By Donny Boy
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"
![]() |
| courtesy of Yose Hendry |
By Donny Boy
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"
![]() |
| courtesy of Yose Hendry |
Oleh : Donny Boy
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"
Cewangputih adalah blog yang konsern pada masalah pendidikan dan peradaban untuk memperkaya ragam madah pengetahuan. Ingin mendapatkan langsung konten cewangputih jadilah "dunsanak cewangputih" https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g
Oleh : Donny Boy
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"
Waktu kecil dulu, pernahkah anda main "titiak paniang"?. Permainan ini jarang sekali dimainkan karena akan membuat anda paniang (pening) arah sempoyongan. Anda terlihat seperti orang mabuk berjalan. Bumi yang anda pijak seolah bergerak berputar putar. Anda akan susah berdiri apalagi berjalan. Padahal bumi tenang tenang saja. Biasanya permainan ini adalah hukuman kalau anda kalah dalam permainan tertentu atau permainan lain. Bergerak kah bumi pada waktu itu? Pasti tidak, lalu kenapa anda yang berdiri pada waktu itu paniang dan sempoyongan? Karena yang paniang itu adalah anda yang memainkan permainan ini. Pikiran anda paniang dan sempoyongan padahal bumi tempat anda berdiri tenang.
Permainannya sederhana, sesederhana pikiran anda ketika memainkannya. Tangan kiri anda memegang telinga kanan anda dengan melingkar di bawah dagu anda dan mengapit tangan kanan. Setelah itu tangan kanan anda menunjuk pada sebuah titik dan anda berputar 360 derajat searah (terserah mau kekanan atau kekiri). Untuk lebih pas dan terarah, cobalah anda berputar 24 kali/putaran dengan telunjuk anda tetap pada satu titik tadi. Setelah itu lepaskan tangan anda dan cobalah berdiri tegak seperti normal. Cobalah berjalan. Anda akan katakan pada waktu itu bumi berputar sehingga anda tidak bisa berdiri tegak. Padahal sekali lagi bumi tidak bergerak sedikit pun, anda yang paniang. Selamat mencoba bagi yang belum pernah, tapi jangan lupa anda harus ajak teman anda untuk menyaksikan anda melakukan permainan ini.
Percayakah anda , kalau bumi tempat anda beraktifitas sekarang ini bergerak berputar terus menerus? Apakah anda juga percaya kalau bumi ini berputar pada sumbunya 24 jam lamanya dalam satu putaran. Apakah anda juga percaya dengan kecepatan putarannya? 1.042 mil per jam, sedangkan 1 mil setara 1,609 km. Berapa kilometer per jam kecepatannya? Anda tinggal kalikan saja angka angka tersebut. Angkanya cukup fantastis 1.676,578 km perjam. Bayangkan kereta api di Indonesia saja kecepatan maksimalnya hanya 120 km/jam. Kalau anda ingin rasakan betapa cepat lesatannya, cobalah berkendaraan sepeda motor atau mobil dengan sehabis habis gas anda tekan. Berapa km/jam anda berani?
Tidak itu saja dan belum apa apa dibandingkan kecepatan tadi. Anda dipaksa percaya melawan akal sehat anda bahwa bumi ini juga berputar mengelilingi matahari selama 365 hari 6jam satu putaran. Ini sekali lagi yang terakhir, percayakah anda berapa kecepatan nya? 65.000 mil per jam. Ambil lah kalkulator anda dan carilah berapa kilometer per jam kecepatannya? Wow, 104.585 km/jam, paniang ndak anda? Data terakhir sampai 28 April 2022 pesawat jet tempur X-15-Mach 6.72 memegang rekor terlesat di dunia 7.274,2 km/jam. Lesatan bumi berputar mengelilingi matahari 14 kali dari jet tercepat tersebut. Sedangkan jarak Padang ke Jakarta via lintas Sumatra 1.343,2 km. Kalau ditarik garis lurus tentu lebih pendek jaraknya. Setara 10 kali bolak balik Padang Jakarta dalam satu jam.
