Kamis, 19 Juni 2025

Pembelajaran International Daring Kolaboratif

Bismillah

 

Pada saat lokakarya baru baru ini - di sekolah saya - SMAN 13 Padang terlihat ada cercahan harapan kepada tampilan baru wajah sekolah itu sendiri. Sepadan dengan Kepala Sekolah yang juga baru (rotasi) sepertinya 'boneh' (bernas) dari yang sebelumnya dan tidak hanya seperti 'belek' (tong) yang hanya berbunyi nyaring ketika di'lambuik' (dipukul). Saya tidak akan/mau/nio/hendak/berselera untuk menstreotipkan otak saya yang sedikit 'kapocong' (kram) beberapa masa sebelum ini. Senada dengan yang saya sampaikan, kepada rekan seampu dan satu orang lagi dari luar Kelompok Kerja Guru saya di sekolah yang sama, bahwa saya sepertinya 'tabiak aia' (terbit air/bersemangat/berselera) untuk melaksanakan apa yang pernah dibius dalam 'barasian' (mimpi/angan-angan/idam). Apa itu?

Sama ada beberapa masa berbilang baru-baru ini dalam platform kolaborasi, Sandra Maj seorang guru Bahasa Inggris sekolah nenengah dari Polandia mengatakan, "Saya senang sekali berkolaborasi dengan guru guru C2C (sebuah lembaga)". Sandra dan beberapa siswa yang dibawanya mengikuti sebuah model pembelajaran mendalam (Deep Learning). Dia menambahlkan, "Siswa-siswa saya dan saya senang merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia bersama-sama". Seperti mendapatkan apa yang diharapkannya, dia juga menimpali, "Saya juga bersyukur atas kesempatan untuk terhubung dengan guru-guru dan kelas-kelas dari seluruh dunia".

Tidak hanya itu, kolaborasi nyata yang dinaungi oleh C2C (situsi) sebuah nirlaba yang berbasis di sebuah negara di Eropa menawarkan nilai lebih kepada pertukaran pelajar daring (Online Student Exchange) yang bermakna. Apa yang dikatakan oleh Nancy Dieu-Ngoc Nguyen, seorang guru dari Vietnam, "Terimakasih banyak telah mempertemukan kami para guru dari seluruh dunia untuk menciptakan lebih banyak kesempatan bagi para siswa kami untuk saling belajar dan tumbuh bersama!". Apa yang anda pikirkan tentang semua ini? Apakah seperti kegiatan buang-buang waktu yang tidak berguna? Apakah ini hanya menghabiskan pulsa data dalam peron tagihan internet sekolah anda? Senada dengan ujaran (paling tidak) seorang guru (berjenis kelamin laki-laki) Bahasa Inggris di sekolah nenengah negeri di kota dan kecamatan yang sama dengan sekolah saya. Ujaran putus asa dan ketidakmampuan berkolaborasi dengan dunia luar menyebabkan dia meninggalkan otaknya dirumah ketika pergi keluar rumah. Kontras dengan ujaran sadar diri guru dari Vietnam diatas, dia mengatakan bahwa, "Teruslah lakukan apa yang anda (C2C) lakukan!"

"Luar biasa pak Donny Boy!" kata seorang guru yang tidak seampu dengan saya diatas tadi. Dia dengan sangat antusias berharap dapat bersinergi dengan saya untuk tujuan yang dimaksud. Collaborative Online International Learning (COIL) Pembelajaran International Daring Kolaboratif adalah tampilan pembelajaran yang inovatif yang sesuai dengan pendekatan apapun, terutama dalam elaborasi eksegesis Deep Learning itu sendiri. Ini adalah keniscayaan dan kekinian yang melibatkan siswa heterogen dari berbagai negara. "Seperti yang saya katakan sebelumnya, kamu sekali merasa amaan dan nyaman di platform ini", imbuh Moriko Matsubara, seorang guru dari Jepang. Moriko juga sangat senang seperti siswa-siswa yang dibawa bersamanya disitu. Dia juga mengatakan bahwa, "Saya sungguh tidak bisa cukup berterima kasih kepada C2C karena telah menciptakan grup yang luar biasa ini dan membiarkan kami tumbuh bersama C2C! Terimakasih sekali lagi".

Keminangkabauan adalah kosakata yang akan dievaporasi dalam muatan sekolah seperti yang disampaikan oleh the Principal of SMAN 13 Padang yang baru. Walaupun ide ini bukanlah hal baru di dunia persekolahan Sumatra Barat, tapi keseriuaan ini dicoba dimunculkan di sekolah saya. Bagus/mantap/paten memang diaplikasikan, tapi sayangnya terpidana dengan kunci yang bernama 'mata pelajaran linear'. 

Ketika saya hanya duduk santai tapi serius memperhatikan Kepala Sekolah yang baru mencoba mamasukkan keminangkabauan dalam agenda sekolah, duaarr, sepertinya saya menjadi dejavu walaupun bukan feel like shit. Ini bisa dijadikan entry kepada 'Cultural Student Exchange yang masih dalam platform COIL. Saya akan buat kegembiraan anda menari-nari seperti keindahan tari piring dalam, dari dan ke pertukaran budaya tingga proyek Kolaboratif yang membahas Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa Bangsa - Suistanable Development Goals United Nation (SDG's UN). Ada banyak peluang dan apakah anda tertarik untuk meningkatkat kesadaran global siswa anda? Atau melibatkan mereka dalam pemecahan masalah dunia nyata sebagai penawaran dari Deep Learning? Apakah anda akan menemukan proyek yang sesuai dalam kerangka Project Based Learning (PBL)?

