Rabu, 31 Agustus 2022

Blended Learning Untuk Banyak Topik



Selama menelusuri dalam perjalanan mengasyikkan jalan PBL disitu saya banyak menemukan jalan setapak lain yang berhubungan dengan jalan PBL itu sendiri. Saya begitu menikmati pemandangan, jalur, view, dan banyak spot yang melenakan pikiran. Saya katakan pada anda bahwa saya kehabisan stok kosakata untuk mereprentasikannya dalam susunan huruf huruf. Saya "bak cando sibisu barasian" tersebut ada terkatakan tidak. Salah satunya adalah "Blended Learning" yang entah lebih menarik mana dari PBL. Sebaiknya di tiap sekolah yang mengusung bingkai Sekolah Penggerak dan Program Keunggulan dalam opini saya sebaiknya memiliki PBL center yang mengakomodir hal lain yang jelas diluar jangkauan Komite Pembelajaran. Blended Learning (BL) memungkinkan guru untuk membuat pelajaran interdisipliner yang menarik yang mengekspos siswa ke berbagai modalitas belajar dan penilaian dalam pembelajaran berbasis proyek. Guru bisa mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang apa yang siswa ketahui.

Itulah luar biasanya SMA 8 Padang yang lebih dulu membuat PBLcenterSMANDEL (PBLcS) walaupun bukan sekolah pertama di Sekolah Penggerak. PBLcS seperti memberi tahu anda semua tentang pemahaman 'adjustive' ditengah kerumunan mereka yang adaptive. Sampai saat ini akan tetap tegar berbagi dengan anda semua tentang lika liku PBL yang mainstream tidak laku laku. Kenapa begitu? Pertanyaan umum yang muncul saat anda merancang dan mengimplementasikan pembelajaran berbasis masalah dan proyek (PBL) adalah bagaimana anda akan menilai pembelajaran siswa secara efektif? Anda merasa terjebak disana dan anda ingin keluar dari sana, tetapi ketika PBLcS mengatakan pada anda bahwa anda tidak perlu keluar! Anda tidak terjebak! Anda akan menyeringai seperti keledai yang berasa kuda kavaleri. Bagaimana mungkin? Saya akan "takah iko takah ikoan" anda sambil menunjuk nunjuk, "ini adalah merdeka belajar, tidak masanya bicara nilai angka angka yang semakin tinggi semakin dianggap pintar! Kini adalah saat bicara Capaian Pembelajaran, jelas?

Meskipun kemungkinan ada banyak jawaban untuk pertanyaan itu, tapi semua jawaban harus dikaitkan dengan menggunakan serangkaian penilaian untuk menangkap pembelajaran siswa dengan cara yang berbeda; beberapa penilaian dari waktu ke waktu untuk memastikan bahwa anda memiliki beberapa cuplikan pembelajaran siswa; capaian untuk menginformasikan pengajaran dan pembelajaran sebelum, selama, dan setelah unit studi; dan capaian di seluruh tingkat kompleksitas untuk mengidentifikasi kemajuan siswa untuk memastikan bahwa pembelajaran yang berkualitas terjadi.

Ketika bahan-bahan itu ada, anda dan siswa sama-sama lebih mampu memahami kualitas pengajaran dan kemajuan pembelajaran siswa. Dengan demikian, anda akan mengukir jalan ke depan dalam proses belajar-mengajar.

Baca juga:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02eKmPX8b3S9sDeuXvfmVUjHv1fzXyUBbjTFfUuWQgK98rctNiSXQM6wPCwF42RcC5l&id=100079854677338

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0tczvdDBwyeHizDqUPS42JG496WUCApdPNZvpL5BHqFyMnwKg3e27zSfHeuykmxh9l&id=100079854677338

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02xc69nF9W1ex2eF3eP8uBUVzw5fSSbhYXsmL3krcqq7mqk2mQg4a9qRZALhuB4iKRl&id=100079854677338


PBL KERAS DENGAN DESAIN

PBL ketat didefinisikan sebagai metodologi berbasis inkuiri yang mengharuskan siswa untuk memecahkan masalah dunia nyata dengan belajar permukaan, mendalam, dan transfer pembelajaran. Kekakuan didefinisikan sebagai intensitas dan integrasi yang sama dari ide-ide permukaan ("Saya tahu"), ide-ide yang dalam ("Saya dapat menghubungkan"), dan transfer ("Saya dapat menerapkan").

Misalnya, seorang siswa dapat mengetahui nama dan sifat spesifik unsur-unsur pada tabel periodik (permukaan), membandingkan dan membedakan unsur-unsur yang berbeda berdasarkan perilaku mereka seperti yang diwakili pada tabel periodik (dalam), dan menerapkan pembelajaran mereka dalam percobaan ketika membuat kasus untuk strategi pemurnian untuk mengekstraksi minyak (transfer).

Dalam PBL tentunya anda ingin menemukan cara untuk menyediakan berbagai capaian ini di seluruh unit studi. Dalam PBL yang ketat, menurut Mc. Dowell (Edutopia, 17 Agustus 2022) membagi PBL menjadi empat fase:

Tahap 1: Siswa menghadapi masalah dunia nyata yang mengharuskan mereka untuk menentukan harapan pemecahan masalah.

Fase 2: Siswa membangun pengetahuan dan keterampilan baru yang penting untuk memenuhi harapan kurikulum dan proyek.

Fase 3: Siswa memperdalam pengetahuan dan keterampilan mereka dengan terlibat lebih awal dan sering dalam diskusi kelas untuk memperkuat pemahaman tentang prinsip dan praktek.

Fase 4: Siswa mempelajari keterampilan tingkat transfer untuk memecahkan masalah yang disajikan selama Fase 1.


DIVERSIFIKASI PENILAIAN

Kita dapat menilai pembelajaran siswa dalam beberapa cara. Berikut adalah tiga pendekatan untuk penilaian:

1. Berhenti dan lihat capaian. Salah satu caranya adalah dengan mengganggu pembelajaran siswa dan memberitahu capaian mereka . Ini bisa berupa tes, kuis, atau presentasi formal. Ini mungkin bentuk pencapaian yang paling umum di kelas.

