Selasa, 31 Mei 2022

PBL Center SMA 8 Padang



Ini adalah model lain pemberitaan yang tidak biasa dalam jurnalistik. Cewangputih akan mempublikasikan pada anda dengan pola 'kronologis' dan FAQ (Frequent Asking Questions)


18 Mei 2022
  • Soft launching buku karya SMA 8 berjudul Bunga Rampai PBL Sebagai Basis Sekolah Penggerak
  • Hari Buku Nasional
  • Pembukaan Lokakarya SMA 8
19 Mei 2022
  • Buku Bunga Rampai PBL mulai jadi pembicaraan
30 Mei 2022
  • Tim Penyusun Buku Bunga Rampai PBL berdiskusi di dinas pendidikan Sumbar untuk persiapan pendirian PBL center SMA 8 Padang
Apa itu Buku Bunga Rampai PBL?
  • Buku ini adalah 'proceeding' artikel tentang PBL oleh guru SMA 8 Padang
Siapa Tim Penyusunnya?
  • Zahroni
  • Chandra Ilham
  • Syamsurizal
  • Donny Boy

Selayang Pandang Sepicing Mata PBL Center SMA 8 Padang

Paradigma pendidikan Indonesia sudah beranjak dari teacher centris ke student agency, dengan program merdeka belajar ke sekolah dan guru penggerak. Agar merdeka belajar bisa berjalan dengan baik dengan mengawali pembelajaran diferensiasi dan diakhiri dengan Project-Based Learning (PBL)

Apakah anda bersemangat tentang Pembelajaran Berbasis Proyek? Sebagai guru penggerak dan atau bahkan Sekolah Penggerak? Seberapa yakinkah anda melaksanakannya? Pernahkah anda melihat guru dan atau sekolah lain melakukannya? Atau anda masih ragu-ragu untuk memulai di kelas sekolah anda? Keraguraguan anda pasti lebih banyak disebabkan oleh tidak adanya model yang pernah anda saksikan dan atau anda tidak paham akan PBL itu sendiri. Anda jangan khawatir karena ada PBL center SMA 8.

PBL center SMA 8 Padang adalah lembaga intra SMA 8 Padang yang memfokuskan pada model aplikasi pembelajaran PBL itu sendiri dan menjadi kerangka dasar dari ide PBL center ini. 

Cewangputih dengan apa yang ada padanya menjadi fenomenal karena memberikan warna berbeda dengan warna yang pakem dalam mainstream lembaga otoritas. Dua warna dalam frame PBL ini diarahkan pada pencarian model aplikatif  yang menjawab semua pertanyaan diawal.

Kolaborasi ini akan mendeliverikan kepada guru, siswa, dan pihak lain kepada karya yang bertumpukan pada segitiga sasaran, tujuan dan target PBL nantinya.

Dunsanak cewangputih, pembaca cewangputih, dan para guru SMA/SMK di Sumatera Barat yang antusias akan PBL dengan segala sebab akibatnya, diundang untuk bergabung di PBL Center SMA 8 ini. Harapan besar nya adalah menjadi PBL Center Sumatra Barat dan menjadi model untuk PBL nasional. Filosofi PBL center SMA 8 ini tidaklah menjala/menjaring, tapi melemparkan kail kepada guru SMA/SMK di Sumatera Barat. Prototipe ini adalah embrio dari lokal ke regional, dan merasuk ke nasional. Silahkan 'gatus' 0811664758

Mudah mudahan ide sederhana ini dapat menyebarkan cara pandang positif untuk berkolaborasi lebih lebar dengan panen karya perencanaan pembelajaran kreatif dan baru. PBL memberi kita konsep merdeka belajar lebih terelaborasi. 

Senin, 30 Mei 2022

Understanding by design

  <script async security="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>



Produk atau karya yang akan anda disain untuk capaian pembelajaran dibuat siswa untuk menunjukkan penguasaan pembelajaran perlu direncanakan dengan baik dan dideskripsikan dengan jelas di awal pembelajaran. Seperti biasa, inilah langkah awal dalam PBL. Tujuannya adalah supaya anda tetap pada arah tersebut.

Semakin lama saya terjebak dalam perangkap PBL semakin kuat keinginan saya mendukung anda yang berujung pada siswa anda dalam PBL, semakin yakin saya akan pentingnya memastikan ini, karena ini benar-benar meningkatkan kualitas pekerjaan mereka. Entah mengapa, saya seperti telah lama begelimang dalam PBL yang sebenarnya saya belum pernah terlibat disana. Semuanya seperti lantunan musik yang menjadi latar suara tarian yang saya sukai.

Banyak kerjaan dan karya PBL bisa anda lihat di media. Mereka mengikuti praktik terbaik yang diinformasikan dalam penelitian dengan perencanaan dan desain instruksional. Banyak pendidik mungkin mengenalinya sebagai versi PBL. Anda bisa imitasi dan atau bahkan elaborasi yang anda lihat. Jadikan itu kerangka capaian anda. Model yang beredar memiliki banyak kesamaan dengan karya Grant Wiggins dan Jay McTighe dalam Understanding by Design. Ulasan yang ingin saya sampaikan pada anda dalam artikel ini adalah tentang itu diatas. Mudah mudahan otak anda lebih 'mantiak' menfantasikannya dalam disain pembelajaran anda. Tenang, jangan terlalu liar arah pandangan anda pada saya. Ini dimaksudkan, kita agak sedikit rileks menikmati tulisan ini.