Kebanyakan guru guru yang mengaku hebat, dikatakan hebat, diakui hebat dalam frame mereka dan disebut hebat di sekolah saya dan dimanapun di negeri ini seperti kena "tampa malapari" (stroke ringan) literatur mereka ketika berbicara 'go International'. Kontras sekali dengan apa yang dikatakan oleh (masih seorang guru sekolah nenengah di Amerika Serikat) Kellie Mason, "Terimakasih kepada tim yang telah menciptakan pengalaman yang tak terlupaka  dan mengubah hidup saya dan siswa-siswa saya!" Kellie membawa siswa-siswa nya pada COIL dan berkomunikasi dengan siswa lain seumuran dengan mereka dari negara berbeda. "Saya menghargai hubungan yang telah kita jalin melalui platform ini dan berharap dapat berkembang dimasa mendatang", tambahnya.

Kellie, Sandra, Nancy dan Moriko jelas tidak sendiri. Banyak guru dan sekolah di seluruh dunia memahami akan keniscayaan COIL. Platform ini memberi nilai lebih, pengalaman berharga dan kepercayaan diri siswa siswa dari sekolah tersebut dalam menyampaikan isi kepala mereka dalam bahasa Internasional. Kemampuan menyampaikan dalam public speaking dan speaking skill menjadi bagian lain dalam kesatuan itu. Pastinya tidak semua sekolah bisa mendapatkan ini, tidak semua guru yang punya kamampuan ini, tidak semua siswa merasakan ini, dan tidak semua kepala sekolah memiliki pemikiran terbuka ini. Apakah itu anda? Atau sekolah anda? Apa jawaban anda?

Cara membaca dunia dipengaruhi oleh cara pandang dan itulah literasi manusia untuk mengisi ruang literatur dalam otak. Karena anda meyakini dunia ini berputar, itulah juga yang menyebabkan anda sebagai guru berputar dalam putaran administratif kelengkapan anda dalam belajar dan pembelajaran. Anda tidak mau mencoba keluar dari putaran itu untuk inovatif dalam kolaborasi. Anda "kunyah" sendiri dan anda "lulua" sendiri. Segelintir kecil guru dari seluruh dunia ingin meningkatkan praktek pendidikan mereka. Melalui kolaborasi internasional mereka telah melaksanakan hal itu. Mereka ingin bersama anda bergabung dalam platform COIL. Indahkan lingkaran anda yang dalam tempurung itu dengan mengintegrasikan perspektif luas dan proyek kolaboratif kedalam perencanaan belajar anda. Platform ini sangat bermamfaat bagi guru dan dan bernilai lebih bagi siswa dalam mengembangkan berpikir kritis (critical thingking)


Ropi Rahmat, guru yang tidak seampu dengan saya dan menjadi rekan sesama guru di sekolah saya, di sela waktu istirahat setelah lokakarya yang saya sebutkan diatas menyesalkan atas sikap stayman saya waktu duduk santai itu. Kenapa tidak mau mengangkat tangan? Kenapa tidak berselera mengeluarkan kata kata? "Banyak yang tahu Donny Boy tapi tak banyak yang paham Donny Boy", kata Rengga Ultiano (guru di sekolah yang sama) - even - Kepala Sekolah sendiri. Bagaimana saya menjelaskan kepada semua disaat bersamaan memiliki streotip dalam kecacatan berpikir yang terbungkus kerangka kepala mereka? 

Komunitas pembelajaran daring yang memiliki platform dan menghubungkan ruang kelas dari seluruh dunia idenya memfasilitasi pengalaman Pembelajaran Internasional Daring Kolaboratif - COIL - bagi guru dan siswa. Anda berminat? Pertanyaan saya cuma satu, apakah anda berpikiran terbuka dan tidak seperti guru dan kepala sekolah kebanyakan? 

Baca:

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/7866460779491790881

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/2331605460928611320

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/1945540851761379570

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/2776439532178959124


Rabu, 11 Juni 2025

8 Langkah Deep Learning

Bismillah 

Sebagai pendidik, saya sama seperti anda karena kita semua sadar akan pentingnya "membangkitkan"; (1) rasa ingin tahu dan (2) motivasi siswa untuk belajar. Dua elemen tersebut adalah anasir untuk muara meningkatkan "keterlibatan" mereka. Kedua vektor membangkitkan dan meningkatkan disitulah harus dihadirkan/disiasati/dipersiapkan pemberian kesempatan untuk mengerjakan tugas/kegiatan yang bermakna untuk memecahkan masalah di dunia nyata. 

Akan tetapi, 'kejangak-an' pikiran saya sebagai seorang guru Bahasa Inggris di SMAN 13 Padang yang terstreotip oleh mereka yang tidak paham karena kecacatan berfikir dengan label yang sama -dispute- dengan kenyataan tekanan. Saya pelan pelan menjelaskan pada anda dengan seksama dan dalam tempo yang tidak singkat agar anda mencernanya dengan santai sambil menghiraukan arah kemana anda akan saya kanalisasi dengan 'ota' saya. Sanggupkah anda sebagai guru saat ini berada dibawah tekanan yang besar untuk memenuhi standar agar siswa anda melewati kelulusan minimal yang mengukur kemahiran? Dalam banyak kasus, kurikulum dan pengajaran telah dibatasi oleh panduan kecepatan yang ketat dan fokus pada pembelajaran yang terpisah. Apa pendapat anda tentang algoritma ini?

Seperti biasa, anda dengan 'sok paten'  mengatakan saya berkolaborasi (entah kapan) dengan rekan sejawat mapel lain dan bahkan setiap minggu (apa iya) yang berbagi pembelajaran yang (1)lebih mendalam (2)dapat dicapai ketika siswa saya diberdayakan untuk merancang pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa saya. Anda yang terbiasa dalam melaksanakan profesi sebagai guru dengan sekedar standar tidak akan mau keluar dari zona anda tersebut untuk berbagi pelajaran yang autentik, langsung, menantang dan bertujuan. Pelajaran yang saya maksud adalah membahas lebih dari sekedar standar yang tidak menuju pada pengkayaan literasi. Sepertinya isi 'kampia' anda segitu segitu saja dari awal sampai sekarang. 


