Jumat, 25 Maret 2022

Unstated Purposes of Schooling


 

"Unstated Purposes of Schooling" (serial). Apa maksudnya? Sederhana sebenarnya dan tidak ada yang aneh disini. Muncul masalah dari yang akan disampaikan kepada anda adalah kata  "unstated". Menurut linguist kata yang diberi imbuhan "un" diawal dan tidak bisa diimbuhkan diakhir kata. Ada kaidah psikolinguistik yang diemban "unstated" disitu. Bebannya semakin keujung semakin berat dengan ikut sertanya kaidah sosiolinguistik

Keadaan ini semakin barbar karena kaidah pragmatik, semantik dan sintaksis sata pula membully "unstated"
Kata yang diberi imbuhan un bermakna oposisi dari kata dasarnya. "Unstated" berlawanan maknanya dengan "stated". "tidak disebutkan" jelas berlawanan makna dengan "disebutkan". Hanya gara-gara "un" (bermakna "tidak" dalam bahasa). Sebelum anda terlalu jauh ketengah dalam kengerian bahasan ini, disarankan untuk berhenti saja. Karena nanti ditakutkan ada turbulensi pada pikiran anda. Gampang saja membuktikannya dan bisa dijadikan pre-penelitian, jika anda dalam selacut baca kurang dapat memahaminya berarti pikiran anda turbulensi. Seumpama anda paham, berarti anda sudah punya 5 kaidah kebahasaan yang membebani kata "unstated" diatas.

"Purpose" bermakna "tujuan" dalam bahasa. Sebenarnya kalau kita buka kamus, banyak makna "tujuan" selain "purpose". Harus kita akui bahwa bahasa Inggris lebih kaya kosakata dibandingkan bahasa untuk makna "tujuan". Sebut saja; purposedestinationgoal, objective, aim,, end, intention, object, direction, motive, thrust, heading, course, design, term, purport, tenor, tendency, tendencegameview, lead-up

Sedangkan "schooling" bermakna "sekolah". Schooling sebenarnya berbeda jauh maknanya dengan Education, tapi mayoritas dari anda tanpa sadar telah menyamakan makna keduanya. Sialnya pendapat ini sangat sensitif dikritisi, bagi anda sekolah itu ya pendidikan dan pendidikan itu ya sekolah. Tertanam dalam pikiran anda dan jelas manyambung dari generasi ke generasi berikutnya. Begitu terus sampai dinas pendidikan pun mengurus sekolah, mulai dari PAUD sampai Pendidikan Tinggi, mulai dari Luar Sekolah sampai Sekolah Luar Biasa. Jadi memang sudah fix dan settle bahwa pendidikan itu ya sekolah.

Apa yang akan dipaparkan kepada anda tentang empat tujuan sekolah yang tidak disebutkan adalah tentang tenaga pengajar dan siswa. Bahasan ini nantinya hanya tentang mereka berdua. Karena tanpa disadari mereka adalah objek tujuan sekolah. Anda yang berprofesi sebagai guru jangan naik pula gulanya, karena yang dimaksud adalah tenaga pengajar, bukan guru.

Anda mungkin akan berfikir kenapa bit arround the bush (berputar putar) dan kenapa tidak (come to the point) langsung saja ke masalah yang akan dijelaskan disini. Jadi, kalau diartikan  unstated purposes of schooling dalam bahasa menjadi,  tujuan sekolah yang tidak disebutkan. Sebelum kita kupas satu-satu, agar jangan gagal paham, sebaiknya anda lakukan hal berikut ini. Anda tulis unstated purposes of schooling di kaca jendela rumah anda, lalu anda berdiri melihat tulisan tersebut dari arah dibalik kaca jendela tersebut. Berikut tujuan pendidikan yang tidak disebutkan. 


To Obey the Authority
Pertama adalah to obey the authority'. Entah kenapa saya tidak tahu arti dari frasa yang pertama ini. Disini anda hanya akan diarahkan pada makna yang ada dalam pikiran saya. Coba anda hanap tenungkan bahwa tujuan sekolah yang tidak disebutkan adalah to obey the authority. Jelas sekali terpampang di depan mata anda, mulai dari aturan, silabus, kurikulum, sistim, uniform (warna kaus kaki, warna sapatu, dlll, untung warna CD tidak diatur). Bertukar authority biasanya ada yang diganti atau berubah dari hal yang sudah settle sebelumnya, minimal SE (Surat Edaran). 
Apapun ceritanya sekolah tetap, obey the authority. Kalau parubahannya radikal (bukan paham maksudnya), maka akan ada kegiatan yang menyertainya seperti guru diupgrade lah, didiklat lah, disemilok lah, dan macam macam lah. Hal ini sangat positif karena dilandasi untuk menuju sekolah menjadi lebih baik. Anda pasti sudah terbiasa dengan lip-service semacam ini. Berubah jadi lebih baik, berubah kearah lebih baik. 
Ujungnya sudah dapat diterka, bahwa selesai program guru diberi selembar kertas yang dapat digunakan untuk bahan naik pangkat. Bisa juga syarat untuk jabatan tertentu atau posisi tertentu. Ada hal asyik disini, sebelum kegiatan tersebut dilakukan, peminat diminta untuk melengkapi data ini dan isi formulir itu. Seolah kesannya wah dan tidak sembarangan. Padahal hampir tiap sebentar dapodik di-update. Lumayan juga sebenarnya senyum peserta karena dapat uang saku dihitung perhari. Biasanya pembicara atau nara sumber lebih besar dapatnya. Ups

Hasil yang didapat dari to obey the authority adalah Similar Response; Adjustive or Adaptive. Tenaga pengajar dan siswa diharuskan sama responnya atau seragam. Mereka jadi terbiasa adaptif dan tidak adjustif (menyesuaikan) ketika merespon aturan atau apapun itu. Karena kegiatan ini berulang ulang dan berdurasi panjang, akhirnya jadi budaya bagi mereka. Perbedaan sederhana Adjustive dan Adaptive adalah yang satu pakai brain dan yang satunya lagi pakai respon sama atau seragam. Disuruh isi ya diisi, disuruh kumpulkan ya dikumpulkan, sedangkan disisi lainnya menyesuaikan dengan aturannya.
Disini tenaga pengajar dan siswa lebih difokuskan pada disiplin daripada mendidik. Disiplin perlu, itu betul, tapi mereka disiplin untuk hal yang bukan disiplin hidup. Itulah sebabnya mengapa ada diantara mereka mau melakukan untuk kedisiplinan tadi. Tenaga pengajar akan lakukan apa saja untuk disiplin naik pangkat, sertifikasi, dan lain lainnya. Siswa akan lakukan apa saja untuk disiplin nilai ujian, absensi dan lain lainnya. Jumlah mereka cukup banyak dan signifikan sebenarnya, dan untuk kasus tertentu malah mayoritas. Bagi mereka tujuan yang utama bukan proses. Now you do what they told ya. Now you do what they told ya.


     





2 komentar:

Sakura pink mengatakan...

Ndeh utak alun jangak lai, alun masuak ka utak lai

Sakura pink mengatakan...

Ndeh utak alun jangak lai, alun masuak ka utak lai