Understanding by Design sebenarnya meminta anda untuk merencanakan pembelajaran anda dalam tiga tahap. Pada tahap pertama, anda merencanakan tujuan pembelajaran dan atau hasil proyek dengan bertanya pada diri anda sendiri, Apa yang akan siswa anda ketahui dan dapat lakukan di akhir unit? Pada tahap kedua, anda menentukan bukti pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, bagaimana siswa anda menunjukkan penguasaan tujuan/hasil yang diidentifikasi pada tahap pertama? Tahap ketiga adalah merencanakan bagaimana siswa anda akan menguasai konten. Nah di situlah pengalaman dan aktivitas belajar diidentifikasi.

Proses ini disebut perencanaan mundur dalam pendekatan PBL, karena anda memulai dari hasil akhir (Apa yang harus diketahui dan dapat dilakukan siswa di akhir unit ini?), dan kemudian merencanakan mundur dari sana ke awal unit. Secara tradisional, banyak guru (tidak termasuk saya, karena saya belum pernah melakukannya) ketika pertama kali mulai mengajar mulai merencanakan dari awal unit dengan kegiatan pembelajaran, dan kemudian membuat penilaian sumatif pembelajaran di akhir berdasarkan kegiatan pembelajaran yang dilakukan di seluruh unit.

Prediksi saya, sebagian besar pendidik yang bekerja dengan pendekatan Understanding by Design mampu menyelesaikan perencanaan proyek seputar tujuan pembelajaran dengan cukup mudah dengan menggunakan standar merdeka belajar dalam kurikulum merdeka. Menulis pertanyaan pendorong untuk proyek ini bisa jadi menantang. Lihat blog ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang PBL. Baca dan 'inok tanuangan', satu hal sebelum itu anda jangan skeptis. Karena tidak dapatnya PBL merasuki pikiran anda adalah penyebab utama gagalnya PBL itu sendiri.

Mencari tahu produk publik/karya (penilaian sumatif) dalam bahasa anda bisa jadi rumit: Haruskah semua siswa menghasilkan hal yang sama? Atau haruskah siswa anda memiliki beberapa pilihan dalam apa yang mereka hasilkan? Untuk anda yang baru memulai PBL, proyek mungkin menghasilkan produk/karya yang telah anda rancang sebelumnya. Memulai dengan cara ini adalah titik masuk yang lebih mudah bagi mereka yang baru mengenal PBL. Karena siswa anda dan anda menjadi lebih terbiasa belajar di kelas PBL, produk dapat ditentukan bersama antara siswa anda dan anda.

Bagaimana Anda memastikan produk publik/karya proyek berkualitas tinggi? Berikut adalah lima saran.

1. Jelaskan dengan jelas apa tujuan pembelajaran anda (konten utama dan keterampilan sukses), dan bagaimana tujuan pembelajaran tersebut ditunjukkan dalam karya. Jika anda tidak dapat menjelaskan dengan jelas seperti apa SELESAI, siswa anda akan kesulitan memenuhi ekspektasi proyek. Tidak semua karya harus terlihat sama, tetapi semuanya harus memenuhi serangkaian kriteria yang diharapkan yang diketahui dan dipahami siswa anda sejak awal proyek. Ada baiknya untuk menarik kriteria langsung dari capaian atau panduan kurikulum. Saat merencanakan karya, pastikan produk dirancang dengan cara yang mengharuskan siswa untuk menunjukkan bahwa mereka telah memenuhi tujuan pembelajaran anda. Juga pertimbangkan apakah anda memerlukan lebih dari satu produk untuk menilai semua tujuan pembelajaran utama anda. Misalnya, anda mungkin ingin meminta produk tertulis individu bersama dengan presentasi yang dibuat tim.

2. Gunakan rubrik, bukan daftar periksa. Meskipun daftar periksa bagus untuk daftar tugas, daftar tersebut tidak membantu siswa dalam menentukan kualitas. (Sesuatu yang perlu diingat: rubrik anda mungkin benar-benar menjadi daftar periksa jika memiliki banyak "harus menyertakan setidaknya 3 ____". Itu mengukur kuantitas, bukan kualitas atau tingkat kemahiran, sebagaimana seharusnya rubrik.) Lihat blog ini dan sekali lagi bacalah berulang ulang semua tulisannya. Banyak bahasan bagus yang sangat membantu anda melewati PBL nantinya. Juga, kalau anda streotipe dengan cewangputih, saya sarankan jangan terlalu jauh mengharunginya.

3. Jadikan karya siswa anda itu sendiri sebagai bagian dari proses perencanaan anda. Gunakan rubrik anda saat anda menyelesaikan produk contoh anda, dan tanyakan pada diri anda sendiri apakah rubrik tersebut mendorong ketelitian dan kualitas. Dengan kata lain, seperti apa tampilan minimal jika kriteria "pada standar" diikuti? Apakah masih mengharuskan siswa anda untuk menunjukkan penguasaan tujuan pembelajaran?

4. Selama peluncuran proyek, minta siswa anda menggunakan rubrik untuk mengevaluasi produk teladan/andalan. Karya contoh dapat berupa produk yang anda buat, contoh yang anda temukan dari profesional atau sumber luar, atau karya siswa anda (jika anda pernah mengerjakan proyek sebelumnya dan menyimpan beberapa sampel). Semua belum anda dapati dari cewangputih karena cewangputih belum melakukannya. Paham!