Siswa anda saat ini adalah mereka yang tidak sama pengalaman, style, passion, art, genre music, dan orientasinya dengan anda. Mereka sekarang berfokus pada banyak keterampilan perangkat lunak yang saya tahu itu penting untuk keberhasilan siswa di perguruan tinggi, karier, dan kehidupan - keterampilan seperti mampu berkolaborasi, menciptakan, memecahkan masalah, berkomunikasi secara efektif, berfikir kritis, dan mampu menyampaikan isi pemikiran. 

Ada beberapa tindakan yang dapat anda ambil sekarang untuk memberdayakan anda sebagai guru guna mencapai tingkat pembelajaran yang lebih mendalam ini. Melalui desain instruksional yang disengaja, kita dapat membimbing siswa untuk berpikir kritis tentang argumen, konsep, dan ide serta menciptakan solusi untuk masalah dunia nyata. Seperti diawal anda bisa 'kunyah' ini lambat-lambat dibanding anda 'lulua mantah-mantah'. Cobalah 'talungkuik talantangan' 8 Langkah Menuju Pembelajaran yang Lebih Mendalam (Deep Learning).

Pertama; Sasaran Pembelajaran dan Kriteria Keberhasilan: Setiap pelajaran yang hebat dimulai dengan sasaran yang jelas tentang apa yang perlu diketahui dan dapat dilakukan siswa. Sasaran, yang disertai dengan kriteria keberhasilan, harus dikomunikasikan kepada siswa dengan cara yang memperjelas harapan kita dan berfungsi sebagai panduan untuk penilaian diri. 


Kedua: Konten dan Produk yang Menarik: Di luar standar yang terpisah, guru memiliki kesempatan untuk menggunakan konten dan harapan kinerja untuk menciptakan masalah atau situasi dunia nyata bagi siswa untuk dipecahkan. Pengalaman belajar yang menawarkan tugas-tugas interdisipliner yang autentik memberikan relevansi dan meningkatkan rasa ingin tahu siswa.

Ketiga: Budaya kolaboratif. Pembelajaran bersifat sosial, dan penyertaan kolaborasi yang disengaja di seluruh proses pembelajaran sangat menarik bagi siswa. Ada banyak pilihan desain untuk kolaborasi, termasuk kelompok yang fleksibel, mitra, bimbingan sebaya, seminar Socrates, diskusi akademis, dan pakar daring

Keempat: Pemberdayaan Siswa. Kepemilikan siswa atas pembelajaran mereka meningkat secara eksponensial ketika mereka diberi pilihan tentang cara menunjukkan penguasaan atau membuat produk atau kinerja akhir, termasuk menggunakan alat dan sumber daya digital. Selain itu, mengundang siswa untuk memberikan masukan tentang apa yang mereka pelajari dan bagaimana mereka terlibat dengan konten memungkinkan mereka memainkan peran sebagai perancang bersama.



Kelima: Instruksi yang Disengaja. Strategi berbasis bukti harus dipilih dengan cermat agar memiliki dampak terbesar pada tujuan pembelajaran. Salah satu strategi tersebut adalah model pelepasan tanggung jawab bertahap, yang menyediakan struktur untuk instruksi dan pemodelan langsung ("tunjukkan kepada mereka") dan praktik terbimbing pada suatu tugas ("bantu mereka"), sebelum siswa mencobanya secara mandiri ("biarkan mereka").

Keenam: Alat dan Sumber Daya Autentik. Siswa harus memiliki akses ke berbagai alat dan sumber daya, baik cetak maupun digital, selama proses pembelajaran dan saat membuat produk untuk menunjukkan pembelajaran mereka. Menyediakan berbagai alat menawarkan pilihan bagi siswa dan menekankan proses daripada produk. Strategi digital seperti pembelajaran campuran dan kelas terbalik menawarkan pengalaman yang kaya yang sangat menarik dan menghargai cara siswa belajar dan berkreasi.

Ketujuh: Fokus Pada Literasi. Terlepas dari kontennya, membaca, menulis, dan berbicara harus dimasukkan ke dalam setiap pengalaman belajar. Paparkan siswa pada berbagai teks, sumber primer dan sekunder, dan sumber daya daring. Libatkan siswa dalam kesempatan untuk sering menulis—misalnya, dengan menugaskan laporan lab, manual teknis, cerita naratif, ringkasan penelitian, makalah opini, atau buku catatan interaktif.

Kedelapan: Umpan Balik Untuk Pembelajaran. Sepanjang pengalaman belajar, ada putaran umpan balik untuk memberi siswa panduan tentang kemajuan mereka menuju tujuan pembelajaran. Umpan balik ini dapat berupa guru-ke-siswa, siswa-ke-siswa, atau penilaian diri. Umpan balik bersifat formatif dan memberikan siswa rasa aman dan terjamin karena mengetahui bahwa mereka dapat mengambil risiko dan mencoba hal baru tanpa takut gagal.