2. Capaian dalam tindakan. Pilihan lain adalah capaian siswa saat mereka terlibat dalam pembelajaran, dan anda akan melihat capaian kinerja mereka tanpa menghentikan mereka pada saat itu. Ini bisa berupa menonton siswa berdebat, memecahkan masalah matematika selama latihan mandiri, atau menyusun ulang tagihan di kelas.

3. Mintalah siswa membangun capaiannya. Pilihan terakhir adalah bagi siswa untuk membangun cara di mana ingin mereka capai. Dalam proses ini, siswa dan anda bekerja sama untuk mengidentifikasi area yang perlu dicapai, dan siswa menemukan cara untuk menunjukkan praktek itu. Misalkan seorang siswa ingin menunjukkan pemahaman mereka tentang sudut geometris: Mereka dapat mengusulkan menggambar dan memberi label sejumlah sudut di depan guru.

Saat anda merancang capaian buat mereka anda tentu ingin memastikan bahwa capaian tersebut memenuhi setiap tingkat permukaan, kedalaman, dan transfer. Karena itu, akan sangat membantu untuk membuat kisi sederhana yang menjabarkan setiap tingkat kerumitan dan setiap jenis penilaian.


DIVERSIFIKASI PENGGUNAAN PENILAIAN ANDA DENGAN SISWA

Anda menggunakan pencapaian untuk sejumlah alasan. Salah satunya adalah capaian akhir dari urutan pembelajaran dan melaporkan pembelajaran siswa. Anda menyebutnya capaian sumatif. Anda juga menggunakan model capaian formatif, atau pengumpulan data sepanjang perjalanan belajar siswa untuk melihat capaian kinerja saat ini dan membuat penyesuaian.

Sebelum melihat capaian, mintalah siswa untuk mencatat di mana mereka berada dalam pembelajaran mereka, bagaimana kinerja mereka dalam pembelajaran mereka, dan langkah selanjutnya apa yang mungkin perlu mereka ambil.

Capaian akhir. Mintalah siswa untuk mengevaluasi setiap dan semua perbedaan antara pra-capaian mereka dan kinerja mereka saat ini. Mintalah siswa untuk membagikan langkah selanjutnya yang dapat mereka ambil untuk meningkatkan.

Check-in mingguan/harian. Minta siswa untuk melihat capaian kinerja mereka saat ini dengan menggunakan alat seperti kriteria keberhasilan dan informasi pencapaian terkini dan diskusikan potensi perbedaan dalam pencapaian itu. Bekerja dengan siswa untuk mengembangkan langkah selanjutnya untuk meningkatkan atau meningkatkan pembelajaran mereka.


MENYATAKANNYA

Bagaimana kita menyatukan semua ini untuk meningkatkan pembelajaran siswa di lingkungan PBL? Mari kita lihat contoh untuk memperkuat pemahaman baru tentang diversifikasi portofolio capaian siswa.

Fase 1: Selama peluncuran entri, anda dapat menggunakan "berhenti dan menilai" sebagai cara untuk mengidentifikasi pengetahuan awal siswa. Kita dapat “melihat capaian dalam tindakan” dengan mendengarkan siswa saat mereka mengerjakan tugas awal atau menyelesaikan daftar yang perlu diketahui.

Fase 2: Guru dan siswa terlibat dalam check-in kinerja setiap hari selama 2-3 menit. Guru menenun sejumlah pencapaian "berhenti dan lihat capaian" dan "capaian dalam tindakan" di tingkat permukaan.

Fase 3: Saat siswa memperdalam pembelajaran mereka, guru dapat menangkap data pencapaian sumatif dari permukaan siswa dan pengetahuan mendalam. Ini adalah kesempatan besar bagi siswa untuk terlibat dalam refleksi pra-/pasca-pencapaian dan menentukan langkah selanjutnya. Selain itu, proses ini dapat berfungsi sebagai umpan bagi siswa untuk mengembangkan penilaian yang dibangun siswa untuk menampilkan semua tingkat pembelajaran selama fase 4.

Fase 4: Selama fase ini, anda lebih mengandalkan “pencapaian dalam tindakan” pada tingkat transfer serta pencapaian yang dibuat siswa untuk membuat pencapaian atas pembelajaran siswa dan menyampaikan pemikiran mereka kepada siswa

Anda tidak akan berjalan sendiri dalam pencarian menuju PBL karena anda akan dilengkapi dengan:

 Jika menurut anda ini bermanfaat untuk orang lain, silahkan dibagikan agar lebih teraebar.











Senin, 29 Agustus 2022

Menciptakan Kelas yang Didorong oleh Siswa



Bagaimana pendapat anda ketika dihadapkan dengan pertanyaan krusial "maukah anda mengambil langkah mundur dalam pembelajaran? Pasti anda akan tidak mau melakukannya karena sama seperti saya, anda akan terganggu dengan kata "mudur". Anda yang berpikiran maju sekali lagi akan apriori dengan ini. Lalu apa maksud dari semua ini? Jangan terlalu cepat menilainya karena saya akan jelaskan pada anda tentang semuanya. Saya akan deliverikan pada anda disamping saya juga mendapatkan pemahaman lebih mendalam dari Miriam Plotinsky yang dipublikasikan di 'edutopia' 13 Juni 2022. Ide dari semua ini adalah untuk menciptakan pembelajaran "two ways ticket" yang mengeksplorasi siswa sebagai pusat pembelajaran.