5. Gunakan pencapaian proyek (bagian dari Perencana Proyek PBL yang anda lihat di media) untuk membantu mendukung siklus pertanyaan dan umpan balik siswa. Pada beberapa (atau banyak!) dari pencapaian ini, gunakan rubrik yang anda buat untuk membantu siswa anda tumbuh dalam pembelajaran mereka dan memandu pembuatan produk publik mereka sebagai bagian dari proses pembelajaran. Meminta siswa anda mengukur kemajuan mereka di sepanjang jalan dengan rubrik (atau bagian dari rubrik sebagai pemeriksaan formatif pada pembelajaran mereka), akan membantu memastikan bahwa mereka terlibat dalam Pembelajaran Berbasis Proyek dan tidak hanya "melakukan proyek".

Singkatnya, ini tentang keselarasan antara tujuan pembelajaran, pertanyaan pendorong, dan produk publik. Penyelarasan harus jelas dan dipahami oleh siswa anda di awal proyek; itu tidak bisa menjadi sesuatu yang diputuskan minggu kelima dari proyek enam minggu. Ini tidak adil untuk siswa anda dan anda mungkin tidak akan mendapatkan pekerjaan siswa anda berkualitas tinggi secara konsisten untuk produk publik. Ketika anda memiliki keselarasan dan harapan ini, kualitas proses dan produk akan jauh lebih mungkin untuk memenuhi harapan dan aspirasi yang anda miliki untuk proyek anda ketika anda pertama kali mulai merencanakan!

Cewangputih akan sangat senang sekali berbagi literatur dengan anda dan atau sekolah anda untuk pemahaman PBL. Anda juga bisa rencanakan pemahaman komprehensif untuk anda teman sejawat anda dalam dalam sebuah training khusus. Siapkanlah diri anda dan sekolah anda untuk aliran deras PBL yang akan merubah 'tapian' pemahaman pembelajaran anda.


Tulisan ini dipengaruhi dari tulisan Kiffany Lychock, West National School. Sebagai Direktur Inovasi Pendidikan untuk Distrik Sekolah Boulder Valley, Kiffany mendukung penerapan Praktik Belajar Mengajar yang Inovatif dan Lingkungan Belajar yang Inovatif. Dia adalah advokat yang bersemangat untuk Pembelajaran Berbasis Proyek, kesetaraan, dan membangun iklim dan budaya sekolah yang kuat. Pengalaman pendidikan masa lalunya termasuk guru kelas sekolah menengah, pelatih instruksional, spesialis teknologi pendidikan, dan Direktur Pengembangan Profesional.











Jumat, 27 Mei 2022

Mulailah Pembelajaran Berbasis Proyek

<script async security="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>


Apakah anda bersemangat tentang Pembelajaran Berbasis Proyek? Sebagai guru penggerak dan atau bahkan sekolah penggerak? Seberapa yakinkah anda melaksanakannya? Pernahkah anda melihat sekolah lain melakukuannya? Atau anda masih ragu-ragu untuk memulai di kelas atau sekolah anda? Keraguraguan anda pasti lebih banyak disebabkan oleh tidak adanya model yang pernah anda saksikan dan atau anda tidak paham akan PBL itu sendiri. Anda jangan khawatir karena cewangputih akan tuntun anda melewati semua ini.

Ini untuk anda! 

Tetap sederhana. Proyek pertama Anda bisa kecil! Mulailah dengan satu subjek alih-alih proyek interdisipliner. Atau mulailah dengan proyek dua minggu, dan simpan proyek yang diperpanjang itu untuk nanti. Mulailah dengan materi yang sederhana yang anda kuasai di mata pelajaran anda.

Pilih proyek, dan buat rencana.
Setelah anda urutkan dan pilihlah untuk anda lakukan lalu buatkan rencana dan langkah langkahnya. Sampai sini, saya yakin anda dengan mudah merencanakannya.

Mencari inspirasi? Jelajahi Perpustakaan Proyek PBL , dari sumber visual ataupun literal atau sesuaikan proyek yang sudah ada sebelumnya agar sesuai dengan siswa Anda. Untuk mengintip ke dalam ruang kelas yang sebenarnya, tonton video proyek yang anda temukan untuk melihat beberapa proyek hebat beraksi. (Ingatlah untuk menjaga agar proyek Anda tetap sederhana untuk memulai!)

Kemudian, gunakan Perencana Proyek untuk menangkap ide-ide Anda dan mengaturnya. Dengan begitu banyak bagian untuk direncanakan, formulir ini dapat memandu jalan Anda – mulai dari acara masuk dan pertanyaan mengemudi, hingga pelajaran harian, dan banyak lagi. Jangan lupa berkolaborasilah dengan teman guru anda yang berbeda mata pelajaran.

Temukan sumber daya utama yang Anda butuhkan. Anda tidak sendirian dalam perjalanan PBL Anda! Ada komunitas pendidik yang berkembang dan begitu banyak sumber daya untuk mendukung Anda selama ini. Anda dapat mencari referensi di cewangputih. Paling tidak literatur disana cukup lengkap yang pernah ada versi keluaran lokal. Anda juga dapat libatkan pihak ketiga diluar anda dan siswa anda.