Pranata Lain:

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/5575230950592117301

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/643137864926554368

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/4351891654441825489

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/7656997912289994613

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/6065151370294817299

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/7851827514699353342

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/9179204410309748997

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/5864194244297282972

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/3111028587376722777

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/5653542967944637108


Ikuti di

https://www.facebook.com/groups/1161463424621364/?ref=share

https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g

Minggu, 08 Juni 2025

Perpustakaan Tempat Pembelajaran Bahasa Asing

 <script async security="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>



Bagaimana jika seorang pustakawan sekolah dapat mengembangkan keterampilan literasi pembelajaran Bahasa Asing? Apa pendapat anda tentang itu? Apakah anda mengangguk? Atau menggeleng? Ini adalah pertanyaan pemanasan atau pertanyaan pemantik seperti yang biasa diucapkan seorang Ronal Laksana- guru Olahraga- disekolah yang sama dengan saya. Sengaja saya sampaikan pada anda agar pikiran anda menjadi 'terbit air' karenanya. Anda yang merasa guru hebat dalam platform "Penggerak" pastinya tidak akan dapat menghilirisasikan ini karena debit air anda tidak akan sampai mamenuhi kanal yang saya maksud. Apatah lagi anda yang bersumbu pendek, dapat diterka sebentar saja umur 'dama/lampu togok' anda menyala. Setelah itu dapat di'takap' ini akan 'pudur' dan dapat di-predict akan jadi 'galok' model ma'miciang-kan mato.

Pada semester genap tahun ajaran (TA) 2023/2024, saya diset menjadi Kepala Perpustakaan (Kapus) SMAN 13 Padang. Beresiko sebenarnya bagi data penerimaan tunjangan sertifikasi yang baru 'pacah talua' di semester ganjil TA 2023/2024 karena saya tidak punya sertifikat untuk menjadi Kepala Perpustakaan (Kapus). Saya terima saja tanpa basa disana dan basi disini. Ada comfort zone disitu karena saya bisa lebih punya banyak waktu untuk mendesain pembelajaran bahasa Inggris berbasis Virtual Exchange (VE). Ditambah lagi dengan School Partnership Program (SPP) dan Sister School (SS) mandiri. Ini bukanlah program yang datang dari atas atau langit dalam persamaan Top-Down. Atau jalan jalan ke luar negeri atau luar pulau, overland atau city tour dengan berkunjung dan berfoto di sekolah disana dengan spanduk yang dibawa dari sini. Itukan yang pernah ada diantara anda lakukan? Itu jugakan yang anda jargonkan sekolah hebat?

Hal lain yang tidak akan 'talap dek ina' adalah tentang 'The Protocol of Donny Boy' yang saya siapkan untuk impian menjadikan SMAN 13 Padang perlahan menjadi sekolah pilihan bagi siswa tingkat Junior High School dalam mengembangkan dan kesempatan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Protokol yang dimaksud telah tersampaikan kepada Kelompok Kerja Guru (KKG) Bahasa Ingggris SMAN 13 Padang. Ditambah lagi dengan SPP dan SC yang in progress kesana dengan sekolah lain dari luar Indonesia. English Language Learning (ELL) berbasis pustaka adalah frame ide gila ini.

 <script async security="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>



Caliak:

Saya akan deliverikan kepada anda untuk dapat anda sadur, ambil, tiru, 'cenet', klaim dan caplok ide ini biar saya tidak sendirian dan anda soraikan kepada saya 'you will never walk alone'. Menjadi sekolah bilingual adalah sesuatu yang jauh bagi sekolah negeri di negeri ini. Pernah ada platform gagal yang bernama Sekolah Bertaraf International (SBI) yang nampaknya menjadi kenangan dan rekam jejak yang membuat anda tersipu malu-maluin ketika itu diungkit kembali dalam pembicaraan dalam 'ota lapau'. Meskipun hal itu terdengar menjanjikan, perlu disadari bahwa setiap pamangku kepentingan di bidang Pendidikan perlu berperan agar inisiatif itu diwujudkan kembali. Kalau ditingkat guru, kepala sekolah dan pemangku pendidikan 'indak talok', pustakawan merupakan bagian integral dari rencana ambisius ini, dan ada sejumlah cara yang dapat mereka ambil untuk mendukung bilingual di Sekolah' dan meningkatkan tingkat melek huruf pelajar dalam berbahasa Ingggris utamanya.

Seperti 'nan taralah' saya sarankan anda untuk berhenti saja disini bagi anda yang bersumbu pendek dan 'tagaduah' Language Acquisition Device (LAD) anda. Terlepas dari pendanaannya, ada banyak cara yang dapat dilakukan pustakawan sekolah untuk mendukung keterampilan literasi pembelajar bahasa Ingggris (ELL) dan siswa multi Bahasa. Sekali lagi mundurlah anda dari sini sebelum anda onani pemikiran sampai sampai keluar air liur anda keasyikan dengan 'otaan' ini. Apakah anda skeptis? Jika ya maka anda akan menyeringai mencibir dan bergumam dan mengatakan saya 'gadang ota'.

Saya memperhatikan selama beberapa hari semenjak menjadi kepala perpustakan SMAN 13 Padang dan ini adalah menjadi bagian tugas baru saya. Saya yakin perpustakaan sekolah di seluruh negeri ini akan melihat bagaimana pustakawan merancang ulang ruang untuk mendukung pertumbuhan sosial, emosional, dan kreatif siswa—sambil tetap memprioritaskan bacaan yang bagus. Ketika itu dialamatkan pada anda sebagai guru apa yang harapkan terhadap keberadaan pustaka sekolah saat ini. Apakah mungkin membuat perpustakaan menjadi sebuah tempat terbaik di sekolah? Pastinya ini juga dialamatkan pada perpustakaan di sekolah anda, karena sepertinya kebanyakan perpustakaan sekolah hanya menjadi sebuah gudang buku-buku paket dan tempat sirkulasi dari dan ke tangan siswa. Seperti biasa, saya akan mencoba 'maota' anda dalam keliaran analisa keadaan saat ini yang terpampang di depan mata tapi diacuhkan.

Pada saat tertentu, ada siswa mengunjungi perpustakaan di SMAN 13 Padang seringkali saat pertukaran jam karena disuruh guru untuk mengambil/mengembalikan buku paket dan selama jam istirahat mereka. Dengan kata lain, siswa memilih untuk menghabiskan “sedikit waktu tidak terstruktur yang mereka miliki,” di dalam perpustakaan.