Ketika perjalanan dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) anda pernah mungkin mendapati materi pelajaran yang kurang didorong oleh anda. Kenapa ini terjadi? Jawaban anda adalah bermacam faktor psikologis bawaan dari dalam diri anda dan juga dari atmosfir kelas dari siswa anda. Tentu anda akan berusaha mencoba pendekatan yang lebih strategis dan proaktif. Kuncinya adalah anda harus cepat keluar dari zona tadi. Jika anda berpikir untuk menghilangkan sebagian diri abda sebagai titik fokus kelas, itu tidak berarti anda menghapus diri anda sendiri dari persamaan. Sebaliknya, anda kembangkan ketangkasan untuk memenuhi sejumlah tuntutan yang terus berubah dengan siswa untuk menghadapi tantangan dalam pembelajaran yang akan anda taklukkan. Ide ini mungkin terdengar diinginkan dalam teori tetapi tidak dapat dicapai dalam praktek. Anda tentu akan bertantanya balik pada saya, "Anda sendiri bagaimana?" Jawaban saya adalah 'sama', saya tentu tidak sebaik anda disana, terutama mengingat kebutuhan yang sangat nyata dan mendesak yang diproyeksikan siswa secara konstan. Untuk mengeksplorasi lebih lanjut seperti apa memiliki lingkungan belajar yang sebagian melampaui seorang guru, mari kita bandingkan model kelas statis yang diarahkan guru dengan model dinamis yang berpusat pada siswa.

INSTRUKSI STATIS ATAU DINAMIS?

Bayangkan sebuah sekolah menengah yang cukup besar untuk menampung sayapnya sendiri untuk kelas matematika (MAkin TEliti MAkin TIdak KAruan). Ups, saya hanya bercanda untuk tidak terlalu tegang dalam penelusuran "ota"an saya. Guru dari tim yang sama telah ditempatkan berdekatan satu sama lain untuk kolaborasi dalam frame sekolah penggerak di kurikulum merdeka yang lebih mudah. Pada hari khusus ini, seorang pemimpin instruksional - saya tidak tahu kosakata yang pas karena saya bukan guru penggerak - telah merencanakan untuk mengamati dua kelas geometri secara berurutan untuk menentukan seberapa baik bidang pelajaran yang sama di kelas yang berbeda sejajar. Dalam skenario ini, guru telah mengoordinasikan isi pengajaran mereka tetapi bukan metode penyampaiannya. Kelas sedang bekerja untuk membuat tabel dan kemudian membuat grafik persamaan linier, dan pemimpin instruksional ingin melihat seberapa baik siswa memahami beberapa konsep dasar untuk memenuhi tujuan pembelajaran ini. Bayangkan visualnya dalam pikiran anda.

Di kelas pertama, guru berdiri di papan dengan masalah kata yang diproyeksikan ke layar. Siswa duduk dengan tenang dalam barisan dengan buku catatan mereka, menyaksikan guru mendemonstrasikan masalah kata. Guru memodelkan proses konversi hasil soal kata ke dalam tabel kemudian memplot angka-angka pada tabel tersebut menjadi titik-titik pada grafik. Saat guru berbicara, beberapa siswa mencatat sementara yang lain hanya menonton. Anggota kelas yang lebih pasif mungkin memperhatikan, atau mereka mungkin tidak mengerjakan tugas dengan sejumlah gangguan, mulai dari berkirim pesan di ponsel hingga menguap dan mulai mengantuk. Lebih aktif secara lahiriah, siswa vokal mengangkat tangan untuk mengajukan pertanyaan. Guru mengulangi proses penyelesaian persamaan dengan dua masalah kata lagi sebelum beralih ke fase kelas berikutnya. Ketika guru selesai mendemonstrasikan proses membuat grafik persamaan linier, dia memproyeksikan masalah kata baru ke papan tulis. "Giliranmu," katanya.

Siswa membuka buku catatan mereka ke halaman baru dan mulai mengerjakan masalah. Beberapa dari mereka menyelesaikan tugas dengan cepat dan tanpa perjuangan alias "mancenet". Beberapa siswa menatap ke "paran paran", mengabaikan tugas sampai guru (yang beredar) datang di dekat meja mereka. Sejumlah siswa mengangkat tangan dan meminta bantuan, karena belum sepenuhnya memahami demonstrasi di papan tulis. Seorang siswa berkeliaran di sekitar ruangan, menawarkan bantuan kepada teman sekelas lainnya tanpa diarahkan untuk melakukannya. Ada juga yang minta permisi keluar dengan alasan klasik buang air. Ketika bel berbunyi, siswa mengumpulkan buku catatan mereka saat guru berkata, “Besok kita akan mengadakan kuis ini, anak anak. Bersiap."

Pemimpin instruksional kemudian menuju ke kelas geometri kedua. Sekali lagi, siswa belajar membuat grafik persamaan linear. Saat kelas dimulai, guru memproyeksikan rangkaian masalah kata yang sama yang digunakan rekannya dalam pelajaran sebelumnya ke papan tulis bersama dengan gambar tabel dan grafik kosong. Siswa sekali lagi memiliki buku catatan, tetapi meja mereka tidak lagi berjajar. Sebaliknya, mereka diatur dalam kelompok kecil. Guru telah menempatkan setengah lembar kertas yang ditandai dengan meja kosong dan grafik pada setiap set meja, beserta tanda meja yang bertanda A, B, atau C. Huruf-huruf ini sesuai dengan proyeksi soal kata, juga bertanda A, B, atau C. Di dalam kelas, ada dua kelompok untuk setiap huruf, sehingga total enam kelompok.

Guru menginstruksikan siswa untuk melihat masalah kata kelompok mereka telah ditugaskan untuk belajar. “Saya tahu bahwa kita belum belajar bagaimana mengerjakan soal kata ini,” kata guru itu. “Dalam kelompok kalian, luangkan waktu sekitar 10 menit untuk melihat kata masalah. Pada setengah lembar kertas kalian, tuliskan beberapa pertanyaan tentang masalah tersebut. Pertanyaan-pertanyaan ini bisa tentang situasi dalam masalah, atau mungkin ada hubungannya dengan cara-cara untuk mendekati tugas. Tidak ada pertanyaan yang salah. Pikirkan saja sebanyak mungkin pertanyaan terbuka yang kalian bisa bersama-sama, dan kemudian kita akan kembali bersama sebagai sebuah kelompok.”

