborasi

Sesederhana itukah? Ya, sederhana sekali jika disandingkan dengan kerumitan pembelajaran dalam pikiran anda. Sederhana dan rileks. Pembelajaran Berbasis Proyek sering dianggap terlalu memakan waktu untuk direncanakan atau diimplementasikan. Siapa yang punya waktu untuk itu? Kedengarannya melelahkan bahkan sebelum memulai, jadi mengapa repot-repot? Tetapi jika kita menantang asumsi kita tentang seperti apa tampilan Pembelajaran Berbasis Proyek agar “berkualitas tinggi”, kita menemukan bahwa waktu mungkin bukan penghalang sebesar yang terlihat. Bagaimana jika Anda berkolaborasi dengan tiga orang kolega (misalnya Anda mengajar bahasa Inggris, dengan mereka mengajar fisika atau Ilmu Pengetahuan Alam, Informatika, dan Kewirausahaan) untuk membuat proyek besar tentang pembuktian apakah bumi ini berputar dan berotasi? Anda bisa gunakan materi IPA tadi secara keseluruhan dengan mengunakan Capaian Pembelajaran mata pelajaran IPA tadi. Timbul pertanyaan, lantas porsi anda sebagai guru bahasa Inggris dan teman sejawat Informatika serta Kewirausahaan dimana? Nah, anda bisa buat percakapan dan narasi bahwa secara hukum alam tidak benar bumi ini berputar dan berotasi. Bagaimana dengan mata pelajaran Informatika? Anda tinggal dokumentasikan pakai rekam digital semua yang mungkin dan layak untuk anda jadikan blog, vlog, tik tok, youtube, instagram, podcast dan lain lain.Sedangkan diakhir proyek anda bisa jadikan konten untuk dikembangkan pada mata pelajaran Kewirausahaan.

Berkolaborasi tidak hanya dapat membantu meringankan setiap perencanaan pelajaran dan beban penilaian Anda, tetapi juga dapat memberdayakan siswa dengan menyoroti betapa pembelajaran yang sebenarnya dapat terjadi. Bayangkan dampak yang akan Anda peroleh dari berkolaborasi empat mata pelajaran tadi.Anda dapat bayangkan betapa hebatnya Pembelajaran Berbasis Proyek ini. Wajah pembelajaran akan jadi ceria dan menyenangkan dengan sedikit tantangan yang renyah. Empat mata pelajaran menggarap suatu isu besar yang membulalikkan mata dunia. Kolaborasi yang menjawab semua pertanyaan diawal tadi.

Baca juga:
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/1235067536179417067
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/4668360326170611660
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/974502257813674394


Transparans dan Responsif  

Bagaimana jika siswa anda melihat pembelajaran ini berbeda dan membuat banyak perubahan? Begitu banyak dalam tiga tahun terakhir yang hilang dan berubah pada diri mereka. Persepsi itu dapat membuat belajar jauh lebih sulit. Unit Pembelajaran Berbasis Proyek tidak hanya dapat memberdayakan siswa tetapi juga memicu kegembiraan untuk belajar, menemukan, dan bertanya, yang juga membawa energi yang sangat dibutuhkan pendidik. Koneksi konten yang disengaja ini memberikan manfaat lain sesuai dengan siswa anda.

Dengan mengintegrasikan konsep memberi lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi, memanipulasi, dan mempertanyakan topik. Ini sebenarnya meningkatkan ketelitian dalam cara yang memberdayakan siswa, daripada membosankan, membuat frustrasi, atau membebani mereka. 

Courtesy of Yose Hendry

Memperkuat Budaya Dan Fungsi Sekolah

Waktu selalu menjadi tantangan, dan baru-baru ini tampaknya semakin akut. Penelitian menunjukkan bahwa, rata-rata, Anda kehilangan sekitar 7–10 menit waktu pengajaran per hari karena masalah manajemen umum seperti perilaku di luar tugas dan 6–7 menit lagi karena gangguan umum seperti panggilan telepon atau kunjungan mendadak oleh kepala sekolah. Menit yang hilang ini bertambah menjadi jam pada akhir bulan dan minggu pada akhir tahun. Namun, sebagian besar guru berbasis proyek tidak terlalu menganggap gangguan atau sebagai masalah karena dua alasan penting: Mereka cenderung tidak selalu menjadi pusat pengajaran, dan mereka memiliki struktur yang terkenal untuk membantu siswa tetap terlibat.