Perpustakaan yang baru saja direnovasi—sekarang dikenal sebagai Learning Commons—adalah pusat serbaguna yang terang dan luas di dalam sekolah. Terdapat meja bistro tempat anak-anak dapat bekerja bersama; tempat duduk yang nyaman dan fleksibel; ruang pembuat tempat siswa dapat mengeksplorasi aktivitas seperti menjahit dan membuat perhiasan; studio rekaman dan produksi audio; dan studio produksi video tempat anak-anak dapat membuat video TikTok atau YouTube menggunakan ponsel atau laptop yang disediakan sekolah. Tempat ini jauh berbeda dari sebelumnya—lembar kehadiran tahun 2008 mencatat hanya 21 siswa yang masuk ke perpustakaan pada suatu hari.

 <script async security="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>



Cigok:



Ikuti di;

https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g

https://www.facebook.com/groups/1161463424621364/?ref=share

https://padirabah.blogspot.com

https://cewangputih.blogspot.com

@pblcenter_


Rabu, 04 Juni 2025

Keamanan Psikologis Bagi Pendidik, Perlukah?

 <script async security="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>


Saya sama dengan anda yang berprofesi sebagai guru di negeri ini. Kita sama merasakan tekanan dari luar, sekolah, aturan, dan kebijakan. Seperti "nan taralah" (sebelumnya) saya akan mulai semua ini dengan pertanyaan critical thinking. Pikiran geli itu menjadi begini; sebagai seorang guru, ketika anda mempertimbangkan sekolah anda dalam sistem sekolah, bagaimana perasaan anda? Lingkungan sekolah serta pengalaman apa yang membentuk respons tersebut? Apakah anda mendapati diri anda menghindari aktivitas, lokasi atau rekan tertentu? Bagaimana dan apa tanggapan mereka tentang ide baru anda? Bagaiman perasaan mereka terhadap anda?

Bedil Malasus (bukan nama sebenarnya), seorang guru Bahasa Inggris di sekolah menengah atas negeri di Padang (sebenarnya) merasakan bahwa singkronis tuntutan dunia nyata dalam berbahasa dengan tagihan pembelajaran dalam silabus seperti medan magnet berbeda kutub. Kesialan ini tanpa disadari menjadi benar dan terbalut dalam sebuah kesatuan magnet itu sendiri. Sepertinya what the students want dengan what the students need dibaurkan dan menjadi kesatuan yang sia sia belaka. Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran membosankan dan inovatif guru seperti terkibiri karena alasan yang banyak. Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran keilmuan dibanding skill. Sekolah dan guru di sekolah sepertinya tidak memberikan kontribusi signifikan kepada pelajar dalam skill kepada semata nilai huruf dan angka. Sama seperti si Bedil Melasus tadi Bahasa Inggris hanya sebagai pelengkap memperbanyak mata pelajaran di sekolah.

Apakah dengan membaca ini membuat detak jantung  anda bertambah cepat? 'Badabok' dan 'gali paruik' anda membayangkan sesuatu atau seseorang menunggu mengancam zona anda ketika anda tiba di ruang majelis guru besok? Anda menghabiskan banyak waktu disana - disana seharusnya terasa aman. Saya akan katakan pada anda bahwa jika anda sampai disini merasa biasa saja, itu bertanda anda adalah guru (1) biasa biasa saja. Walaupun anda berpredikat luar biasa dengan carikan kertas yang anda miliki, tapi itu semua hanyalah administatif saja - untuk sertifikasi. Anda mengikutinya karena benefit yang akan anda dapatkan (itu yang ada dalam pikiran anda). Ini juga sama seperti anda yang guru (2) dibawah biasa biasa saja karena anda tidak punya kemampuan untuk mengikuti atau seperti (nomor 1). Kenapa? Saya akan salahkan "logical fallacy" karena anda membiarkan diri anda menjadi inangnya. ujaran FYP untuk anda adalah, Nah ini parah ni, ini parah ni. 

Baca juga:

APA ITU KENYAMANAN PSIKOLOGI?
Dalam 'Research Article' pada WILEY International Journal of Selection and Assesment berjudul “Merasa Aman di Tempat Kerja: Pengembangan dan Validasi Inventarisasi Keamanan Psikologis,” penulis menulis, “Keamanan psikologis, didefinisikan sebagai persepsi bahwa seorang individu dalam tim didukung dan merasa aman untuk mengambil risiko interpersonal, menyuarakan pendapat, dan berbagi ide, sangat penting untuk efektivitas organisasi.” Jika anda pernah merasa tidak aman secara psikologis atau emosional di tempat kerja, anda pasti tahu bahwa jantung, otak, dan sistem saraf pusat anda bisa terasa seperti dibajak dan dilemparkan ke dalam siklus yang berputar-putar. Sederhananya, hal ini dapat mengganggu tubuh dan pikiran anda. Kekhawatiran terhadap keamanan emosional anda dapat membuat berangkat kerja terasa menyakitkan atau menakutkan, dapat menimbulkan penyakit fisik atau masalah kesehatan mental, dan dapat berdampak pada lingkungan kerja sekolah secara keseluruhan.

Cewangers, sebelum anda lebih jauh berjalan dalam mengharungi pemikiran saya dan lebih dalam mengukur arah saya, saya akan beri tahu anda bahwa yang akan anda telusuri ini terinspirasi dari tulisan Matthew J. Bowerman dalam artikel dengan judul A Guide to Psychological Safety for Educators pada laman Teacher Wellness Edutopia tanggal 6 September 2023, George Lucas Foundation. 