Siswa berkerumun dalam kelompok mereka, melihat bolak-balik antara masalah kata yang ditugaskan kepada mereka dan tabel kosong dan grafik pada setengah lembar kertas mereka. Perlahan-lahan, saat mereka menyesuaikan diri dengan permintaan guru, mereka mulai berbicara. Seorang siswa bertanya, "Apa hubungan antara tabel dan grafik?" Di kelompok lain, seorang anak laki-laki mengerutkan kening ketika dia berkata, "Saya tidak tahu apa arti kata 'linier'." Salah satu teman satu kelompoknya mendorongnya, menjawab, “Mungkin tuliskan itu?” Saat siswa berbicara, guru berkeliling tetapi tetap relatif tenang, mendengarkan dengan cermat dan mengamati kelompok. Saat dia berjalan, dia meletakkan potongan besar kertas grafik di dinding di seluruh kelas. Setiap lembar kertas grafik ditandai di atas dengan A, B, atau C dengan waktu kerja yang ditentukan.

Ketika timer berbunyi, guru berbicara di kelas. “Mari kita luangkan waktu sejenak dan catat pertanyaan kita di kertas grafik. Kemudian, kita akan membahasnya.” Siswa menulis pertanyaan yang baru saja mereka kembangkan dalam kelompok di atas kertas, dan guru berbicara lagi. “Berjalanlah di sekitar kelas dan lihat pertanyaannya,” katanya. “Apa saja pola yang kita lihat dengan pertanyaan? Pertanyaan apa yang kalian harap kalian tanyakan? Pikirkan tentang apa pun yang menyerang kalian dan bersiaplah untuk membicarakannya.” Siswa bergerak di sekitar kelas dalam kelompok mereka, melihat setiap rangkaian pertanyaan dan membicarakannya saat mereka menemukan ide-ide yang beresonansi.

Sepanjang sisa periode kelas, guru membimbing kelas dengan melihat pertanyaan-pertanyaan, menyaring berbagai kategori yang sesuai, dan mendorong kelompok untuk mulai mencari jalan yang mungkin untuk memecahkan masalah. Sebelum kelas berakhir, guru menjelaskan, “Pendekatan induktif ini memungkinkan kalian untuk mengeksplorasi beberapa cara kreatif untuk bekerja melalui pembuatan tabel dan grafik persamaan linier sebelum kita melihat beberapa proses yang lebih teruji besok. Sebelum kalian pergi, silakan kembali ke setengah lembar kertas kalian dan luangkan waktu sejenak untuk memberi bintang di sebelah pertanyaan membara yang kalian miliki tentang memecahkan masalah kata ini. Itu bisa berupa pertanyaan yang sudah kalian tulis, atau bisa juga pertanyaan baru. Lalu, berikan pada saya saat kalian keluar dari pintu. ”

Dalam kisah dua ruang kelas ini, satu model dapat diprediksi sementara yang lain berbeda. Selain manfaat nyata dari lingkungan yang aman untuk pengambilan risiko dan pertanyaan yang diberikan oleh kepemilikan aktif siswa terhadap pembelajaran dalam model kedua, struktur kelas juga meningkatkan kekuatannya. Para siswa di kelas itu menjadi terbiasa untuk didengarkan dan mereka merasa nyaman mengambil risiko yang menempatkan mereka di pusat perolehan keterampilan baru. Jika guru tidak hadir, kelompok kedua siswa akan dapat bekerja sama untuk mencapai hasil belajar, dan mereka juga akan percaya pada kemampuan mereka untuk membuat kemajuan tanpa kehadiran konstan atau dorongan dari orang dewasa. Siswa pada kelompok pertama adalah siswa yang sangat tergantung yang menunggu guru mengarahkan semua kegiatannya; siswa di kelompok kedua tidak perlu menemui guru mereka untuk mengetahui apa yang harus dilakukan karena mereka telah mengambil tanggung jawab untuk pembelajaran mereka sendiri. Guru di kelas kedua percaya pada murid-muridnya, dan dia tahu bahwa dia dapat belajar lebih banyak tentang apa yang dibutuhkan siswa dengan mengamati daripada berbicara.

Di kelas pertama, baik guru maupun siswa akan tetap statis, dalam pola melingkar yang sama, sepanjang tahun. Dengan setiap konsep geometri baru, guru akan mendemonstrasikan masalah di papan tulis dan siswa akan menyelesaikan pekerjaan dengan memuaskan atau berjuang. Jika yang terakhir terjadi, siswa yang kurang berhasil kemungkinan besar akan dipandang sebagai malas atau kurang mampu, dan guru akan frustrasi pada ketidakmampuannya untuk menjangkau mereka karena sifat kumulatif dari instruksi matematika menempatkan siswa yang tidak berhasil semakin jauh tertinggal. Sebaliknya, daya tanggap adalah bagian organik dari bagaimana guru mendekati instruksi di kelas kedua. Suara siswa jelas merupakan prioritas tinggi dalam perencanaan dan pelaksanaan pelajaran, dan kenyamanan yang akan dirasakan setiap siswa ketika didengar dan dalam membuat kesalahan menghasilkan ruang kelas yang mencakup ketidakpastian dan pengambilan risiko.

Bebaskan ruang kelas dari manajemen mikro yang terlalu adaptif oleh Komite Pembelajaran Sekolah yang lebih kepada pendekatan berorientasi tugas. Apalagi mereka para guru yang masih memakai LKS disana. Ditambah PBL hanya menjadi proyek hidangan penutup. Fokuskan pada memprioritaskan hasil belajar dan melihat gambaran yang lebih besar tentang apa yang perlu diketahui siswa dapat lebih efektif mengelola tekanan dalam mempelajari kurikulum merdeka. Saat kelas membuat makna kolaboratif dari konten, perspektif setiap pelajar dihargai. Ketika siswa melihat bagaimana kekuatan suara mereka berkontribusi pada kelas, komunitas belajar menjadi semakin berpusat pada keberhasilan siswa, memberi kita kebebasan untuk menyingkir dan menyaksikan keajaiban kelas milik siswa berlangsung.