Berikut adalah beberapa favorit untuk di-bookmark...
  • Alat Perencanaan Proyek
  • Selebaran Siswa
  • rubrik
  • Panduan Strategi
  • Bonus! Lihat Tips & Alat How-To untuk lebih banyak ide.
  • Percayalah pada dirimu sendiri.

Anda sudah memiliki keterampilan yang Anda butuhkan untuk memulai. Anda tahu bagaimana melatih anak-anak dan mengatur kurikulum Anda. Anda tahu praktik pengajaran yang baik, standar, dan cara membuat perancah untuk pelajar yang berbeda. Anda sudah mengelola kegiatan di kelas, dan tahu cara menilai secara formatif dan sumatif. Melalui PBL, Anda memiliki kesempatan untuk menggunakan dan mengasah keterampilan yang ada dengan cara baru.

Saatnya pergi!

Anda mungkin merasa tertantang. Anda mungkin kehilangan keseimbangan. Anda bahkan mungkin tersandung, tetapi Anda tidak akan jatuh. Kami selalu di sini dengan dukungan apa pun yang Anda butuhkan, apa pun yang diperlukan untuk membuat Anda terus bergerak menuju tampilan yang memuaskan di atas. Kamu bisa melakukan ini!

Hal yang paling penting? Mulai saja.

Seandainya anda dan sekolah anda ingin lebih kuat keyakinan untuk menjalani pembelajaran berbasis proyek, anda bisa libatkan cewangputih untuk membantu anda. Disinilah posisi cewangputih yang akan jadi teman anda untuk kepercayaan diri mengharungi lautan PBL.

Cewangputih adalah blog yang adminnya adalah seorang guru SMA 8 Padang. Bukan sebagai guru penggerak, tapi tergerak untuk bergerak. Membaca banyak literatur tentang PBL dari versi asalnya. Anda dan sekolah anda bisa jadikan blok cewangputih sebagai pusat PBL bagi sekolah anda dan anda.

Ini adalah tulisan terakhir cewangputih yang di postingkan di media sosial sampai dimulainya tahun pelajaran baru 2022/2023. Anda harus membaca satu persatu semua artikel cewangputih untuk pemahaman lebih komparatif tentang PBL. Atau anda bisa memahaminya dari buku "bunga rampai PBL sebagai basis sekolah penggerak". Inilah kesempatan bagus bagi anda untuk dengan mata berbinar menjalaninya.


Selamat jadi guru penggerak dan sekolah penggerak. And adalah prototipe pembelajaran di masa mendatang.


Selasa, 24 Mei 2022

PBL dan Makalah Penelitian

 <script async security="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>



Judul asli: Project-Based Learning and the Research Paper

By Brandie Provenzano November 27, 2018


Siswa bertanggung jawab atas pembelajaran mereka dan mengembangkan solusi untuk masalah kompleks ketika makalah penelitian mereka menjadi unit PBL.


Di kelas 11, siswa di daerah saya diharapkan menghasilkan makalah atau produk penelitian. Di masa lalu, saya tetap berpegang pada kertas tradisional, sebagian besar karena hal itu nyaman bagi saya sebagai guru bahasa Inggris. Saya bisa mengerjakan makalah. Saya bisa membuat esai. Saya dapat memberikan umpan balik dan mengajarkan revisi.


Namun, tahun lalu saya mengambil risiko—alih-alih kertas tradisional, saya memberi tahu siswa saya bahwa kami akan memulai perjalanan pembelajaran berbasis proyek (PBL). Mereka tampak bersemangat, terutama karena mereka pikir mereka tidak perlu menulis makalah. Pada akhirnya, mereka melakukan lebih dari itu.



PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK DALAM BAHASA INGGRIS SMA


Saya meminta siswa saya membentuk kelompok dan kemudian memberi setiap kelompok tugas untuk memilih masalah yang mereka minati. Proyek ini akan melibatkan menghasilkan solusi yang layak. Sebagai kelas, kami bertukar pikiran tentang semua jenis masalah besar, termasuk penembakan di sekolah, kemiskinan, hak-hak LGBT, intimidasi, dan tunawisma, serta masalah lokal seperti perlunya lebih banyak pilihan dalam makan siang sekolah, seperti vegan dan bebas gluten dan buku harian pilihan.


Selanjutnya mereka harus bertukar pikiran tentang kemungkinan sumber daya dan pertanyaan yang perlu mereka jawab. Di situlah letak keindahan PBL: Karena saya tidak dapat mengantisipasi setiap kebutuhan mereka, mereka harus bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri, dan memecahkan masalah yang mereka hadapi.



PELAJARAN MINI DAN PENILAIAN FORMATIF


Penilaian formatif pertama mereka berkembang secara organik karena mereka menyadari bahwa mereka perlu mengirim email kepada para profesional yang dapat menjawab pertanyaan untuk memandu penelitian mereka. Orang dewasa ini termasuk kepala sekolah dan tim keamanan kami, serta pejabat pemerintah setempat. Siswa menjangkau delegasi lokal mereka dan perwakilan terpilih lainnya, termasuk anggota kongres untuk distrik kami.


Saya memberikan pelajaran singkat tentang cara menulis email formal, dan kemudian para siswa menyusun email mereka. Sebelum mereka mengirim pesan, saya melihat dulu, memberikan umpan balik dan kritik yang membangun (penilaian formatif), dan siswa membuat revisi.