Tulisan ini ditujukan pada anda semua untuk menjadi referensi tersier anda semua dalam berfikir untuk dunia pendidikan. Kenapa tidak referensi primer? Karena anda terbiasa menjadikan mainstream sebagai primer. Lalu kenapa bukan sekunder? Karena anda tidak biasa bertengkar dalam critical thinking dan melihat pernyataan atau sesuatu yang benar dari siapa yang menyatakan. Saya hanya mendeliverikan pada anda agar dan mulailah meninjau ulang kanal pemahaman anda tentang dunia pendidikan dari sudut pandang originalitasnya bukan dari tagihan yang harus anda selesaikan demi timpukan, maaf tumpukan administrasi hebat anda. Saya tanya anda, hal hebat apa yang anda lakukan? Sama saja, begitu begitu saja, menerima saja, lakukan saja, tiru saja, dan anda tidak mau melakukan dari cara berfikir terbalik. "Apoloko"(apa pula ini)?

Artikel lain

Bagi anda yang bekerja di sekolah menengah atas/kejuruan, tekanan besar sangat terasa. Bagi guru honor, guru PPPK, guru ASN, supir bus sekolah, supir ambulance sekolah, supir kepsek, pegawai honor, pegawai ASN, wakil kepala sekolah, pegawai koperasi, pegawai pustaka, dan pegawai tata usaha—begitu banyak peran berbeda dengan segudang tanggung jawab—lingkungan sekolah merupakan lingkungan yang kompleks dan menantang tanpa harus mengalami kurangnya keamanan psikologis setiap hari. Jadi mengapa begitu banyak pegawai sekolah, pada suatu saat dalam karier mereka, mengalami kurangnya dukungan dan/atau keamanan psikologis, dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya?

Jika anda menyadari bahwa meskipun anda telah berupaya sebaik mungkin, kesehatan psikologis, keselamatan, atau kesejahteraan anda berpotensi terganggu, ingatlah bahwa anda tidak hanya "berhak merasa aman" namun juga "berhak untuk merasa aman". Berikut beberapa tanda fisik dan emosional bahwa anda mungkin mengalami lingkungan yang tidak aman secara psikologis:

Mencari alasan untuk melarikan diri dari hari mengajar anda, juga dikenal sebagai penghindaran tugas atau situasional
Mimpi buruk tentang orang atau situasi di sekolah berulang ulang kali
sakit kepala, stres makan, sakit perut, 'lameh', dan 'marumeh', adalah rasa yang umum atau sangat spesifik terhadap seseorang atau sesuatu. Meningkatnya masalah kesehatan mental, termasuk kecemasan, depresi, reaksi hipersensitif, perasaan membeku secara tidak terduga, kesulitan dalam mempertahankan keamanan psikologis.

Kesejahteraan kita mempengaruhi pekerjaan kita. Seperti yang dicatat dalam buku Alex Shevrin Venet, Equity-Centered, Trauma-Informed Education, “Sekolah yang memanusiakan mengharuskan kita membuang gagasan lama bahwa orang dewasa dapat memisahkan otak dari tubuh mereka….sekolah perlu berubah sehingga pelajar dan guru dapat membawa dampak positif mereka. Seutuhnya diri dengan mereka; sekolah harus menjadi tempat yang meningkatkan kesejahteraan pribadi dan komunitas kita, bukan malah mengurasnya.” 


STRATEGI DUKUNGAN

Peran apa pun di tempat kerja di sekolah merupakan tantangan di zaman sekarang ini. Guru sepertinya terpaksa dewasa dan harus sehat berhadapan dengan kepala sekolah yang seperti 'paja ketek' dan 'sakik'. Penting untuk dapat membaca isyarat anda sendiri dan memiliki strategi untuk memprioritaskan kesehatan dan keselamatan anda sendiri, terutama jika anda merasa tidak ada orang lain yang bisa membaca hal tersebut terutama kepala sekolah seperti tempat Bedil Melasus mengajar dan para wakil kepala sekolah tercocok hidungnya dan rekan sejawat guru yang "steotipe" pada anda. Seperti biasa algoritma apa ini? Apakah itu juga terjadi ditempat anda? Simpan saja jawanan anda sambil senyum kecil agar anda tidak seperti mereka

Literatur penambah:

Anda mungkin bekerja sendiri atau dalam tim, tapi yang perlu anda ketahui anda tidak sendirian. Penting menemukan dan terhubung dengan rekan sejawat yang tidak berpikiran toxic pada anda. Dengan begitu anda ciptakan sendiri sistem pendukung yang tidak hanya sebagai perlindungan, tapi juga untuk membantu menenangkan pikiran anda. Tindakan lainnya anda coba luangkan waktu untuk terhubung dengan rekan seampu, dan atau sejawat yang dapat anda hubungi di sela sela waktu jam istirahat anda dan pelajaran. Mereka ini adalah juga dapat berinteraksi di luar sekolah. Bukan untuk berkelompok dalam kepentingan tapi bersirkel dalam kenyamanan psikologis. Anda layak memdapatkan rekan sejawat yang memungkinkan anda untuk meringankan beban yang anda pikul terutama beban berinteraksi dengan kepala sekolah seperti diatas.

Pengalaman dan ketertarikan setiap orang berbeda beda dan atau masing masing berbeda. Bagi Bedil Melasus yang mengalami sesuatu yang tampak dan terasa tidak nyaman, hal tersebut dapat menguras seluruh alam semestanya dengan dampak psikologis yang signifikan. Tidak semua hal merupakan keadaan darurat atau manis seperti adegan klimaks dalam scene sinetron, fragmen dan film, tetapi bisa terasa seperti itu dan terkadang memang seperti itu. Seperti ketika anda menghabiskan waktu pada saat rapat dinas, lokakarya, seminar online atau offline, briefing, dan rapat mendadak. Anda yang merasakan apakah itu nyaman bagi anda atau tampilan logical fallacy kepala sekolah terhadap anda. 