Cigok:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02e9cPDzKJccH5Wa6WvFN2ChQKQiB5K4DanruM2u4bXNx9dDeMMD7vL1MM3R9akS5jl&id=100079854677338

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02xJHdWjr31auGUF3GxGKunR4fwPMxtxFgtbqhLRC7kuS6YTfn4CS6gKL4n6sYkvibl&id=100079854677338

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0bgKy25N4BkQfTbrhsmQLR3crkvgSgAZvJXaBnctQ2bKFngAicFQ5ZCCENcoPw2HRl&id=100079854677338



Kamis, 25 Agustus 2022

Voyage to PBL



Ada hal menarik "banak" dan menggelitik "utak" sebenarnya dari judul diatas kalau anda benar benar seorang 'digest reader'. Apalagi muncul pertanyaan, apa hubungannya dengan pernyataan di gambar diatas? Kata 'perjalanan' dalam bahasa memiliki padanan lebih banyak dalam bahasa Inggris. Kenapa tidak menggunakan journey, road, travel, ship, plane,  fly atau drive to PBL? Voyage to PBL bisa dimaknai adalah berbahaya anda kesana, atau anda jangan pernah kesana, atau anda tidak dapat melakukaannya, atau itu tidak menarik bagi anda. Belum lagi, karena di PBL ada kosakata proyek akan berbahaya nantinya kolaborasi anda, karena filosofi gambar diatas adalah deskripsi sederhana dari apa yang saya maksud. Anda akan susah memahaminya, tapi tahunan dari sekarang atau anda "inok tanuangkan" barulah terkatup mulut anda yang sedang menganga itu. 


Tahapan dalam voyage to the end of PBL menurut PBLworks. 

1. DISCOVER: The What and Why of PBL

Apakah anda pernah mendengar tentang PBL dan anda sedang meninggikan antene anda? Anda tahu PBL tapi anda ragu menggunakannya? Anda ingin mengetahui tentang PBL?. Anda juga sedang mencari tahu untuk menaikkan dampaknya dalam pembelajaran siswa anda? Anda beruntung karena disinilah saat tepat bagi anda untuk mendapatkan PBL dari sumber, penelitian dan cerita lebih dalam dan komprehensif dibandingkan 'lack of' literatur resmi yang terbaring dalam "utak" anda. Pelajarilah 'high quality' PBL disini. Lihatlah bagaimana PBL dibangun untuk siswa anda dari awal sampai akhir untuk siswa anda. https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/5653542967944637108 Bacalah bagaimana PBL memberikan dampak kegembiraan dan keceriaan terlihat di kelas anda. PBL bukanlah hidangan penutup dalam sebuah menu atau garnish di minuman coctail anda. Anda masih belum paham? PBL bukanlah panen karya akhir semester apalagi pajangan kertas koran/karton tugas siswa anda. Lucu jadinya karena apa bedanya dengan 'majalah dinding' yang hampir punah di sekolah sekolah. 

"Caliaklah"

Saya berharap akan tumbuh pada anda cara pandang yang sama dengan saya. Juga bagi anda guru yang sekolah anda telah lebih dulu menjadi sekolah penggerak, "kunun" pula anda yang baru di sekolah penggerak, apatah lagi anda yang belum dalam frame itu. Cara pandang yang akan meningkatkan pembelajaran siswa anda untuk mereka memasuki perguruan tinggi, karir dan dalam kehidupan mereka nantinya. 



Anda tidak akan berjalan sendiri dalam pencarian menuju PBL karena anda akan dilengkapi dengan:

Dengan anda, dari sini kita mulai.
  • Pemahaman dasar tentang apa itu PBL (apa yang bukan)
  • Alasan menarik buat anda kenapa harus ikut dalam voyage (perjalanan) ini.
  • Inspirasi dan contoh dari yang pernah melakukan PBL
  • Antusiasme original untuk kedepan.
  • Dampak kuat PBL pada siswa dan kehidupannya.

'Voyage to PBL' masih panjang wahai para guru, dan sampai disini masih satu 'stage' yang kita jalani. Sebelum kita lanjutkan ini, apakah ada diantara anda yang guru penggerak? calon guru penggerak? atau yang sedang bersiap siap kesana? Atau anda adalah guru yang skeptis, stereotipe, dan adaptif? Sebaiknya sekali lagi anda 'skip and avoid' artikel ini karena cewangputih bukan untuk anda. 

Cigok juo: 




2. LEARN : How to Design and Implement PBL

Apakah anda telah memutuskan untuk melaksanakan PBL dalam pembelajaran anda? Kinilah saatnya untuk menggambarkan bagaimana anda melakukannya dengan baik. Pada titik jalan setapak ini, apakah anda butuh bimbingan untuk melakukannya seperti apa yang anda inginkan? Membantu para guru dan kepala sekolah dalam pengembangan disain pembelajaran PBL yang lebih utuh sebagai sebuah metodologi adalah konsern cewangputih dengan koridor tulisan yang benar benar dalam pemahaman PBL. Untuk alasan itu juga sebenarnya keberadaan PBLcenterSmandel dimunculkan. 


Disini Bersama Dengan Anda. 
Sebelum memulai pengaplikasian PBL di kelas semua tentang PBL sebaiknya dipahami bahwa mendisain proyek yang efektif diutamakan. Anda adalah pusat kreasi proyek yang nantinya akan anda implementasikan bersama siswa anda. Ada PBLcenterSmandel yang dapat bersinergi dan dapat anda ikuti karena cewangputih ada dibelakang itu. Anda juga bisa mengunyah ngunyah artikel cewangputih yang lumayan komprehensif bercerita tentang PBL dari sumber 'former' dan 'aplicator'. Inspirasi dari mereka dapat menjadi kekonfidenan dalam PBL untuk siswa anda.

Another source: 


IMPLEMENT : Your Project in Your Classroom 






Senin, 22 Agustus 2022

Langkah Dalam PBL


Apakah anda memulai perjalanan PBL di kelas anda sendiri itu dengan tidak paham atau mengasyikkan? Pertanyaan ini akan membuat anda "tatagun" untuk beberapa saat, karena anda berada pada posisi sulit dan tersudut. Mayoritas mendekati keseluruhan guru menjawabnya dengan kenyataan 'tidak paham', tapi dipermukaan akan menjawab 'menyenangkan". Kenapa begitu? Bukankah mereka telah mengikuti serangkaian prosesi yang cukup untuk porsi PBL? Begitu banyak yang dipelajari tentang apa yang berhasil dan tidak bagi anda sebagai seorang bagian dari frame besar yang bernama"sekolah penggerak".