Percayakah anda dengan data yang dipaksakan anda percaya tanpa menggunakan akal pikiran anda? Sadarkah anda sampai saat ini anda kena prank tanpa pernah berfikir tentang penciptaan langit dan bumi? Renungkan kali ulang dan hinap hinap kan lagi ketika anda sedang di atas jamban BAB di pagi hari, karena saat itulah diri anda sangat dekat dengan pikiran anda. Benarkah bumi ini berputar? Secepat itukah lesatannya? Sandingkan dengan pengalaman main titik paniang diawal. Percayakah anda? Atau anda sedang sempoyongan karena pikiran anda diplintir sehingga anda katakan bumi ini berputar. Parahnya lagi, pikiran anda jadi barbar dan anda katakan teman anda berputar.
Oleh Donny Boy, 25 April 2022
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"
crossorigin="anonymous"></script>
Apakah anda Calon Guru Penggerak (CGP), Guru Penggerak (GP) atau anda tidak termasuk keduanya? Dan apakah juga sekolah anda adalah Calon Sekolah Penggerak (CSP), Sekolah Penggerak (SP) atau sekolah anda juga tidak bagian dari sekolah diatas? Tahukah anda bahwa selama dua tahun pelajaran kedepan semua sekolah akan melaksanakan Kurikulum Prototipe (KP) sampai semuanya telah jadi "penggerak". Nanti di tahun yang sama semuanya bermetamorfosa menjadi "Kurikulum Merdeka Belajar" (KMB). Anda terpaksa sudah siap dan dipaksa harus siap untuk melaksanakan wajah baru kurikulum ini. Tapi apapun itu metodologi pembelajaran yang digunakan nantinya sebagian besar mengadopsi Pembelajaran Berbasis Proyek. Anda nantinya akan familiar dan terbiasa dengan aliran metode ini.
Menurut Goerge Lucas Foundation ada 3 (tiga) hal penting yang harus anda lakukan untuk mendesain proses belajar mengajar dalam kerangka Pembelajaran Berbasis Proyek. Bagi anda yang masih bingung apa itu Pembelajaran Berbasis Proyek atau bagaimana aplikasi Pembelajaran Berbasis Proyek, anda dapat gunakan ini. Banyak mungkin yang menari nari dalam pikiran anda karena Pembelajaran Berbasis Proyek ini berbeda jauh dengan pengalaman pembelajaran yang pernah anda lakukan selama ini. Anda butuh waktu untuk memahaminya dan bagaimana melakukannya. Skip saja itu semua dulu, perlahan lahan "cewangputih" akan menuntun anda kedalam pemahaman Pembelajaran Berbasis Proyek. Anda cukup melakukan hal simpel sebagai berikut:
Foto dari Yose HendrySederhanakan pikiran anda ketika anda merancang perencanaan pembelajaran untuk semester atau tahun pembelajaaran nanti. Semua materi sama dan tidak ada yang aneh atau yang baru yang tidak anda kuasai. Tujuan saja yang harus anda pikirkan kearah dunia nyata. Mulailah dengan pertanyaan mendasar. Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan essential yang dapat memberi penugasan kepada siswa anda dalam melakukan suatu aktifitas. Anda harus kaitkan topik penugasan tersebut dengan dunia nyata mereka yang relevan dan bermakna atau bermamfaat bagi siswa anda dengan sebuah investasi mendalam. Dalam sebuah topik materi pembelajaran yang akan anda deliverikan, anda buat list yang menurut anda bermakna bagi siswa anda. Anda juga bisa diskusikan dengan mereka diawal pertemuan setiap topik. Anda tinggal gabungkan list pemikiran anda dengan pemikiran siswa.
Setelah semua list yang relevan tadi anda rangkum, desainlah perencanaan proyek yang akan laksanakan nantinya. Perencanaan pembelajaran ini dilakukan secara kolaboratif dengan siswa anda. Anda juga bisa elaborasikan konsep ini dengan menggandeng guru mata pelajaran lain dan pihak luar sekolah masyarakat dan orang tua siswa.Tapi paling tidak kolaborasi ini cukup antara anda dan siswa anda. Dengan demikian peserta didik diharapkan akan merasa memiliki atas proyek tersebut. Hal ini berdampak kepada antusiasme siswa anda dalam pelaksanaanya. Anda akan dapati suasana baru yang mungkin tidak anda temukan sebelumnya. Perencanaan yang anda buat harus berisi tentang aturan main, pemilihan aktifitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan yang esensial. Semua ini anda lakukan dengan cara menginteraksikan berbagai subjek yang mungkin serta mengetahui alat dan bahan ajar yang dapat diakses untuk membantu dalam penyelesaian proyek.