Jika anda merasa terancam - jika anda atau ide anda diremehkan - jika sudut pandang anda dikaburkan, misalnya maka tarik tali pengaman dan segera cari cara lain untuk semua itu bisa dilaksanakan dan atau tunggu sampai keadaan berubah ketika rotasi kepala sekolah terjadi. Tetap, semua itu dengan harapan wajah baru di sekolah anda memiliki pemikiran terbuka, progresif dan visioner.

Pranata:

Dokumentasikan setiap insiden dan lakukan program bantuan dengan tetap melakukan kegelian pikiran anda di sekolah lain agar anda dan otak anda buntu terhadang tembok penilaian mereka terhadap anda. Anda adalah kumpulan pemikiran anda dan situasinya tidak memungkinkan anda melakukan semua tersebut. Bicarakan serta cari rekan guru lain di sekolah berbeda dengan anda yang anda percaya untuk dukungan kesehatan mental. 

Pekerjaan guru yang terlabel pada anda adalah melakukan dan melayani siswa, dunia pendidikan, dan keluarga adalah pekerjaan paling penting untuk pengembangan masyarakat kita di masa mendatang. Anda berhak datang bekerja dan meninggalkan setiap hari dengan sehat, utuh, dan tanpa rasa tertekan.

Ikuti semua di:

https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g

https://www.facebook.com/groups/1161463424621364/?ref=share

https://padirabah.blogspot.com

https://cewangputih.blogspot.com

@pblcenter_


Sabtu, 16 Maret 2024

AI dalam Pengajaran

 <script async security="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>



Kecerdasan Buatan atau istilah menggaganya Artifisial Intelligence (AI) dengan cepat mengguncang dunia termasuk merambah dunia pendidikan. Dengan popularitas alat umum seperti ChatGPT, alat beta seperti Google Bard, dan sumber daya pendidikan lainnya yang mengembangkan versi mereka sendiri dari perangkat lunak ini, AI mulai menjadi perhatian utama pendidik termasuk anda. Percayalah pada saya bahwa tidak perlu butuh waktu banyak lagi sebagai pendidik mau tidak mau, suka tidak suka, akan menjadi keniscayaan. Mereka hanya dihadapkan pada dua pilihan; (1) membawa AI bersama dalam bagian pendidikan atau (2) meninggalkan AI dengan kenyataan jadi primitif dalam style pembelajaran. Dimana anda? dan atau mau kemana anda? semuanya ditangan anda, tapi paling tidak mulailah dari sekarang anda bersi-incut kearah sana jika anda pada pilihan pertama. Sebaiknya jangan anda tanyakan pada saya bagaimana dengan pilihan kedua.

Meskipun terdapat hambatan terhadap AI yang sering dibicarakan, disinan ada beberapa keuntungan. Misalnya, hal ini dapat digunakan untuk mendukung guru ketika mereka merancang pengajaran dan penilaian untuk memenuhi kebutuhan semua peserta didik di kelasnya. Biasanya, menerapkan strategi seperti diferensiasi atau pembelajaran yang dipersonalisasi dapat menjadi pekerjaan awal yang berat bagi guru. Diferensiasi Pembelajaran yang sekarang hanya frasa hafalan bagi anda nantinya akan jadi mudah anda jelaskan. Benarkah? Dengan AI, guru dapat dengan mudah mencari ide dan inspirasi mengenai cara baru untuk menjangkau siswanya.

Respons yang dihasilkan AI dapat menjadi titik awal bagi para guru, namun penting untuk memanfaatkan ide-ide ini agar dapat menjadi ide anda sendiri. Semuanya akan menjadi keputusan ditangan anda dan ketika anda yang seperti 'Inorenlawa Goblogiya' seorang guru hebat di sebuah sekolah negeri di negeri ini bertanya kepada saya, "Apakah saya harus mengikutinya"? Apa saran anda?, katanya. Saya akan "ota" anda semua dengan penjelasan setelah ini. Sebaiknya anda skip ini karena bisa kanai puncak Kasa' anda nantinya. Dengan lima strategi berikut, guru dapat memanfaatkan AI untuk menginspirasi ide-ide baru guna mendukung beragam kebutuhan pembelajaran siswanya.

<script async security="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>




Cigok
Memotivasi Siswa Bekerjasama Dalam Tim
Sekolah Harus Berhenti Mengadopsi Mindset Pengurangan https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/9128369045365949663
Keterampilan Eksekutif Siswa 


<script async security="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>



Kita harus berhati-hati dalam mengatur ruang kelas kita. Ini bukan hanya tentang kepatuhan siswa; ini tentang motivasi mereka,; ini tentang passion mereka; dan ini tentang orientasi mereka. Menempatkan siswa dalam kelompok dan berkata, “Hei, lakukan ini,” tidak akan berhasil, "Hei, jangan buat itu," tidak akan berguna. "Hei, kenapa ini yang dilakukan," sama saja. Menghabiskan waktu bekerja dengan siswa untuk merencanakan kelompok, mempelajari norma dan rutinitas, serta memahami apa artinya menjadi bagian dari budaya kelas adalah kuncinya. "Hei, ini dia".

Cingek:


MEMBANGUN HUBUNGAN MEMBANGUN TIM

Untuk mencapai kesuksesan dengan tim kolaboratif, penting untuk memahami bahwa hubungan menyatukan mereka (di antara siswa dan juga dengan anda sebagai guru). Anggap saja tahun lalu anda melakukan kampanye satu kata di mana anda meminta siswa memilih satu kata 'motivasi' untuk dikerjakan sepanjang tahun. Itu adalah cara yang bagus bagi anda untuk belajar tentang murid-murid anda. Tahun ini, anda akan menulis mantra empat kata. Ini adalah kalimat empat kata yang akan mereka gunakan untuk penyemangat diri. Selain itu, siswa akan bekerja sama untuk membangun mantra tim.