Ketika norma dan harapan kelas dipahami—dalam banyak kasus dibuat bersama dengan siswa—hal itu mendorong kejelasan dan penerimaan sejak awal. Ketika siswa bekerja dalam kelompok kolaboratif, sebuah struktur yang memberikan dukungan tambahan ketika klarifikasi diperlukan, mereka mengalami akuntabilitas individu dan tim melalui pembuatan produk bersama. Pengelompokan ini diperkuat melalui alat yang disediakan guru seperti kesepakatan tim, catatan kerja, dan protokol yang semuanya berfokus pada peningkatan kemandirian. Alat-alat ini membebaskan Anda untuk memberikan dukungan tambahan kepada masing-masing siswa atau untuk menangani masalah yang tidak terduga.




Cewangputih adalah blog yang konsern pada masalah pendidikan dan peradaban untuk memperkaya ragam madah pengetahuan. Ingin mendapatkan langsung konten cewangputih jadilah "dunsanak cewangputih" https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g





Kamis, 28 April 2022

Bumi Berputar atau Pikiran Diputar?

Oleh : Donny Boy

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>


Waktu kecil dulu, pernahkah anda main "titiak paniang"?. Permainan ini jarang sekali dimainkan karena akan membuat anda paniang (pening) arah sempoyongan. Anda terlihat seperti orang mabuk berjalan. Bumi yang anda pijak seolah bergerak berputar putar. Anda akan susah berdiri apalagi berjalan. Padahal bumi tenang tenang saja. Biasanya permainan ini adalah hukuman kalau anda kalah dalam permainan tertentu atau permainan lain. Bergerak kah bumi pada waktu itu? Pasti tidak, lalu kenapa anda yang berdiri pada waktu itu paniang dan sempoyongan? Karena yang paniang itu adalah anda yang memainkan permainan ini. Pikiran anda paniang dan sempoyongan padahal bumi  tempat anda  berdiri tenang.

Permainannya sederhana, sesederhana pikiran anda ketika memainkannya. Tangan kiri anda memegang telinga kanan anda dengan melingkar di bawah dagu anda dan mengapit tangan kanan. Setelah itu tangan kanan anda menunjuk pada sebuah titik dan anda berputar 360 derajat searah (terserah mau kekanan atau kekiri). Untuk lebih pas dan terarah, cobalah anda berputar 24 kali/putaran dengan telunjuk anda tetap pada satu titik tadi. Setelah itu lepaskan tangan anda dan cobalah berdiri tegak seperti normal. Cobalah berjalan.  Anda akan katakan pada waktu itu bumi berputar sehingga anda tidak bisa berdiri tegak. Padahal sekali lagi bumi tidak bergerak sedikit pun, anda yang paniang. Selamat mencoba bagi yang belum pernah, tapi jangan lupa anda harus ajak teman anda untuk menyaksikan anda melakukan permainan ini. 

Percayakah anda , kalau bumi tempat anda beraktifitas sekarang ini bergerak berputar terus menerus? Apakah anda juga percaya kalau bumi ini berputar pada sumbunya 24 jam lamanya dalam satu putaran. Apakah anda juga percaya dengan kecepatan putarannya? 1.042 mil per jam, sedangkan 1 mil setara 1,609 km. Berapa kilometer per jam kecepatannya? Anda tinggal kalikan saja angka angka tersebut. Angkanya cukup fantastis 1.676,578 km perjam. Bayangkan kereta api di Indonesia saja kecepatan maksimalnya hanya 120 km/jam. Kalau anda ingin rasakan betapa cepat lesatannya, cobalah berkendaraan sepeda motor atau mobil dengan sehabis habis gas anda tekan. Berapa km/jam anda berani?

Tidak itu saja dan belum apa apa dibandingkan kecepatan tadi. Anda dipaksa percaya melawan akal sehat anda bahwa bumi ini juga berputar mengelilingi matahari selama 365 hari 6jam satu putaran. Ini sekali lagi yang terakhir, percayakah anda berapa kecepatan nya? 65.000 mil per jam. Ambil lah kalkulator anda dan carilah berapa kilometer per jam kecepatannya? Wow, 104.585 km/jam, paniang ndak anda? Data terakhir sampai 28 April 2022 pesawat jet tempur X-15-Mach 6.72 memegang rekor terlesat di dunia 7.274,2 km/jam. Lesatan bumi berputar mengelilingi matahari 14 kali dari jet tercepat tersebut. Sedangkan jarak Padang ke Jakarta via lintas Sumatra 1.343,2 km. Kalau ditarik garis lurus tentu lebih pendek jaraknya. Setara 10 kali bolak balik Padang Jakarta dalam satu jam. 