Foto dari Yose HendryLalu, susunlah jadwal aktifitas dalam menyelesaikan proyek yang telah anda disain secara kolaboratif tersebut. Aktifitas pada tahap ini antara lain:
Mata anda akan terbuka mengetahui bahwa sebenarnya Pembelajaran Berbasis Proyek menyenangkan dan akomodatif dengan siswa anda. Anda akan lihat kebinaran mata siswa anda selama pelaksanaan proyek ini. Mulai dari pre, whilst dan post activities. Tapi satu hal dari semua ini adalah anda harus jadi yang pertama membuka alam pikiran anda untuk pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek. Nah, mulai sekarang mulailah anda siapkan pikiran anda kearah gaya kurikulum yang cocok dan pas di masa kekinian ini. Apakah anda tidak kasian pada murid anda ketika anda masih menyeret mereka dengan pendekatan yang tidak sesuai lagi dengan alam pikiran dan gaya kekinian mereka. Cukup anda saja yang berada dalam jurang pemikiran anda dan jangan anda tarik siswa anda yang ingin mendaki keatas jurang.
KOMEN DAN SHARE
By Donny Boy
Are you a Prospective Motivator Teacher, Motivator Teacher, or are you not one of them? And is your school also a Prospective Motivator School, Motivator School or your school is also not part of the above school? Do you know that for the next two academic years all schools will implement the Prototype Curriculum until everything has become the "motivator". Later, at the same year, all of them metamorphosed into "Freedom Learning Curriculum". You are forced to be ready and to implement this new face of the curriculum. Whatever, the learning methodology will mostly adopted from Project-Based Learning. You will be familiar with the flow of this method later.
According to the "George Lucas Foundation", there are 3 (three) important things that you must do to design the teaching and learning process within the Project-Based Learning framework. They are, "Start with simple questions", "Design a project plan", and "Arrange a schedule of activities". For those, who still confused about what Project-Based Learning is? or how to use Project-Based Learning applications?, you can follow this way. Many things is dancing in your mind because Project-Based Learning is very different from the learning experiences you have or ever done so far. You need time to understand it and how to do it. Just skip it all first, slowly "cewangputih" will lead you into understanding Project-Based Learning. You just need to do something simple as follows:
Courtesy of Yose HendryKeep your thoughts simple then you design a lesson plan for the next semester or school year. All material is the same and there is nothing strange or new that you are not good at. The only goal you have to think is the real world. Start with the basic questions. Learning begins with essential questions that give assignments to your students in carrying out an activity. You must relate the assignment topic to their real world which is relevant and meaningful or useful for your students life with a deep investment. In a topic of learning material which you will deliver, you make a list that you think is meaningful for your students. You can also discuss with them at the beginning of the meeting each topic. You just combine your list of thoughts with the students thought.
Courtesy of Yose HendryAfter you have summarized all the relevant lists, design a project plan that will be carried out later. This lesson planning is done collaboratively with your students. You can also elaborate this concept by collaborating with teachers of other subjects and outside the school community and parents. But, at least, this collaboration is sufficient between you and your students. Thus, students are expected to feel ownership of the project. This project has an impact on the enthusiasm of your students within its implementation. You will find a new atmosphere which you may not have found before. The plan you make, must contain the rules of the game, the selection of activities that can support answering the essential questions. You do all of them by interacting with various possible subjects and knowing the tools and teaching materials which are accessible to assist the project completion.
Then, arrange a schedule of activities in completing the project you have designed collaboratively. Activities at this phase include:
Your eyes will be opened knowing that Project Based Learning is actually fun and accommodating to your students. You will see the sparkle in your students' eyes during the implementation of this project. Starting from pre, whilst and post activities. But one thing all of this, you have to be the first one to open your mind in Project Based Learning. From now on, start preparing your mind towards a curriculum style which is suitable and appropriate to modern era. Do you not feel sorry for your students when you are still dragging them with an approach which is no longer in accordance with your nature and contemporary style? It's enough that you are in the abyss of your thoughts and never drag your students who want to climb up the abyss out.