Berdasarkan pengalaman anda, anda belajar bahwa mempelajari gaya kerja satu sama lain sangatlah membantu. Tahun ini, anda memulai survei kompas dengan murid-murid anda agar mereka dapat mengetahui kekuatan satu sama lain, dan bersama-sama akan membentuk tim tempat mereka akan bekerja sama. Mengikuti survei dan mendiskusikannya dalam tim akan membuat siswa termotivasi untuk mulai melakukan percakapan alami. Kemudian, anda akan menciptakan norma-norma anda dengan kontrak sosial. Apa 4 mantra yang harus anda komat kamitkan? 1. motivasi, 2. belajar, 3. survei dan 4. diskusi. Sebelum masuk kelas didepan pintu bacalah mantra ini 3 kali. Tidak, ini hanya bercanda.


<script async security="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>


Selain itu, siswa menghargai menemukan kesamaan satu sama lain. Anda belajar tentang pemikiran heksagonal untuk membangun hubungan dan memahami kesamaan. Siswa akan menggunakan proses berpikir ini untuk menjawab pertanyaan tentang dirinya dan kemudian mendiskusikan persamaan dan perbedaannya. Diskusi ini dapat menciptakan hubungan organik. Mudah terurai, gampang dicerna, dan alami tidak ditalen-talenkan.

Caliak:


MENGHABISKAN WAKTU SECARA LANGSUNG MENGAJAR STRUKTUR PEMBELAJARAN KOLABORATIF

Anda dan rekan-rekan anda menemukan bahwa siswa hanya perlu merasa nyaman dengan struktur pembelajaran. Tahun lalu, anda memiliki tim mahasiswa Praktek Lapangan yang berpartisipasi dalam diskusi singkat tentang topik budaya pop dan topik lain yang mereka anggap menarik. Kegiatan ini menurunkan kecemasan sebagian besar siswa dan mengajari mereka cara berdiskusi dalam tim. Setelah itu, anda mengadakan sesi tanya jawab di seluruh kelas untuk membicarakan pengalaman dan cara meningkatkan diskusi.

Saat anda menjadi lebih baik dalam percakapan, anda perlu meningkatkan rutinitas kelompok. Siswa menjadi bertanggung jawab untuk membacakan target pembelajaran kepada kelas dan menjelaskannya satu sama lain, serta mereka belajar untuk masuk ke dalam timnya bila diperlukan dan dengan cepat menemukan peran dan tugasnya. Mereka juga harus merasa nyaman dengan penilaian diri sendiri dan teman sejawat.

<script async security="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>



Pemodelan penting ketika menerapkan struktur pembelajaran baru. Terkadang anda menggunakan referensi singkat budaya pop atau pertanyaan yang menggugah pikiran untuk menunjukkan seperti apa percakapan yang anda harapkan. Akhirnya, anda sampai pada titik di mana anda akan mengatakan “Kembali ke Belakang, Tatap Muka”, “Fish Bowl”, atau “Kafe Dunia”, dan para siswa memahami maksud anda.

Cibuak:


Ketika anda menyadari bahwa anda perlu berbuat lebih banyak untuk mendukung siswa dalam tim dengan memahami perancah yang disediakan, anda membeli permainan kartu berkode warna. Warna potongan kartu cocok dengan warna perancah bahasa yang saya tempatkan untuk diskusi tim. Saya mengajukan pertanyaan untuk debat, dan setiap kali seorang siswa menjawab pertanyaan tersebut, mereka harus meletakkan potongan warna yang sesuai pada perancah bahasa yang saya sediakan untuk mereka. Diskusi menjadi lebih menarik dan menggugah pikiran.

MEMBERIKAN PERAN YANG BERDAMPAK

Semua pembelajaran kolaboratif harus memiliki peran yang bermakna. Jaga agar peran dan deskripsinya tetap sederhana, lugas, dan selaras dengan tugas. Pastikan peran tersebut dipilih oleh siswa. Anda serahkan deskripsinya kepada siswa dan ajak mereka memilih peran mereka. Jika suatu kelompok mengalami kesulitan, anda latih mereka dengan bertanya, “Menurut kamu, peran apa yang terbaik bagi kamu? Keterampilan apa yang kamu miliki untuk peran ini?”

<script async security="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>




Peran harus dapat disesuaikan tidak hanya untuk gaya kerja dan kepribadian siswa, namun juga untuk produk yang siswa ciptakan. Jika aktivitas tersebut tidak memerlukan penelitian, jangan sertakan peran “peneliti”. Jika tugas tersebut tidak memerlukan gambar, jangan sertakan peran “artis”. Bagi siswa yang memilih untuk tidak berbicara sebanyak orang lain, saya menciptakan peran “juru tulis”, di mana mereka bekerja sebagai pencatat.

Saat kami menyiapkan ruang kelas pada tahun ajaran ini, penting bagi kami untuk mengutamakan kebutuhan siswa, tugas berbasis standar, dan komunitas kelas ketika mempertimbangkan pembelajaran kelompok kolaboratif. Pahami bahwa dibutuhkan banyak usaha untuk menyukseskan hal ini di kelas, dan jangan menyerah jika awalnya tidak berjalan dengan baik. Ini adalah perjalanan yang berharga bagi Anda sebagai guru, dan juga bagi siswa Anda.

Guru hebat 'Inorenlawa Goblogiya' teman saya diakhir bertanya, "Apakah semua diatas ada terjadi di negeri ini?" Saya tidak mau menjawabnya karena pertanyaan itu anda lah yang bisa menjawabnya. Anda yang tahu karena saya disini adalah untuk meng'ota' anda.



"Anda dapat temukan arah pemikiran 'cewangputih' dan sebagai ragam madah pengetahuan dan  disini:"

https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g

https://www.facebook.com/groups/1161463424621364/?ref=share

https://padirabah.blogspot.com

https://cewangputih.blogspot.com

IG pblcenter_

TikTok pblcenter