Percayakah anda dengan data yang dipaksakan anda percaya tanpa menggunakan akal pikiran anda? Sadarkah anda sampai saat ini anda kena prank tanpa pernah berfikir tentang penciptaan langit dan bumi? Renungkan kali ulang dan hinap hinap kan lagi ketika anda sedang di atas jamban BAB di pagi hari, karena saat itulah diri anda sangat dekat dengan pikiran anda. Benarkah bumi ini berputar? Secepat itukah lesatannya? Sandingkan dengan pengalaman main titik paniang diawal. Percayakah anda? Atau anda sedang sempoyongan karena pikiran anda diplintir sehingga anda katakan bumi ini berputar. Parahnya lagi, pikiran anda jadi barbar dan anda katakan teman anda berputar. 


Bumi tidak berputar dan tidak berotasi. Akhirnya, tahukah anda bahwa yang paling susah itu bukan memberitahu seseorang tentang adanya sebuah kebohongan, tapi memberi tahu seseorang bahwa selama ini dia telah dibohongi.



Senin, 25 April 2022

Langkah-langkah dalam Pembelajaran Berbasis Proyek

Oleh Donny Boy, 25 April 2022 

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>


Foto dari Yose Hendry



Apakah anda Calon Guru Penggerak (CGP), Guru Penggerak (GP) atau anda tidak termasuk keduanya? Dan apakah juga sekolah anda adalah Calon Sekolah Penggerak (CSP), Sekolah Penggerak (SP) atau sekolah anda juga tidak bagian dari sekolah diatas? Tahukah anda bahwa selama dua tahun pelajaran kedepan semua sekolah akan melaksanakan Kurikulum Prototipe (KP) sampai semuanya telah jadi "penggerak". Nanti di tahun yang sama semuanya bermetamorfosa menjadi "Kurikulum Merdeka Belajar" (KMB). Anda terpaksa sudah siap dan dipaksa harus siap untuk melaksanakan wajah baru kurikulum ini. Tapi apapun itu metodologi pembelajaran yang digunakan nantinya sebagian besar mengadopsi Pembelajaran Berbasis Proyek. Anda nantinya akan familiar dan terbiasa dengan aliran metode ini.

Menurut Goerge Lucas Foundation ada 3 (tiga) hal penting yang harus anda lakukan untuk mendesain proses belajar mengajar dalam kerangka Pembelajaran Berbasis Proyek. Bagi anda yang masih bingung apa itu Pembelajaran Berbasis Proyek atau bagaimana aplikasi Pembelajaran Berbasis Proyek, anda dapat gunakan ini. Banyak mungkin yang menari nari dalam pikiran anda karena Pembelajaran Berbasis Proyek ini berbeda jauh dengan pengalaman pembelajaran yang pernah anda lakukan selama ini. Anda butuh waktu untuk memahaminya dan bagaimana melakukannya. Skip saja itu semua dulu, perlahan lahan "cewangputih" akan menuntun anda kedalam pemahaman Pembelajaran Berbasis Proyek. Anda cukup melakukan hal simpel sebagai berikut:

                                                            Foto dari Yose Hendry

Sederhanakan pikiran anda ketika anda merancang perencanaan pembelajaran untuk semester atau tahun pembelajaaran nanti. Semua materi sama dan tidak ada yang aneh atau yang baru yang tidak anda kuasai. Tujuan saja yang harus anda pikirkan kearah dunia nyata. Mulailah dengan pertanyaan mendasar. Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan essential yang dapat memberi penugasan kepada siswa anda dalam melakukan suatu aktifitas. Anda harus kaitkan topik penugasan tersebut dengan dunia nyata mereka yang relevan dan bermakna atau bermamfaat bagi siswa anda dengan sebuah investasi mendalam. Dalam sebuah topik materi pembelajaran yang akan anda deliverikan, anda buat list yang menurut anda bermakna bagi siswa anda. Anda juga bisa diskusikan dengan mereka diawal pertemuan setiap topik. Anda tinggal gabungkan list pemikiran anda dengan pemikiran siswa.

Setelah semua list yang relevan tadi anda rangkum, desainlah perencanaan proyek yang akan laksanakan nantinya. Perencanaan pembelajaran ini dilakukan secara kolaboratif dengan siswa anda. Anda juga bisa elaborasikan konsep ini dengan menggandeng guru mata pelajaran lain dan pihak luar sekolah masyarakat dan orang tua siswa.Tapi paling tidak kolaborasi ini cukup antara anda dan siswa anda. Dengan demikian peserta didik diharapkan akan merasa memiliki atas proyek tersebut. Hal ini berdampak kepada antusiasme siswa anda dalam pelaksanaanya. Anda akan dapati suasana baru yang mungkin tidak anda temukan sebelumnya. Perencanaan yang anda buat harus berisi tentang aturan main, pemilihan aktifitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan yang esensial. Semua ini anda lakukan dengan cara menginteraksikan berbagai subjek yang mungkin serta mengetahui alat dan bahan ajar yang dapat diakses untuk membantu dalam penyelesaian proyek.