Pada periode kelas berikutnya, siswa saya memiliki salah satu dari dua versi masalah yang sama: Penerima mereka telah merespons atau tidak, tetapi siswa saya tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Saya memberikan pelajaran singkat tentang cara mengirim email tindak lanjut ketika seseorang tidak merespons dan tentang cara bergerak maju ketika mereka melakukannya. Mereka menulis email tindak lanjut, dan sekali lagi saya mempratinjau ini. Saat kami menunggu tanggapan, beberapa kelompok bertanya apakah mereka dapat melakukan polling kepada staf atau rekan-rekan mereka tentang pilihan makan siang di sekolah, meningkatkan keamanan sekolah, dan memperluas tempat parkir sekolah. Latihan ini dapat bermanfaat bagi semua kelompok, jadi kami memutuskan untuk menjadikannya tugas berikutnya.


Saya menunjukkan kepada mereka cara membuat survei online menggunakan Office 365. Survei mereka harus berisi setidaknya dua grafik dan 10 pertanyaan bagus (terbuka, pilihan ganda, atau urutan kepentingan).


Sementara itu, siswa terus mendapatkan tanggapan dari penerima email mereka dan perlu mengatur wawancara dengan orang-orang tersebut. Bagaimana menulis pertanyaan wawancara yang baik menjadi mini-pelajaran berikutnya. Murid-murid saya sebagian besar tidak mengetahui cara mewawancarai seseorang dan tidak menyadari bahwa pertanyaan yang mereka siapkan sangat penting dalam mendapatkan bukti yang mereka butuhkan untuk mendukung proposal mereka.



Misalnya, sebuah kelompok yang ingin memperluas tempat parkir sekolah beralih dari mengajukan pertanyaan umum seperti, "Apakah menurut Anda kami membutuhkan tempat parkir yang lebih besar?" untuk yang sangat spesifik seperti, “Berapa banyak kecelakaan yang terjadi di tempat parkir sejak sekolah dibuka?” Sebagian besar wawancara dilakukan melalui telepon, tetapi beberapa dilakukan secara langsung—satu kelompok, dengan izin dari orang tua mereka, mewawancarai anggota kamp tunawisma setempat.


Siswa juga harus menemukan setidaknya tiga sumber yang solid dan membuat catatan untuk disematkan dalam produk akhir mereka, dengan kutipan yang benar. Mereka menemukan statistik dan data untuk mendukung proposal mereka, dan memastikan untuk mengatasi argumen tandingan.


Baca juga:

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/6644142424621485631
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/3203254640691217510
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/2215087007886269362


PRODUK AKHIR


Saya memberi siswa saya pilihan untuk produk akhir mereka. Semuanya harus memuat hasil survei, penelitian, dan email serta wawancara mereka dalam satu atau lain bentuk. Mereka datang dengan ide-ide seperti pengumuman layanan masyarakat, proposal formal, RUU, dokumenter, esai foto, atau karya musik atau seni.


Saya membuat rubrik dan eksemplar agar siswa tahu apa yang saya harapkan. Saya tidak ingin terlalu mengontrol, tetapi saya menginginkan produk yang berkualitas tinggi. Mereka membagikan produk akhir mereka dengan berbagai audiens asli, termasuk anggota kongres mereka, kepala sekolah kami, pengawas daerah, dan tim keamanan kami.


Saya memberi setiap kelompok satu nilai sumatif, tetapi di masa depan saya berencana untuk membagi kelas: 70 persen nilai setiap siswa adalah untuk pekerjaan kelompok mereka, dan 30 persen akan menjadi nilai individu berdasarkan pengamatan saya, refleksi diri siswa , dan refleksi rekan.


Saat siswa membagikan proyek mereka dan kami merenungkan prosesnya bersama, beberapa hal menjadi jelas bagi saya. Pertama, saya tidak akan pernah mengajarkan makalah penelitian dengan cara lain karena model PBL yang kami gunakan membantu mengembangkan pemecah masalah, pemikir, dan pelaku di dunia nyata alih-alih pengikut aturan. Saya belajar bahwa untuk mendorong siswa keluar dari zona nyaman mereka, saya juga harus keluar dari zona nyaman saya, tetapi pembelajaran yang indah dan autentik terjadi ketika kita menciptakan kondisi yang tepat untuk itu.






Cewangputih adalah blog yang konsern pada masalah pendidikan dan peradaban untuk memperkaya ragam madah pengetahuan. Ingin mendapatkan langsung konten cewangputih jadilah "dunsanak cewangputih" dan "guru go-blog"

https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g

https://www.facebook.com/groups/1161463424621364/?ref=share


Sumber: https://www.edutopia.org/article/project-based-learning-and-research-paper


Sabtu, 21 Mei 2022

Dampak PBL Terhadap Prestasi Siswa

 <script async security="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>

Judul asli: New Study Shows the Impact of PBL on Student Achievement

By Nell K. DukeAnne-Lise Halvorsen June 20, 2017




Studi Baru Tunjukkan Dampak PBL terhadap Prestasi Siswa

Para peneliti di Michigan menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek di komunitas miskin dapat menghasilkan keuntungan yang signifikan secara statistik dalam studi sosial dan membaca informasi.