Cewangputih akan ceritakan pada anda hal dapat anda lalui bersama siswa anda. Berikut adalah lima hal yang saya adaptasi dari PBLwork:

1. Kalender yang fleksibel

Ketika memulai pembelajaran di tiap semester anda menggunakan kalender pendidikan untuk minggu efektif anda. Disitu anda sudah mendapatkan berapa minggu efektif untuk perencanaan yang dapat anda gunakan. Anda bisa membagi waktu anda menjadi tiga fase: "Membangun Pengetahuan", "Menggunakan Pengetahuan" dan "Berbagi Pengetahuan." Fase-fase yang lebih luas ini akan membantu anda menyusun proyek sehingga anda memiliki fleksibilitas bawaan dan titik refleksi alami dan penilaian formatif.


Cigok:

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/3717087712564049122

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/1580118683439212657

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/3939854845788521470


2. Lembar proyek

Berikan siswa anda lembar proyek di awal perjalanan PBL sehingga mereka dapat melihat garis besar umum proyek dari awal hingga akhir. Lembar proyek ini adalah alat satu halaman yang, sebagai kelas, menjadi rujukan. Anda jadikan itu seperti cek pemeriksaan dari mana proyek berasal dan ke mana akan pergi/arahnya. Sangat menyenangkan melihat siswa anda pada hari pertama ketika anda membagikan lembar proyek - wajah mereka yang tidak percaya menunjukkan betapa khawatirnya mereka karena dapat menyelesaikan semua pekerjaan. Akan tetapi, selalu ada rasa bangga ketika mereka dapat melihat kembali lembar itu dan merasa sangat berhasil karena telah menyelesaikan proyek dengan sukses.


Untuk terus update artikel cewangputih silahkan gabuang WAG "dunsanak cewangputih" https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g


3. Capaian Pembelajaran

Capaian Pembelajaran menjadi semakin penting saat menyelesaikan proyek PBL di kelas anda. Siswa anda menemukan bahwa menyediakan struktur capaian sangat penting bagi keberhasilan proyek. Alih-alih memasukkan banyak capaian dalam sebuah proyek. Tiga hingga empat bisa anda gunakan sepanjang tahun. Memilih satu set kecil capaian efektif yang anda sukai untuk dikembangkan bersama siswa anda akan membantu membangun kelas kepercayaan PBL di mana semua siswa dapat merasa nyaman untuk memberi dan mendapatkan umpan balik. Pada saat proyek ketiga bergulir, siswa mengetahui capaian dan harapan dan akan berpartisipasi dengan sukarela dan sebagai ahli!


Ikuti IG pblcenter_smandel https://www.instagram.com/p/Cgw-BXRv8a5/?igshid=MDJmNzVkMjY=

atau https://www.facebook.com/profile.php?id=100082340348628

untuk dapatkan artikel cewangputih dari awal.


4. Suara dan pilihan siswa

Anda dapat memilih proyek yang akan dilakukan dengan pilihan yang diambil dari keinginan siswa. Ketika anda menjadi lebih nyaman dengan proses PBL, anda dapat secara bertahap melepaskan Elemen Desain Proyek Esensial itu dikembalikan kepada pilihan siswa anda. Proyek dibuat berdasarkan pilihan siswa dan anda "melepaskan" gagasan anda sendiri tentang seperti apa proyek itu seharusnya.

Misalnya: saat ini, siswa anda sedang menulis rencana aksi untuk panen karya sebagai bagian dari proyek PBL mereka. Ketika anda sedang merencanakan proyek, rencana aksi ini akan menjadi narasi tertulis (guru Bahasa Indonesia di sini). Tapi, mengapa siswa tidak bisa menggambarkan rencana tindakan? Membuat garis besar? Linimasa? Mengapa mereka tidak bisa memilih? Begitu anda melihat rencana aksi melalui lensa seorang siswa, elemen suara dan pilihan menjadi lebih jelas bagi anda. Beri mereka beberapa parameter dan biarkan mereka memilih jalurnya. Anda hanya tinggal mengarahkan mereka.

Ketika anda membaca refleksi proyek di akhir setiap proyek PBL, satu hal yang selalu menonjol adalah bahwa siswa anda menginginkan lebih banyak pilihan. Akan sangat bagus jika anda bisa melakukan bagian khusus dari proyek itu dengan cara ini.” Ini merupakan perubahan besar bagi anda sebagai seorang pendidik, tetapi hal itu paling memengaruhi siswa anda dalam hal kebahagiaan dan kesediaan mereka untuk berusaha lebih keras.


Tulisan cewangputih bisa ditelisuri di https://www.facebook.com/groups/1161463424621364/?ref=share


5. Pustaka proyek PBLWorks

Anda bisa menikmati dan menjelajahi ide-ide proyek di situs web PBLWorks. Ide-ide ini memberi anda inspirasi dan memberikan contoh yang baik tentang apa yang dimaksud dengan "Kualitas Tinggi". Karena standar dan kurikulum, anda mungkin tidak selalu dapat menggunakan proyek pra-paket dari PBLWorks, tetapi anda dapat menyesuaikannya agar sesuai dengan kebutuhan anda dan kebutuhan siswa anda. Ini adalah sumber yang bagus untuk siapa saja yang membutuhkan sedikit inspirasi dan bimbingan. Atau anda dapat bersinergi dengan PBLcenterSmandel (PBLcS) untuk pemahaman PBL lebih komprehensif dan untuk alasan itulah PBLcS ada. Pengambil kebijakan di semua sekolah terutama sekolah penggerak dapat me-inrichment pemahaman PBL lebih karena PBLcS bukan hanya diperuntukkan bagi SMA 8 semata.


Sumber: https://www.facebook.com/groups/2242575289316331/permalink/3225032967737220/


Kamis, 18 Agustus 2022

Memilih Penilaian yang Efektif untuk PBL


Dengan mendiversifikasi cara penilaian dalam pembelajaran berbasis proyek, guru bisa mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang apa yang siswa ketahui.