                                                            Foto dari Yose Hendry

Lalu, susunlah jadwal aktifitas dalam menyelesaikan proyek yang telah anda disain secara kolaboratif tersebut. Aktifitas pada tahap ini antara lain:

  • membuat alokasi waktu untuk menyelesaikan proyek
  • membuat batas waktu akhir penyelesaian proyek
  • membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru
  • membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek
  • meminta peserta didik untuk membuat penjelasan tentang pemilihan suatu cara.

Mata anda akan terbuka mengetahui bahwa sebenarnya Pembelajaran Berbasis Proyek menyenangkan dan akomodatif dengan siswa anda. Anda akan lihat kebinaran mata siswa anda selama pelaksanaan proyek ini. Mulai dari pre, whilst dan post activities. Tapi satu hal dari semua ini adalah anda harus jadi yang pertama membuka alam pikiran anda untuk pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek. Nah, mulai sekarang mulailah anda siapkan pikiran anda kearah gaya kurikulum yang cocok dan pas di masa kekinian ini. Apakah anda tidak kasian pada murid anda ketika anda masih menyeret mereka dengan pendekatan yang tidak sesuai lagi dengan alam pikiran dan gaya kekinian mereka. Cukup anda saja yang berada dalam jurang pemikiran anda dan jangan anda tarik siswa anda yang ingin mendaki keatas jurang.





KOMEN DAN SHARE

Steps to start Project Based Learning


By Donny Boy

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>


Courtesy of Yose Hendry


Are you a Prospective Motivator Teacher, Motivator Teacher, or are you not one of them? And is your school also a Prospective Motivator School, Motivator School or your school is also not part of the above school? Do you know that for the next two academic years all schools will implement the Prototype Curriculum until everything has become the "motivator". Later, at the same year, all of them metamorphosed into "Freedom Learning Curriculum". You are forced to be ready and to implement this new face of the curriculum.  Whatever, the learning methodology will mostly adopted from Project-Based Learning. You will be familiar with the flow of this method later.

According to the "George Lucas Foundation", there are 3 (three) important things that you must do to design the teaching and learning process within the Project-Based Learning framework. They are, "Start with simple questions", "Design a project plan", and "Arrange a schedule of activities". For those, who still confused about what Project-Based Learning is? or how to use Project-Based Learning applications?, you can follow this way. Many things is dancing in your mind because Project-Based Learning is very different from the learning experiences you have or ever done so far. You need time to understand it and how to do it. Just skip it all first, slowly "cewangputih" will lead you into understanding Project-Based Learning. You just need to do something simple as follows:

                                                                   Courtesy of Yose Hendry

Keep your thoughts simple then you design a lesson plan for the next semester or school year. All material is the same and there is nothing strange or new that you are not good at. The only goal you have to think is the real world. Start with the basic questions. Learning begins with essential questions that give assignments to your students in carrying out an activity. You must relate the assignment topic to their real world which is relevant and meaningful or useful for your students life with a deep investment. In a topic of learning material which you will deliver, you make a list that you think is meaningful for your students. You can also discuss with them at the beginning of the meeting each topic. You just combine your list of thoughts with the students thought.

                                                            Courtesy of Yose Hendry

After you have summarized all the relevant lists, design a project plan that will be carried out later. This lesson planning is done collaboratively with your students. You can also elaborate this concept by collaborating with teachers of other subjects and outside the school community and parents. But, at least, this collaboration is sufficient between you and your students. Thus, students are expected to feel ownership of the project. This project has an impact on the enthusiasm of your students within its implementation. You will find a new atmosphere which you may not have found before. The plan you make, must contain the rules of the game, the selection of activities that can support answering the essential questions. You do all of them by interacting with various possible subjects and knowing the tools and teaching materials which are accessible to assist the project completion.

Then, arrange a schedule of activities in completing the project you have designed collaboratively. Activities at this phase include:

  • Allocating time to complete the project
  • Make a deadline for the completion of the project
  • Bring students to plan new ways
  • Guide students as they create ways that are not related to the project
  • Ask students to make an explanation about choosing a method.

Your eyes will be opened knowing that Project Based Learning is actually fun and accommodating to your students. You will see the sparkle in your students' eyes during the implementation of this project. Starting from pre, whilst and post activities. But one thing all of this, you have to be the first one to open your mind in Project Based Learning. From now on, start preparing your mind towards a curriculum style which is suitable and appropriate to modern era. Do you not feel sorry for your students when you are still dragging them with an approach which is no longer in accordance with your nature and contemporary style? It's enough that you are in the abyss of your thoughts and never drag your students who want to climb up the abyss out.



