Jumat, 21 Oktober 2022

Komite Pembelajaran Berbasis Sekolah



Komite Pembelajaran Berbasis Sekolah (KPBS) terstruktur dengan baik untuk meningkatkan semua aspek pembelajaran berbasis proyek. Menurut Andrew Miller 2019, banyak sekolah di belahan dunia sana memiliki struktur untuk mendukung pekerjaan sekolah dalam pengembangan pendidikan. Mereka adalah tim yang mendedikasikan waktu untuk merencanakan bersama, menganalisis data, dan merencanakan intervensi dan pengayaan untuk sekolah. Mereka berkolaborasi untuk mendukung prestasi siswa dan menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama untuk semua siswa. Apa itu? Bagaimana? Bisakah ini disini? Anda yang skeptis berhenti disini. Anda yang streotipe jangan lanjutkan. Anda yang 'sok paten' skip saja ini. Karena ini tidak ditujukan pada anda.

"Anda dapat temukan arah pemikiran 'cewangputih' dan sebagai ragam madah pengetahuan dan  disini:"

https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g

https://www.facebook.com/groups/1161463424621364/?ref=share

https://padirabah.blogspot.com

https://cewangputih.blogspot.com

@pblcenter_

@4alam_official

Ide KPBS bisa dimasukkan kedalam keranjang menambah runyam dunia persekolahan. Karena hanya menambah tumpukan lembaga/badan/struktur sekolah yang banyak nama sedikit fungsi. Sebut saja, Komite Sekolah, Komite Pembelajaran, Supervisor, Pengawas Sekolah, Pengawas Binaan, Propela, KKG, dan apa sajalah itu namanya. Mereka punya fungsi tersendiri (dalil pembenaran) yang kadang tumpang tindih dan berjalan sendiri-sendiri. Geli jadinya, karena gaya dan pendekatan pembelajaran tidak juga berubah, berbanding dengan nama dan jargonnya. Simultansi monoton ini diselusuri oleh "the principal of school". Pemikiran sederhananya adalah biarkan semua mereka diatas berjalan menurut jerih payahnya, dan mereka secara serius dijadikan KBPS untuk berkolaborasi sesuai anasir mereka untuk peningkatan pembelajaran sekolah dan mutu sekolah. Mengerucut atau mengembang KBPS inilah yang tampilannya menjadi PBLCenter tiap sekolah.

"Jika menurut anda ini berguna untuk dunia pendidikan dan orang lain diluar anda perlu tahu ini, silahkan bagiakan seberapa bisa anda. 'cewangputih' merasa senang jika banyak orang lain tahu tentang ini."

Budaya dan pekerjaan ini dapat meningkatkan implementasi pembelajaran berbasis proyek (PBL), tetapi guru mungkin kesulitan untuk melihat bagaimana KPBS dapat mendukung PBL. Alih-alih menganggap KPBS dan PBL sebagai aspek yang terpisah dari pekerjaan mereka. Namun, ada cara khusus untuk membuatnya bekerja secara harmonis. Siklus proyek yang selaras dengan elemen KPBS dapat memastikan keberhasilan PBL yang lebih besar dalam hal pembelajaran guru dan siswa.



MENINGKATKAN IMPLEMENTASI PBL DENGAN KPBS

Kolaborasi Luar Biasa: KBPS "one piece" akan menjadi sakral untuk duduk bersama secara tim. Seluruh proses KBPS mendorong pertumbuhan profesional setiap individu, tetapi tim perlu menciptakan waktu untuk belajar dan diskusi bersama. Ini mungkin termasuk memeriksa bacaan pendek, video, sumber daya, bahan ajar dan lain lain sebagai sebuah Silabus Sekolah.