COMMENT AND SHARE
A new book explores how school leaders can foster equity by building a culture where teachers and students see their purpose and experience success.
By Manya Whitaker April 12, 2022
Variabel tunggal yang paling memprediksi rasa memiliki siswa adalah hubungan mereka dengan guru. Ini lebih penting daripada ras, status sosial ekonomi, prestasi akademik, dan hubungan mereka dengan teman sebaya. Hubungan guru-murid yang kuat dapat mengurangi efek kumulatif dari perilaku buruk, sikap apatis, dan kegagalan karena hubungan guru-murid yang buruk. Dengan meningkatkan motivasi siswa, keterlibatan, pengaturan diri akademik, dan pencapaian keseluruhan, hubungan guru-siswa menawarkan sekolah kesempatan terus-menerus untuk mendukung pembelajaran siswa.
Dukungan tersebut bersifat interpersonal dan instruksional. Wawancara kualitatif mengungkapkan preferensi siswa untuk guru yang menghormati mereka (yaitu, tidak berteriak, mengucapkan nama mereka dengan benar), mempercayai mereka, dan tidak mengawasi perilaku kecil (misalnya, kepala di atas meja, duduk menyamping di kursi). Mereka suka ketika guru berinisiatif membantu sehingga mereka tidak perlu bertanya dan mengambil risiko malu di depan teman-temannya. Ketika mereka berkinerja baik, mereka mengharapkan umpan balik positif. Ketika mereka tidak melakukannya dengan baik, mereka menghargai guru yang mengomunikasikan tentang kemajuan mereka dan menawarkan kesempatan untuk meningkatkan.
Guru yang gagal untuk berhubungan dengan siswa secara interpersonal atau instruksional mungkin terlepas dari peran guru mereka. Sementara guru melaporkan meninggalkan sekolah karena kurangnya kepemimpinan administratif, mereka juga melaporkan ketidakpuasan kerja karena siswa. Keterlambatan siswa, ketidakhadiran siswa, pemotongan kelas, siswa putus sekolah, kesehatan siswa yang buruk, dan sikap apatis siswa berkontribusi pada kurangnya semangat profesional guru. Faktor-faktor ini diperparah oleh keluhan guru tentang kemiskinan yang tinggi dan keterlibatan keluarga yang rendah. Ini bukan untuk mengatakan bahwa siswa dari komunitas yang kurang terlayani tidak akan pernah mengalami rasa memiliki yang kuat. Sebaliknya, siswa yang sekolahnya berkomitmen pada inklusi secara alami akan merasa disambut dan dihargai.
EKUITAS FRAMING
Menumbuhkan iklim sekolah untuk kesetaraan membutuhkan perhatian yang cermat terhadap penciptaan ruang emosional, kognitif, dan perilaku di seluruh sekolah. Penting untuk memikirkan iklim melalui tiga lensa (L.S. Shulman, “Signature Pedagogies in the Professions,” 2005):
Kebiasaan ini akan diberlakukan secara berbeda melalui interaksi dengan siswa versus staf, tetapi untuk masing-masing, tujuannya adalah untuk mendorong motivasi mereka untuk melakukan yang terbaik dari kemampuan mereka dengan menciptakan lingkungan yang mereka inginkan, di mana mereka melihat tujuan keberadaan, dan di mana mereka mengalami kesuksesan. Sebuah teori motivasi nilai harapan (J. Eccles et al., “Harapan, Nilai, dan Perilaku Akademik,” 1983) menawarkan empat saran untuk meningkatkan motivasi intrinsik:
1. Ciptakan ruang di mana orang menikmati diri mereka sendiri dan dapat melakukan hal-hal yang menarik minat mereka. Bagi siswa, ini berarti berbagai pilihan kursus, berbagai kegiatan ekstrakurikuler, dan pengalaman belajar langsung yang inovatif. Bagi guru, ini mungkin berarti variasi dalam tugas mengajar, pengambilan keputusan yang mandiri, dan kesempatan untuk mengembangkan kelas baru.