Apakah pembelajaran berbasis proyek (PBL) meningkatkan prestasi siswa? Jika Anda sudah lama terlibat dalam PBL, Anda pasti pernah menemukan pertanyaan ini. Selama beberapa tahun terakhir sebagai peneliti pendidikan di University of Michigan dan Michigan State University, kami telah bekerja untuk menjawab pertanyaan ini melalui studi besar tentang efek PBL pada studi sosial dan beberapa aspek pencapaian literasi di kelas kelas dua. Kami menyebut inisiatif ini sebagai Proyek TEMPAT: Pendekatan Proyek untuk Literasi dan Keterlibatan Masyarakat.


TENTANG STUDI

Dalam penelitian kami, kami secara acak menugaskan guru kelas dua di sekolah dengan tingkat kemiskinan tinggi yang memiliki kinerja rendah dalam ujian negara ke dua kelompok. Yang satu mengajar IPS menggunakan unit berbasis proyek yang kami rancang (kelompok eksperimen atau PBL), dan yang lain mengajar IPS seperti biasanya (kelompok kontrol). Kami meminta guru di kedua kelompok untuk mengajar 80 pelajaran IPS sepanjang tahun, sehingga kami akan membandingkan dua cara berbeda dalam mengajar IPS, daripada mengajar IPS versus tidak.

Tak satu pun dari guru yang terlibat dalam penelitian ini melaporkan pengalaman mengajar PBL sebelumnya. Guru kelompok PBL menerima rencana rinci untuk empat unit berbasis proyek (ekonomi, geografi, sejarah, dan kewarganegaraan dan pemerintah). Masing-masing dari 20 sesi dalam satu unit ditulis secara rinci, sambil menyisakan ruang untuk beberapa suara dan pilihan guru dan siswa. Sesi-sesinya sangat selaras dengan studi sosial Michigan dan standar membaca dan menulis informasi (yang merupakan Standar Inti Umum Negara Bagian) dan termasuk praktik instruksional yang didukung penelitian. (Lihat artikel kami “Proyek yang Telah Diuji” untuk detail lebih lanjut.)


DUKUNGAN GURU

Kami ingin penelitian ini realistis dalam hal tingkat dukungan pengembangan profesional (PD) yang mungkin diberikan kabupaten kepada guru, sehingga guru kelompok PBL hanya menerima tiga jam PD awal dalam pendekatan kami terhadap PBL dan unit PBL pertama . Sepanjang tahun, mereka menonton video singkat memperkenalkan tiga unit berikutnya. Selain itu, pelatih dari tim peneliti kami mengunjungi guru rata-rata 11 kali sepanjang tahun. Kunjungan ini memungkinkan tim kami untuk memberikan bentuk PD serta menilai secara sistematis sejauh mana guru menerapkan masing-masing dari tiga bagian sesi proyek/unit kami sebagaimana dimaksud. Tim kami juga mengamati ruang kelas kelompok kontrol untuk mengumpulkan informasi tentang seperti apa instruksi studi sosial bisnis seperti biasa, dan untuk menentukan apakah ada guru kelompok kontrol yang menggunakan PBL (tidak ada yang melakukannya).


DESAIN PENILAIAN

Pada awal dan akhir tahun ajaran, kami memberikan penilaian studi sosial, membaca informasi, dan menulis informasi yang selaras dengan standar Michigan. Kami mengembangkan semua penilaian ini sendiri, karena tindakan yang sesuai tidak tersedia. Para ahli memeriksa keselarasan item tes dengan standar, memberikan bukti validitas penilaian. Mereka yang menilai penilaian mencapai tingkat persetujuan yang tinggi, menunjukkan bahwa sistem penilaian penilaian masuk akal dan dapat digunakan dengan cara yang dapat diandalkan. Anak-anak dalam kelompok eksperimen/PBL dan kontrol mengambil penilaian, dan ketika kami menilai mereka, kami tidak tahu dari kelompok mana penilaian itu berasal. Selain desain uji coba terkontrol acak yang normal, kami juga memberikan penilaian kepada siswa kelas dua di distrik sekolah dengan status sosial ekonomi tinggi (SES) yang tidak menggunakan unit kami, sehingga kami dapat membandingkan kelompok PBL tidak hanya dengan kelompok kontrol yang sebanding tetapi juga dengan tolok ukur SES tinggi.


HASIL

Analisis kami menemukan perbedaan yang signifikan secara statistik secara keseluruhan mendukung kelompok PBL atas kelompok kontrol dalam studi sosial (ukuran efek = 0,482) dan membaca informasi (ukuran efek = 0,181). Dalam kelompok PBL, keuntungan 63 persen lebih tinggi untuk studi sosial dan 23 persen lebih tinggi untuk membaca informasi daripada di kelompok kontrol. Dalam penulisan informasi, perbedaan antara kelompok secara keseluruhan tidak signifikan secara statistik. Namun, pertumbuhan penulisan informasional lebih tinggi, pada tingkat signifikansi statistik, di antara guru yang dinilai sebagai sesi unit pelaksana lebih seperti yang dimaksudkan. (Kunjungi halaman ini untuk menemukan tautan ke versi terbaru Duke, Halvorsen, Strachan, Konstantopoulos, & Kim, 2017 untuk detailnya.)

Kesenjangan kinerja antara anak-anak dalam kelompok PBL dan anak-anak di distrik sekolah SES tinggi yang tidak mengalami unit berbasis proyek kami menyempit dalam studi sosial, membaca informasi, dan menulis informasi (dan tidak menyempit, atau kurang menyempit, untuk anak-anak dalam kelompok kontrol).