COMMENT AND SHARE

Kesetaraan di Sekolah Dimulai Dengan Mengubah Pola Pikir

 


Equity in Schools Begins With Changing Mindsets

A new book explores how school leaders can foster equity by building a culture where teachers and students see their purpose and experience success.


By Manya Whitaker April 12, 2022


Variabel tunggal yang paling memprediksi rasa memiliki siswa adalah hubungan mereka dengan guru. Ini lebih penting daripada ras, status sosial ekonomi, prestasi akademik, dan hubungan mereka dengan teman sebaya. Hubungan guru-murid yang kuat dapat mengurangi efek kumulatif dari perilaku buruk, sikap apatis, dan kegagalan karena hubungan guru-murid yang buruk. Dengan meningkatkan motivasi siswa, keterlibatan, pengaturan diri akademik, dan pencapaian keseluruhan, hubungan guru-siswa menawarkan sekolah kesempatan terus-menerus untuk mendukung pembelajaran siswa.

Dukungan tersebut bersifat interpersonal dan instruksional. Wawancara kualitatif mengungkapkan preferensi siswa untuk guru yang menghormati mereka (yaitu, tidak berteriak, mengucapkan nama mereka dengan benar), mempercayai mereka, dan tidak mengawasi perilaku kecil (misalnya, kepala di atas meja, duduk menyamping di kursi). Mereka suka ketika guru berinisiatif membantu sehingga mereka tidak perlu bertanya dan mengambil risiko malu di depan teman-temannya. Ketika mereka berkinerja baik, mereka mengharapkan umpan balik positif. Ketika mereka tidak melakukannya dengan baik, mereka menghargai guru yang mengomunikasikan tentang kemajuan mereka dan menawarkan kesempatan untuk meningkatkan.

Guru yang gagal untuk berhubungan dengan siswa secara interpersonal atau instruksional mungkin terlepas dari peran guru mereka. Sementara guru melaporkan meninggalkan sekolah karena kurangnya kepemimpinan administratif, mereka juga melaporkan ketidakpuasan kerja karena siswa. Keterlambatan siswa, ketidakhadiran siswa, pemotongan kelas, siswa putus sekolah, kesehatan siswa yang buruk, dan sikap apatis siswa berkontribusi pada kurangnya semangat profesional guru. Faktor-faktor ini diperparah oleh keluhan guru tentang kemiskinan yang tinggi dan keterlibatan keluarga yang rendah. Ini bukan untuk mengatakan bahwa siswa dari komunitas yang kurang terlayani tidak akan pernah mengalami rasa memiliki yang kuat. Sebaliknya, siswa yang sekolahnya berkomitmen pada inklusi secara alami akan merasa disambut dan dihargai.


EKUITAS FRAMING

Menumbuhkan iklim sekolah untuk kesetaraan membutuhkan perhatian yang cermat terhadap penciptaan ruang emosional, kognitif, dan perilaku di seluruh sekolah. Penting untuk memikirkan iklim melalui tiga lensa (L.S. Shulman, “Signature Pedagogies in the Professions,” 2005):

  • Kebiasaan hati—nilai-nilai inti; kenapa kamu mengajar
  • Kebiasaan kepala—cara berpikir dan mengetahui; apa yang kamu percaya?
  • Kebiasaan tangan—apa yang Anda lakukan; bagaimana Anda mempraktikkan nilai dan keyakinan Anda?

Kebiasaan ini akan diberlakukan secara berbeda melalui interaksi dengan siswa versus staf, tetapi untuk masing-masing, tujuannya adalah untuk mendorong motivasi mereka untuk melakukan yang terbaik dari kemampuan mereka dengan menciptakan lingkungan yang mereka inginkan, di mana mereka melihat tujuan keberadaan, dan di mana mereka mengalami kesuksesan. Sebuah teori motivasi nilai harapan (J. Eccles et al., “Harapan, Nilai, dan Perilaku Akademik,” 1983) menawarkan empat saran untuk meningkatkan motivasi intrinsik:

1. Ciptakan ruang di mana orang menikmati diri mereka sendiri dan dapat melakukan hal-hal yang menarik minat mereka. Bagi siswa, ini berarti berbagai pilihan kursus, berbagai kegiatan ekstrakurikuler, dan pengalaman belajar langsung yang inovatif. Bagi guru, ini mungkin berarti variasi dalam tugas mengajar, pengambilan keputusan yang mandiri, dan kesempatan untuk mengembangkan kelas baru.