2. Pertahankan visi dan misi Anda yang berfokus pada kesetaraan sebagai inti dari fungsi sekolah. Komunikasikan visi Anda dengan jelas dan konsisten dan jelaskan bagaimana setiap keputusan berkontribusi pada realisasi visi. Kuncinya di sini adalah transparansi dan kejujuran saat menjelaskan kegunaan tugas atau kelas tertentu kepada siswa, dan kebijakan baru kepada staf.
3. Tegaskan kontribusi semua orang untuk komunitas sekolah. Ini bisa meminta siswa untuk memfasilitasi pelajaran atau menjadi mentor sebaya. Anda dapat mengundang staf untuk memimpin inisiatif atau mempromosikan mereka ke posisi baru.
4. Minimalkan biaya emosional dengan memastikan bahwa harapan peran masuk akal (yaitu, bahwa hasilnya akan sepadan dengan usaha), bahwa mereka memberikan waktu untuk tugas-tugas menyenangkan lainnya, dan bahwa mereka tidak menimbulkan emosi negatif. Siswa dan staf tidak boleh diberi kesibukan, terlalu banyak bekerja, atau diminta melakukan hal-hal yang tidak mampu mereka lakukan.
Masing-masing berkontribusi pada iklim sekolah yang positif karena mengakui dan memanfaatkan individualitas, mengakui prestasi, dan mendorong keterlibatan terus-menerus dalam komunitas sekolah. Para pemimpin sekolah dapat secara keliru menempatkan iklim pada autopilot dengan berpikir bahwa itu akan berjalan dengan sendirinya begitu orang memahami peran mereka dan diberi naskah mereka. Namun iklim sekolah bersifat dinamis, terbuka terhadap pengaruh dari berbagai sumber, sehingga harus secara konsisten dipantau dan disesuaikan. Yang terpenting, karena sebagian besar orang yang membentuk dan dibentuk oleh iklim sekolah, mereka juga harus dibina.
KEBIJAKAN SEKOLAH
Percakapan tentang pemerataan pendidikan dimulai dengan kebijakan karena kebijakan menentukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh di sekolah. Banyak pendidik, siswa, dan keluarga menafsirkan kebijakan seolah-olah itu adalah undang-undang, padahal sebenarnya tidak. Kebijakan adalah pedoman yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Mereka ditentukan secara lokal dan dilaksanakan atas kebijaksanaan pembuat keputusan yang relevan. . Pemimpin sekolah memiliki fleksibilitas tentang kapan dan bagaimana menerapkan kebijakan daerah.
Masalah dengan kebijakan adalah bahwa mereka ditulis sebagai pedoman satu ukuran untuk semua, yang, meskipun setara, tidak adil. Ketidaksetaraan diperburuk oleh penerapan kebijakan yang tidak konsisten oleh staf sekolah sehingga bias implisit dan prasangka eksplisit berarti beberapa siswa secara tidak proporsional tunduk pada kebijakan sekolah sedangkan yang lain tidak. Kebijakan yang paling sering dikutip yang ditegakkan secara tidak adil adalah kebijakan disiplin sekolah tanpa toleransi. kulit putih.
Penting untuk ditekankan bahwa kebijakan disiplin itu sendiri tidak secara otomatis tidak adil. Implementasi yang bias inilah yang menciptakan kesenjangan disiplin yang menopang kesenjangan peluang. Ini berlaku untuk sebagian besar kebijakan pendidikan, terutama kebijakan akademik. Misalnya, pelacakan dan penyortiran mendikte peluang siswa untuk belajar (OTL) dengan menempatkan mereka di jalur pendidikan yang membatasi kursus di mana mereka dapat mendaftar di masa depan. Keberadaan mata kuliah akademik dengan tingkat ketelitian yang bervariasi tidak dengan sendirinya bermasalah. Masalahnya terletak pada bagaimana siswa ditempatkan ke dalam kursus tertentu.
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362" crossorigin="anonymous"></script>

Support every student by breaking learning up into chunks and providing a concrete structure for each.