Waktu belajar bersama ini dapat digunakan untuk fokus pada aspek PBL. Mungkin sebuah tim belajar lebih banyak tentang merancang proyek yang efektif, atau membaca artikel tentang implementasi dan penilaian. Ini mungkin keluar dari tujuan unsur KBPS untuk tahun ini, atau dari refleksi pada proyek sebelumnya. Pembelajaran ini hanya dapat meningkatkan proyek PBL guru di masa depan. 'Baandai-andai urang dulu, babida-bida urang kini', ada dari anda yang adopsi ide ini.

Perencanaan Kolaboratif: Tim KPBS merencanakan pengajaran dan penilaian berkualitas tinggi. Ini cocok untuk PBL karena tim dapat merencanakan proyek bersama. Komponen perencanaan khusus pekerjaan KBPS meningkatkan perencanaan proyek: Dengan membongkar standar, tim dapat memastikan bahwa proyek jelas mengenai target penilaian dan bahwa mereka memiliki pemahaman yang sama tentang pencapaian siswa. Tim KBPS juga cocok untuk merencanakan penilaian dalam sebuah proyek, baik formatif maupun sumatif, termasuk produk utama dan pencapaian bahkan untuk ikut ikutan dalam frame panen karya. Serasa tidak sabar menunggu ini ada yang merealisasikan.



Selain itu, tim dapat merencanakan pelajaran umum yang mereka rasa perlu diajarkan oleh semua guru. Penting dalam proses ini untuk memercayai tim dan guru individu, dalam mempertimbangkan apa yang perlu dan tidak perlu direncanakan bersama—ini akan memungkinkan masing-masing guru memiliki otonomi dan bereksperimen dalam konteks pelaksanaan proyek.

Kritik dan Penyesuaian Proyek: Banyak sekolah mengharuskan semua proyek disetel sebelum implementasi sesuai tuntutan diatasnya. Kepala Sekolah adaptif tidak mau keluar dari pakem ini. Penyesuaian proyek adalah cara yang bagus untuk mendepersonalisasi instruksi, mendapatkan umpan balik dari rekan kerja, dan mempromosikan kolaborasi di berbagai tim.

Melihat Data dan Pekerjaan Siswa: Komponen penting dari pekerjaan KBPS adalah memeriksa pekerjaan siswa. Dengan melihat pekerjaan siswa, kami berbagi tanggung jawab kolektif untuk semua siswa dalam suatu kursus, dan mengidentifikasi siswa yang siap untuk pengayaan, menskafolding siswa yang membutuhkan intervensi dan bahkan mungkin diferensiasi. Ada banyak protokol untuk memeriksa pekerjaan siswa di luar sana, sehingga tim dapat memilih atau mengembangkan yang sesuai untuk digunakan sendiri. Coba tuntut mereka untuk kreatif, pembuktian terbalik dengan tampilan Komite Sekolah, Komite Pembelajaran, Supervisor, Pengawas Sekolah, Pengawas Binaan, Propela selama ini seperti duduk manis main perintah.

Saat sebuah tim sedang melaksanakan proyek PBL, tonggak proyek besar atau pos pemeriksaan formatif adalah kesempatan besar untuk berkumpul bersama untuk memeriksa pekerjaan siswa. Saat guru memeriksa data, mereka juga dapat mengidentifikasi strategi pengajaran yang sangat efektif. Misalnya, mungkin menjadi jelas bahwa satu kelas telah lebih berhasil daripada yang lain pada saat ini, yang menjadi kesempatan bagi guru untuk belajar dari satu sama lain. Inilah penampakan dari kerja KBPS.



Diferensiasi dan Intervensi: Sementara diferensiasi terjadi secara konsisten selama proyek PBL, guru juga dapat merencanakan intervensi dan peluang pengayaan yang lebih formal setelah mereka menganalisis pekerjaan dan data siswa.