2. Pertahankan visi dan misi Anda yang berfokus pada kesetaraan sebagai inti dari fungsi sekolah. Komunikasikan visi Anda dengan jelas dan konsisten dan jelaskan bagaimana setiap keputusan berkontribusi pada realisasi visi. Kuncinya di sini adalah transparansi dan kejujuran saat menjelaskan kegunaan tugas atau kelas tertentu kepada siswa, dan kebijakan baru kepada staf.

3. Tegaskan kontribusi semua orang untuk komunitas sekolah. Ini bisa meminta siswa untuk memfasilitasi pelajaran atau menjadi mentor sebaya. Anda dapat mengundang staf untuk memimpin inisiatif atau mempromosikan mereka ke posisi baru.

4. Minimalkan biaya emosional dengan memastikan bahwa harapan peran masuk akal (yaitu, bahwa hasilnya akan sepadan dengan usaha), bahwa mereka memberikan waktu untuk tugas-tugas menyenangkan lainnya, dan bahwa mereka tidak menimbulkan emosi negatif. Siswa dan staf tidak boleh diberi kesibukan, terlalu banyak bekerja, atau diminta melakukan hal-hal yang tidak mampu mereka lakukan.

Masing-masing berkontribusi pada iklim sekolah yang positif karena mengakui dan memanfaatkan individualitas, mengakui prestasi, dan mendorong keterlibatan terus-menerus dalam komunitas sekolah. Para pemimpin sekolah dapat secara keliru menempatkan iklim pada autopilot dengan berpikir bahwa itu akan berjalan dengan sendirinya begitu orang memahami peran mereka dan diberi naskah mereka. Namun iklim sekolah bersifat dinamis, terbuka terhadap pengaruh dari berbagai sumber, sehingga harus secara konsisten dipantau dan disesuaikan. Yang terpenting, karena sebagian besar orang yang membentuk dan dibentuk oleh iklim sekolah, mereka juga harus dibina.


KEBIJAKAN SEKOLAH

Percakapan tentang pemerataan pendidikan dimulai dengan kebijakan karena kebijakan menentukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh di sekolah. Banyak pendidik, siswa, dan keluarga menafsirkan kebijakan seolah-olah itu adalah undang-undang, padahal sebenarnya tidak. Kebijakan adalah pedoman yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Mereka ditentukan secara lokal dan dilaksanakan atas kebijaksanaan pembuat keputusan yang relevan. . Pemimpin sekolah memiliki fleksibilitas tentang kapan dan bagaimana menerapkan kebijakan daerah.

Masalah dengan kebijakan adalah bahwa mereka ditulis sebagai pedoman satu ukuran untuk semua, yang, meskipun setara, tidak adil. Ketidaksetaraan diperburuk oleh penerapan kebijakan yang tidak konsisten oleh staf sekolah sehingga bias implisit dan prasangka eksplisit berarti beberapa siswa secara tidak proporsional tunduk pada kebijakan sekolah sedangkan yang lain tidak. Kebijakan yang paling sering dikutip yang ditegakkan secara tidak adil adalah kebijakan disiplin sekolah tanpa toleransi. kulit putih.

Penting untuk ditekankan bahwa kebijakan disiplin itu sendiri tidak secara otomatis tidak adil. Implementasi yang bias inilah yang menciptakan kesenjangan disiplin yang menopang kesenjangan peluang. Ini berlaku untuk sebagian besar kebijakan pendidikan, terutama kebijakan akademik. Misalnya, pelacakan dan penyortiran mendikte peluang siswa untuk belajar (OTL) dengan menempatkan mereka di jalur pendidikan yang membatasi kursus di mana mereka dapat mendaftar di masa depan. Keberadaan mata kuliah akademik dengan tingkat ketelitian yang bervariasi tidak dengan sendirinya bermasalah. Masalahnya terletak pada bagaimana siswa ditempatkan ke dalam kursus tertentu.


<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362" crossorigin="anonymous"></script>


Ikon Diverifikasi Komunitas

Minggu, 24 April 2022

Strategi Scaffolding untuk Digunakan Bersama Siswa Anda

 


6 Scaffolding Strategies to Use With Your Students

Support every student by breaking learning up into chunks and providing a concrete structure for each.

By Rebecca Alber May 24, 2011 Updated January 24, 2014


Apa kebalikan dari scaffolding pelajaran? Mengatakan kepada siswa, "Baca artikel sains sembilan halaman ini, tulis esai terperinci tentang topik yang dieksplorasi, dan serahkan pada hari Rabu." Astaga! Tidak ada jaring pengaman, tidak ada parasut—mereka hanya dibiarkan menggunakan perangkat mereka sendiri.