Oleh Michael McDowell 17 Agustus 2022


Pertanyaan umum yang muncul saat merancang dan mengimplementasikan pembelajaran berbasis masalah dan proyek (PBL) adalah bagaimana menilai pembelajaran siswa secara efektif? Meskipun kemungkinan ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini, semua jawaban harus dikaitkan dengan menggunakan

  • serangkaian penilaian untuk menangkap pembelajaran siswa dengan cara yang berbeda;
  • beberapa penilaian dari waktu ke waktu untuk memastikan bahwa kita memiliki beberapa cuplikan pembelajaran siswa;
  • penilaian untuk menginformasikan pengajaran dan pembelajaran sebelum, selama, dan setelah unit studi; dan
  • penilaian di seluruh tingkat kompleksitas untuk mengidentifikasi kemajuan siswa untuk memastikan bahwa pembelajaran yang berkualitas terjadi.

Ketika bahan-bahan ini ada, guru dan siswa sama-sama lebih mampu memahami kualitas pengajaran dan kemajuan pembelajaran siswa—dan, dengan demikian, mengukir jalan ke depan dalam proses belajar-mengajar.

Cigok:

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/1580118683439212657

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/3939854845788521470

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/7505866223107876003

PBL KERAS DENGAN DESAIN

PBL ketat didefinisikan sebagai metodologi berbasis inkuiri yang mengharuskan siswa untuk memecahkan masalah dunia nyata dengan belajar permukaan, mendalam, dan transfer pembelajaran.

Kekakuan didefinisikan sebagai intensitas dan integrasi yang sama dari ide-ide permukaan ("Saya tahu"), ide-ide yang dalam ("Saya dapat menghubungkan"), dan transfer ("Saya dapat menerapkan").

Misalnya, seorang siswa dapat mengetahui nama dan sifat khusus unsur-unsur pada tabel periodik (permukaan), membandingkan dan membedakan unsur-unsur yang berbeda berdasarkan perilaku mereka seperti yang diwakili pada tabel periodik (dalam), dan menerapkan pembelajaran mereka dalam percobaan ketika membuat kasus untuk strategi pemurnian untuk mengekstraksi minyak (transfer).

Gabuang WAG dunsanak cewangputih: https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g

Dalam PBL keinginan menemukan cara untuk menyediakan berbagai penilaian ini di seluruh unit studi. Dalam PBL yang ketat, dapat membagi PBL menjadi empat fase:

Tahap 1: Siswa menghadapi masalah dunia nyata yang mengharuskan mereka untuk menentukan harapan pemecahan masalah.

Fase 2: Siswa membangun pengetahuan dan keterampilan baru yang penting untuk memenuhi harapan kurikulum dan proyek.

Fase 3: Siswa memperdalam pengetahuan dan keterampilan mereka dengan terlibat lebih awal dan sering dalam diskusi kelas untuk memperkuat pemahaman tentang prinsip dan praktik inti.

Fase 4: Siswa mempelajari keterampilan tingkat transfer untuk memecahkan masalah yang disajikan selama Fase 1.

Ikuik Instagram pblcenter_smandel

DIVERSIFIKASI PENILAIAN

Kita dapat menilai pembelajaran siswa dalam beberapa cara. Berikut adalah tiga pendekatan untuk penilaian:

1. Berhenti dan menilai. Salah satu caranya adalah dengan mengganggu pembelajaran siswa dan memberi mereka penilaian. Ini bisa berupa tes, kuis, atau presentasi formal. Ini mungkin bentuk penilaian yang paling umum di kelas.

2. Menilai dalam tindakan. Pilihan lain adalah menilai siswa saat mereka terlibat dalam pembelajaran, dan hanya menilai kinerja mereka tanpa menghentikan mereka pada saat itu. Ini bisa berupa menonton siswa berdebat, memecahkan masalah matematika selama latihan mandiri, atau menyusun ulang makalah di kelas.

3. Mintalah siswa membangun penilaian. Pilihan terakhir adalah bagi siswa untuk membangun cara di mana mereka ingin dinilai. Dalam proses ini, siswa dan guru bekerja sama untuk mengidentifikasi area yang perlu dinilai, dan siswa menemukan cara untuk menunjukkan praktik itu. Misalkan seorang siswa ingin menunjukkan pemahaman mereka tentang sudut geometris: Mereka dapat mengusulkan menggambar dan memberi label sejumlah sudut di depan guru.

Saat merancang penilaian, dan ingin memastikan bahwa penilaian tersebut memenuhi setiap tingkat permukaan, kedalaman, dan transfer. Karena itu, akan sangat membantu untuk membuat kisi sederhana yang menjabarkan setiap tingkat kerumitan dan setiap jenis penilaian.

DIVERSIFIKASI PENGGUNAAN PENILAIAN DENGAN SISWA

Kita menggunakan penilaian untuk sejumlah alasan. Salah satunya adalah menilai akhir dari urutan pembelajaran dan melaporkan pembelajaran siswa. Kita menyebutnya penilaian sumatif. Kita juga menggunakan penilaian formatif, atau pengumpulan data sepanjang perjalanan belajar siswa untuk menilai kinerja saat ini dan membuat penyesuaian.

Dalam kedua penggunaan penilaian, kita ingin memikirkan bagaimana dapat mendukung siswa untuk terlibat secara aktif dalam mengetahui kinerja mereka dan merencanakan langkah selanjutnya. Berikut adalah tiga cara untuk mendukung siswa agar terlibat aktif dalam proses penilaian:

Sebelum penilaian. Mintalah siswa untuk mencatat di mana mereka berada dalam pembelajaran mereka, bagaimana kinerja mereka dalam pembelajaran mereka, dan langkah selanjutnya apa yang mungkin perlu mereka ambil.

Penilaian pasca. Mintalah siswa untuk mengevaluasi setiap dan semua perbedaan antara pra-penilaian mereka dan kinerja mereka saat ini. Mintalah siswa untuk membagikan langkah selanjutnya yang dapat mereka ambil untuk meningkatkan.