Baca juga:
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/3203254640691217510
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/2215087007886269362
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/4491499007492529184

KESIMPULAN PBL DAN PRESTASI SISWA

Jadi apakah PBL meningkatkan prestasi siswa? Versi PBL kami berhasil meningkatkan prestasi dibandingkan dengan instruksi bisnis seperti biasa di distrik sekolah dengan tingkat kemiskinan tinggi dan kinerja rendah. Kami tidak mengklaim bahwa semua versi PBL berfungsi, atau dalam semua konteks. Sebagai contoh, selama bertahun-tahun, kami telah mengamati beberapa versi PBL yang jauh lebih tidak selaras dengan standar daripada yang kami rancang dan yang tidak menggabungkan teknik instruksional yang didukung penelitian khusus—ini mungkin terbukti tidak efektif menggunakan desain penelitian kami. Dan seperti yang dicatat, PBL lebih efektif di ruang kelas yang diimplementasikan dengan tingkat ketepatan yang lebih tinggi terhadap model yang dimaksud.

Daripada mengatakan bahwa PBL meningkatkan atau tidak meningkatkan prestasi siswa dibandingkan dengan pendekatan lain, pendirian yang paling dapat dipertahankan dari penelitian kami adalah bahwa PBL dapat meningkatkan prestasi siswa di masyarakat miskin. Langkah selanjutnya di bidang kami adalah terus menanyakan dan menyempurnakan pemahaman kami tentang keadaan khusus di mana hal itu meningkatkan prestasi siswa dan dibandingkan dengan apa. Itulah proyek untuk pembelajaran berbasis proyek.





Cewangputih adalah blog yang konsern pada masalah pendidikan dan peradaban untuk memperkaya ragam madah pengetahuan. Ingin mendapatkan langsung konten cewangputih jadilah "dunsanak cewangputih" dan "guru go-blog"
https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g
https://www.facebook.com/groups/1161463424621364/?ref=share

Sumber:
https://www.edutopia.org/article/new-study-shows-impact-pbl-student-achievement-nell-duke-anne-lise-halvorsen

Kamis, 19 Mei 2022

Menggunakan Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Membenamkan Siswa dalam Komunitasnya

<script async security="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>



Judul asli: Using Project-Based Learning to Immerse Students in Their Community
By Edward R. Montalvo January 11, 2022

Untuk menciptakan pengalaman belajar yang otentik, para guru menugaskan siswa sekolah menengah untuk merancang pameran museum yang mengeksplorasi sejarah lokal. Di SMA PSI, siswa kami membuat sesuatu—mereka telah membuat video instruksional, dokumenter mini, soundtrack video game, dan robot kompetisi. Kurikulum kami berakar pada filosofi pembelajaran berbasis proyek.

Ketika saya pertama kali diperkenalkan dengan konsep tersebut, ada sedikit kurva belajar. Bagaimana saya bisa mengintegrasikan standar yang diperlukan dan menyeimbangkan waktu tanpa membuat proyek sekali pakai? Namun, pembelajaran berbasis proyek telah terbukti menjadi pendekatan pedagogis yang efektif untuk meningkatkan keterlibatan siswa, mengembangkan keterampilan abad ke-21, dan pembelajaran perancah untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda dari semua siswa.

Guru di SMA PSI membantu siswa mengenali aplikasi dunia nyata untuk keterampilan yang mereka kembangkan melalui pembuatan proyek. Menemukan kehidupan atau aplikasi untuk proyek merupakan rintangan yang sulit bahkan untuk pendidik PBL berpengalaman. Solusi di SMA PSI terletak pada pembelajaran berbasis masalah.


MELAKSANAKAN PEMIKIRAN DESAIN

John Larmer mengidentifikasi bagaimana pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran berbasis proyek adalah "benar-benar dua sisi dari mata uang yang sama." Pendidik dari semua latar belakang dapat memanfaatkan pembelajaran berbasis proyek dan masalah untuk menciptakan pengalaman belajar yang otentik dan menghindari jebakan sekali pakai. Ini membutuhkan perancangan proyek yang mengatasi masalah di dunia nyata. Untuk melakukannya, kami menggunakan pemikiran desain, metodologi yang menggunakan strategi kognitif untuk mengidentifikasi dan menghasilkan solusi kreatif.

Pertama kita terlibat dalam pemikiran desain:
  • Empati: Untuk siapa ini, dan untuk apa kebutuhan mereka?
  • Tentukan: Apa masalahnya? Apa yang dipertaruhkan?
  • Ideate: Apa yang bisa kita kembangkan?
  • Kemudian, kami membangun:
  • Prototipe: Mock-up, sampel, dan ide menjadi nyata. Fokusnya adalah interaksi.
  • Tes: Keluarkan dari tempat yang aman. Libatkan tangan dan gagasan lain, dan cobalah mengidentifikasi kebutuhan tambahan.


KONSEP MIKRO

Selama musim panas tahun 2021, para pendidik di SMA PSI merenungkan apa yang dapat diciptakan oleh semua siswa kami dalam program ini untuk komunitas Sanford, Florida. Pada akhirnya, kami menetapkan serangkaian museum mikro yang dapat dibangun siswa di seluruh kelas untuk Museum Sanford. Dalam visi kami, siswa akan memilih topik mereka, berkomunikasi dengan museum tentang pameran, dan merancang struktur itu sendiri. Kami percaya siswa kelas atas kami dapat membantu memimpin siswa kelas sembilan kami saat mereka menavigasi proyek bersama.