Mari kita mulai dengan menyetujui bahwa scaffolding pelajaran dan instruksi pembeda adalah dua hal yang berbeda. Scaffolding adalah memecah pembelajaran menjadi potongan-potongan dan menyediakan alat, atau struktur, dengan setiap potongan. Saat membaca perancah, misalnya, Anda dapat melihat pratinjau teks dan mendiskusikan kosa kata kunci, atau memotong teks dan kemudian membaca dan berdiskusi sambil jalan. Dengan diferensiasi, Anda dapat memberi anak bagian teks yang sama sekali berbeda untuk dibaca, atau mempersingkat teks atau mengubahnya, atau memodifikasi tugas menulis berikutnya.

Sederhananya, perancah adalah apa yang Anda lakukan pertama kali dengan anak-anak. Bagi siswa yang masih kesulitan, Anda mungkin perlu membedakan dengan memodifikasi tugas atau membuat akomodasi seperti memilih teks yang lebih mudah diakses atau memberikan proyek alternatif.

Scaffolding dan diferensiasi memang memiliki kesamaan. Untuk menemui siswa di mana mereka berada dan dengan tepat menyusun pelajaran atau membedakan instruksi, Anda harus mengetahui zona perkembangan proksimal (ZPD) individu dan kolektif dari peserta didik Anda. Peneliti pendidikan Eileen Raymond mengatakan, “ZPD adalah jarak antara apa yang dapat dilakukan anak-anak sendiri dan pembelajaran berikutnya yang dapat mereka capai dengan bantuan yang kompeten.”

Jadi, mari kita membahas beberapa strategi scaffolding yang mungkin atau mungkin belum Anda coba. Atau mungkin Anda sudah lama tidak menggunakannya dan membutuhkan pengingat yang lembut tentang betapa hebat dan bermanfaatnya mereka dalam hal pembelajaran siswa.


1. TUNJUKKAN DAN KATAKAN

Berapa banyak dari kita yang mengatakan bahwa kita belajar paling baik dengan melihat sesuatu daripada mendengarnya? Pemodelan untuk siswa adalah landasan perancah, menurut pengalaman saya. Pernahkah Anda menyela seseorang dengan "Tunjukkan saja!" sementara mereka sedang menjelaskan bagaimana melakukan sesuatu? Setiap kesempatan yang Anda miliki, tunjukkan atau tunjukkan kepada siswa persis apa yang diharapkan untuk mereka lakukan.

  • Cobalah aktivitas fishbowl, di mana sekelompok kecil di tengah dilingkari oleh seluruh kelas; kelompok di tengah, atau fishbowl, terlibat dalam suatu kegiatan, mencontohkan bagaimana hal itu dilakukan untuk kelompok yang lebih besar.
  • Selalu tunjukkan kepada siswa hasil atau produk sebelum mereka melakukannya. Jika seorang guru memberikan esai persuasif atau proyek sains berbasis inkuiri, sebuah model harus disajikan berdampingan dengan bagan atau rubrik kriteria. Anda dapat membimbing siswa melalui setiap langkah proses dengan model produk jadi di tangan.
  • Gunakan think alouds, yang akan memungkinkan Anda untuk memodelkan proses berpikir Anda saat Anda membaca teks, memecahkan masalah, atau merancang sebuah proyek. Ingatlah bahwa kemampuan kognitif anak-anak masih dalam perkembangan, jadi kesempatan bagi mereka untuk melihat perkembangan, pemikiran kritis sangat penting


2. KETAHUI PENGETAHUAN SEBELUMNYA

Mintalah siswa untuk berbagi pengalaman, firasat, dan ide mereka sendiri tentang konten atau konsep pembelajaran dan minta mereka menghubungkan dan menghubungkannya dengan kehidupan mereka sendiri. Kadang-kadang Anda mungkin harus menawarkan petunjuk dan saran, mengarahkan mereka ke koneksi sedikit, tapi begitu mereka sampai di sana, mereka akan memahami konten sebagai milik mereka.

Meluncurkan pembelajaran di kelas Anda dari pengetahuan sebelumnya siswa Anda dan menggunakan ini sebagai kerangka kerja untuk pelajaran di masa depan bukan hanya teknik scaffolding—banyak yang akan setuju bahwa ini hanyalah pengajaran yang bagus.


3. BERI WAKTU UNTUK BERBICARA

Semua pembelajar membutuhkan waktu untuk memproses ide dan informasi baru. Mereka juga membutuhkan waktu untuk secara verbal memahami dan mengartikulasikan pembelajaran mereka dengan komunitas pelajar yang terlibat dalam pengalaman dan perjalanan yang sama. Seperti yang kita semua tahu, diskusi terstruktur benar-benar bekerja paling baik dengan anak-anak terlepas dari tingkat kematangan mereka.