Check-in mingguan/harian. Minta siswa untuk menilai kinerja mereka saat ini dengan menggunakan alat seperti kriteria keberhasilan dan informasi penilaian terkini dan diskusikan potensi perbedaan dalam penilaian itu. Bekerja dengan siswa untuk mengembangkan langkah selanjutnya untuk meningkatkan atau meningkatkan pembelajaran mereka.


MENYATAKANNYA

Bagaimana kita menyatukan semua ini untuk meningkatkan pembelajaran siswa di lingkungan PBL? Mari kita lihat contoh untuk memperkuat pemahaman baru tentang diversifikasi portofolio penilaian kita.

Fase 1: Selama peluncuran entri, kita dapat menggunakan "berhenti dan menilai" sebagai cara untuk mengidentifikasi pengetahuan awal siswa. Kita dapat “menilai dalam tindakan” dengan mendengarkan siswa saat mereka mengerjakan tugas awal atau menyelesaikan daftar yang perlu diketahui.

Fase 2: Guru dan siswa terlibat dalam check-in kinerja setiap hari selama 2-3 menit. Guru menenun sejumlah penilaian "berhenti dan menilai" dan "menilai dalam tindakan" di tingkat permukaan.

Fase 3: Saat siswa memperdalam pembelajaran mereka, guru dapat menangkap data penilaian sumatif dari permukaan siswa dan pengetahuan mendalam. Ini adalah kesempatan besar bagi siswa untuk terlibat dalam refleksi pra-/pasca-penilaian dan menentukan langkah selanjutnya. Selain itu, proses ini dapat berfungsi sebagai umpan bagi siswa untuk mengembangkan penilaian yang dibangun siswa untuk menampilkan semua tingkat pembelajaran selama fase 4.

Fase 4: Selama fase ini, guru lebih mengandalkan “menilai dalam tindakan” di tingkat transfer serta penilaian yang dibangun siswa untuk membuat penilaian atas pembelajaran siswa dan untuk menyampaikan pemikiran mereka kepada siswa.

Silahkan bagikan link ini jika menurut anda orang lain perlu tahu artikel ini.


Sumber: https://www.edutopia.org/article/choosing-effective-assessments-pbl



Follow IG: @pblcenter_smandel












Rabu, 17 Agustus 2022

Asesmen Pembelajaran



"Cewangers" dan para guru. Sebelum memulai pembelajaran ada baiknya dilakukan asesmen. Dengan begitu anda akan mendapatkan gambaran ringkas tentang siswa anda dan ini sangat membantu pembelajaran anda dalam PBL nantinya. Dalam pedagogi dikenal dengan Assessment For Learning (AFL). Apa teori di balik AFL?

AFL sangat membantu dalam membuat pemahaman dan pengetahuan singkat tentang siswa yang akan menjadi agen pembelajaran dalam, seperti yang dijelaskan John Hattie, AFL membantu pelajar memahami seperti apa keunggulan itu dan bagaimana mereka dapat mengembangkan pekerjaan mereka sendiri untuk mencapai tingkat itu. Umpan balik memiliki efek positif pada prestasi pelajar. Dalam karya John Hattie tentang efektivitas pendidikan, Pembelajaran Terlihat untuk Guru (2011), Hattie peringkat strategi umpan balik 10 dari 150 faktor yang membawa peningkatan yang signifikan dalam hasil pelajar. Hal ini terutama benar jika strategi melibatkan umpan balik tentang pekerjaan pelajar itu sendiri.

Black dan Wiliam berpendapat bahwa jika guru menggunakan penilaian formatif sebagai bagian dari pengajaran mereka, siswa dapat belajar dengan kecepatan dua kali lipat. Penelitian Hattie juga menunjukkan bahwa menggunakan penilaian formatif di kelas membawa perbedaan dunia nyata dalam prestasi pelajar. Ada dua teori tantang AFL yang dapat dijadikan acuan asesmen pembelajaran sederhana PBL nantinya.

Teori atribusi

Teori atribusi mengatakan bahwa orang menjelaskan keberhasilan atau kegagalan mereka sendiri dengan cara yang berbeda. Beberapa faktor yang menyebabkan keberhasilan atau kegagalan dapat dikontrol dan beberapa tidak.

Contoh faktor yang mungkin dapat dikendalikan oleh pembelajar termasuk seberapa banyak usaha yang mereka lakukan dan seberapa tertarik mereka pada mata pelajaran tersebut. Faktor yang tidak dapat dikendalikan termasuk keberuntungan atau jumlah bantuan yang diterima siswa dari guru.

Peserta didik yang mengambil bagian dalam penilaian diri (sebagai bagian dari AFL) belajar untuk menghubungkan kegagalan dengan faktor-faktor yang dapat dikontrol. Misalnya, seorang pelajar yang mengerjakan tugas pekerjaan rumah dengan buruk mungkin menyadari bahwa mereka fokus pada materi pelajaran yang salah. Karena pilihan materi pelajaran berada dalam kendali mereka, mereka dapat meninjau, mengedit, dan meningkatkan pekerjaan. Menjadi terkendali dengan cara ini akan meningkatkan kepercayaan diri dan prestasi siswa.

Metakognisi

Metakognisi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan 'berpikir tentang berpikir' dan mendukung gagasan penilaian diri. Metakognisi menunjukkan bahwa semua peserta didik harus mampu merefleksikan pembelajaran mereka sendiri, untuk memahami bagaimana mereka belajar dengan baik dan untuk menafsirkan kembali setiap pengetahuan, keterampilan dan pemahaman konseptual baru yang telah mereka peroleh.

Pembelajaran terjadi ketika siswa diberi kesempatan untuk membangun pengetahuan dan pengalaman sebelumnya. Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa hanya memberi tahu peserta didik apa yang perlu mereka ketahui jauh lebih tidak efektif daripada membantu mereka membangun makna bagi diri mereka sendiri.

Untuk melihat tulisan lain cewangputih silahkan buka tautan berikut:

https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g

https://www.facebook.com/groups/1161463424621364/?ref=share

https://www.facebook.com/profile.php?id=100082340348628

Follow IG: @pblcenter_smandel