Dalam setiap fase proses desain, kami memetakan tolok ukur penting bagi siswa untuk terlibat dalam latihan metakognitif. Kegiatan ini meminta siswa untuk menulis, berdiskusi, dan berpikir kritis tentang ide-ide yang mereka kembangkan. Latihan memperkuat etos proyek mereka, sementara memungkinkan kami untuk memasukkan tugas-tugas akademik yang menargetkan standar utama di seluruh kursus.

Untuk micromuseum membangun sendiri, siswa mengikuti setiap langkah desain. Salah satu masalah awal yang kami alami adalah sikap apatis siswa terhadap Sanford secara keseluruhan. Kami ingin siswa berintegrasi lebih dalam dengan komunitas mereka, tetapi kami juga ingin mereka memiliki otonomi. Bagaimana Anda membujuk remaja untuk menanamkan beberapa kemiripan emosi ke dalam komunitas mereka ketika dua asosiasi mereka dekat dengan Disney World dan menjadi tempat di mana Trayvon Martin dibunuh?

Untuk mengatasi kurangnya antusiasme di kalangan siswa, kami meningkatkan proses pemikiran desain kami untuk menggabungkan fase pemikiran berbeda yang disebut iterasi. Kami mendefinisikan iterasi sebagai proses revisi di mana siswa belajar dari kesalahan dengan kembali ke awal. Siswa menyelidiki sejarah Sanford dengan berkorespondensi dengan pemangku kepentingan utama (empati). Di sini, para siswa mulai belajar lebih banyak tentang sejarah Sanford, semakin penasaran dengan apa yang tidak mereka ketahui.

Siswa tidak tahu tentang Jackie Robinson datang ke Sanford untuk bermain bisbol, hanya untuk melarikan diri untuk hidupnya ke Daytona. Mereka tidak tahu bahwa lingkungan Bersejarah Goldsboro adalah kota kulit hitam kedua yang tergabung di Amerika Serikat. Mereka tidak menyadari kebakaran dahsyat tahun 1887, atau upaya lobi Henry Sanford di Kongo Belgia, berharap bahwa orang kulit hitam Amerika yang dia juluki "awan hitam" dapat dikirim kembali.

Siswa dapat menggunakan pengetahuan yang baru ditemukan ini tentang komunitas mereka untuk membayangkan proyek selanjutnya. Mereka menyusun alasan yang mengidentifikasi audiens mereka dan membangun pernyataan visi dan laporan penelitian (mendefinisikan). Mereka berkolaborasi untuk membuat storyboard, model 3D, dan video yang membayangkan bagaimana publik akan berinteraksi (ideate). Saat persediaan dipesan, tim membuat prototipe karton dan mempresentasikannya ke panel administrator untuk menerima umpan balik penting.

Sejauh ini, proyek telah berhasil, jika sedikit kacau. Tapi kekacauan itu baik. Para siswa benar-benar mulai bersemangat ketika serbuk gergaji mulai menyelimuti lantai ruang belajar utama kami. Yang terbaik dari semuanya, melalui penelitian siswa tentang sejarah komunitas mereka, masalahnya menjadi jelas: Kenapa kita tidak belajar tentang ini di sekolah?

Ketika para siswa menyelesaikan model mereka, mereka akan meluncurkannya ke sekolah-sekolah di seluruh wilayah untuk diuji oleh rekan-rekan mereka. Mereka akan merevisi, memoles, dan kemudian hadir di peringatan 65 tahun Museum Sanford pada Mei 2022.

Baca juga:
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/2215087007886269362
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/4491499007492529184
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/3138626467611201161

KEMBALI KE EMPATI

Versi pemikiran desain kami menekankan iterasi. Setelah siswa telah menciptakan produk atau layanan, mereka kembali ke langkah pertama empati. Bagaimana audiens akan merasakan produk? Dalam kasus kami, hal ini memicu serangkaian pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman belajar siswa: Dapatkah museum mikro mengajarkan sejarah otentik? Bisakah kita membuatnya dapat diakses dan menghibur untuk anak-anak dan orang dewasa? Bagaimana kita berdamai dengan masa lalu komunitas kita?

Siswa harus mengetahui bahwa tidak semua masalah dapat diselesaikan. Kita tidak bisa meminta siswa untuk memecahkan masalah perubahan iklim, rasisme sistemik, dan ketimpangan ekonomi sendiri. Itu adalah tanggung jawab yang dimiliki oleh semua orang. Apa yang dapat kita lakukan adalah melokalisasi implikasi dari masalah ini dan membina hubungan yang lebih kuat dengan komunitas kita. Pembelajaran berbasis masalah membantu kami memberikan kesempatan ini kepada siswa.




Cewangputih adalah blog yang konsern pada masalah pendidikan dan peradaban untuk memperkaya ragam madah pengetahuan. Ingin mendapatkan langsung konten cewangputih jadilah "dunsanak cewangputih" dan "guru go-blog"
https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g
https://www.facebook.com/groups/1161463424621364/?ref=share


https://www.edutopia.org/article/3-keys-making-project-based-learning-work-during-distance-learning