Jika Anda tidak terlibat dalam tim think-pair-share, turn-and-talk, triad, atau waktu bicara terstruktur lainnya sepanjang pelajaran, Anda harus mulai memasukkan strategi penting ini secara teratur.


4. KATA PRA-PENGAJAR

Kadang-kadang disebut sebagai kosakata front-loading, ini adalah strategi yang kami guru tidak cukup gunakan. Banyak dari kita, termasuk saya sendiri, bersalah karena mengirim siswa sendirian ke jalan bergelombang dan berlumpur yang dikenal sebagai Teks Menantang—sebuah jalan yang penuh dengan kosa kata yang sulit. Kami mengirim mereka tidak siap dan kemudian sering terkejut ketika mereka kehilangan minat, membuat keributan, atau tertidur.

Kosakata pra-pengajaran tidak berarti menarik selusin kata dari bab dan meminta anak-anak mencari definisi dan menuliskannya — kita semua tahu bagaimana hasilnya. Sebaliknya, perkenalkan kata-kata itu kepada anak-anak dalam foto atau dalam konteks dengan hal-hal yang mereka ketahui dan minati. Gunakan analogi dan metafora, dan undang siswa untuk membuat simbol atau gambar untuk setiap kata. Berikan waktu untuk diskusi kelompok kecil dan seluruh kelas tentang kata-kata tersebut. Tidak sampai mereka melakukan semua ini, kamus akan keluar. Dan kamus hanya akan digunakan untuk membandingkan dengan definisi yang telah mereka temukan sendiri.

Dengan selusin kata yang dimuat sebelumnya, siswa siap, dengan Anda sebagai pemandu mereka, untuk menangani teks yang menantang itu.

5. GUNAKAN AIDS VISUAL

Penyelenggara grafis, gambar, dan bagan semuanya dapat berfungsi sebagai alat perancah. Organizer grafis sangat spesifik karena membantu anak-anak secara visual mewakili ide-ide mereka, mengatur informasi, dan memahami konsep-konsep seperti pengurutan dan sebab dan akibat.

Pengatur grafik seharusnya tidak menjadi Produk melainkan alat perancah yang membantu membimbing dan membentuk pemikiran siswa. Beberapa siswa dapat langsung berdiskusi, atau menulis esai, atau mensintesis beberapa hipotesis yang berbeda, tanpa menggunakan semacam pengatur grafik, tetapi banyak siswa kami mendapat manfaat dari menggunakannya dengan bacaan yang sulit atau informasi baru yang menantang. Pikirkan penyelenggara grafis sebagai roda pelatihan—mereka bersifat sementara dan dimaksudkan untuk dihapus.


6. JEDA, AJUKAN PERTANYAAN, JEDA, TINJAUAN

Ini adalah cara yang bagus untuk memeriksa pemahaman saat siswa membaca sepotong teks yang sulit atau mempelajari konsep atau konten baru. Begini cara kerja strategi ini: Bagikan ide baru dari diskusi atau bacaan, lalu jeda (memberikan waktu berpikir), lalu ajukan pertanyaan strategis, jeda lagi.

Anda perlu merancang pertanyaan sebelumnya, memastikan pertanyaan itu spesifik, membimbing, dan terbuka. (Bahkan pertanyaan yang bagus pun gagal jika kita tidak memberikan waktu berpikir untuk merespons, jadi bertahanlah selama Keheningan yang Tidak Nyaman itu.) Pertahankan keterlibatan anak-anak sebagai pendengar aktif dengan meminta seseorang untuk memberikan intisari dari apa yang baru saja didiskusikan, ditemukan, atau dipertanyakan. Jika kelas tampak terjebak pada pertanyaan, berikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi secara berpasangan.

Dengan semua pelajar yang beragam di kelas kami, ada kebutuhan yang kuat bagi guru untuk belajar dan bereksperimen dengan strategi scaffolding baru. Saya sering mengatakan kepada guru saya mendukung bahwa mereka harus memperlambat untuk pergi dengan cepat. Perancah sebuah pelajaran mungkin, pada kenyataannya, berarti membutuhkan waktu lebih lama untuk mengajar, tetapi produk akhirnya memiliki kualitas yang jauh lebih besar dan pengalaman yang jauh lebih bermanfaat bagi semua yang terlibat.

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362" crossorigin="anonymous"></script>

Jika menurut anda orang lain perlu tahu tentang artikel ini silahkan sebarkan dengan kekuatan medsos yang anda miliki


Ikon Diverifikasi Komunitas
Ikon Diverifikasi Komunitas