Misalnya, guru mungkin menggunakan pendekatan “kelas bertumpuk” jika ada lebih dari satu guru untuk kelas atau tingkat kelas—guru yang berbeda dapat memberikan pelajaran khusus untuk siswa tergantung pada kebutuhan mereka. Atau KBPS dapat merencanakan instruksi atau intervensi kelompok kecil dengan bantuan spesialis (pihak ketiga)

Penting untuk diingat bahwa ini lebih dari sekadar siswa yang tidak berprestasi—siswa yang membutuhkan tantangan dan pengayaan dalam proyek juga dapat diidentifikasi oleh KBPS, dan langkah-langkah dapat diambil untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Refleksi dan Perayaan: Pada penutupan proyek PBL, penting untuk meluangkan waktu untuk merenungkan efektivitas proyek secara keseluruhan. Guru mungkin berdialog tentang pertanyaan panduan khusus, atau membuat jurnal tentangnya dan kemudian membagikannya. Tim BBPS dapat menggunakan waktu untuk menangkap refleksi ini dan merayakan keberhasilan mereka.

Ini juga merupakan kesempatan untuk menetapkan tujuan tim baru atau memantau kemajuan yang sudah ada. Kita harus meluangkan waktu untuk merayakan pembelajaran siswa dan pembelajaran guru.

PBL dan KBPS berjalan berbegangan tangan dengan harmonis sambil melagukan nyanyian gembira dan ceria bersama dengan sangat baik. Pekerjaan KBPS dapat meningkatkan pelaksanaan proyek secara keseluruhan dan mendorong perbaikan di masa depan. Guru yang bekerja sama dapat melakukan pekerjaan ini, dan PBLCenter sekolah juga dapat mendukungnya.

KBPS hanyalah sebuah nama yang bisa menjadi singkatan singkatan lain menurut selera anda. Anda disini adalah mereka yang yang menjadi kepala sekolah saat ini dan mereka yang duduk di lembaga penguasa pendidikan di negeri ini. Intinya (dengan sambil menakah iko-ikoan) adalah ide sederhana seperti diawal ini untuk keefektifan dan pergerakan yang bagus untuk pendidikan kedepan. Berharap idenya berjalan dengan kontribusi membangun dari anda anda yang merasa banyak makan asam garam disitu. Anggap saja ini adalah keliaran berfikir yang tidak mungkin bisa anda iringi dan tidak 'talap dek' anda melakukannya.








Rabu, 19 Oktober 2022

Sukses Dengan Diferensiasi



Diferensiasi pengajaran bukanlah hal yang mudah, tetapi (1) guru, (2) fasilitator/supervisor, (3) pengawas, (4) penasehat pembelajaran profesional dan bahkan (5) komite sekolah dapat bekerja sama untuk mengatasi hambatan tersebut. Ide ini terdengar tidak mungkin, tapi suatu saat nanti bisa terwujud dengan keseriusan pengelolaan pendidikan. Saat ini guru seperti berjalan sendirian di hamparan penuh ranjau dan terlihat 'tadah' untuk sasaran tembak dalam sebuah pertempuran. Sedangkan mereka yang nomor 2,3, dan 5 berlagak seperti pemimpin pasukan memongahkan kepala keatas ketika ada seremonial.

Suara siswa adalah topik hangat dalam pendidikan, yang membuat saya sangat senang—saya selalu berpikir bahwa siswa adalah kelompok pemangku kepentingan pendidikan yang perlu didengar. Tapi mereka dibungkam oleh ortodoksi pola pikir guru saat ini. Semuanya diset sesenyap mungkin, sampai sampai OSIS lebih hanya seperti robot remot kontrol. Mereka bukan subjek di kegiatan domain mereka. Bahkan ada sekolah yang memperlihatkan arogansi sektoral tidak melakukan pemilihan pembina OSIS itu sendiri. Unsur kimia apa ini?

"Anda dapat temukan arah pemikiran 'cewangputih' dan sebagai ragam madah pengetahuan dan  disini:"

https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g

https://www.facebook.com/groups/1161463424621364/?ref=share

https://padirabah.blogspot.com

https://cewangputih.blogspot.com

@pblcenter_

@4alam_official

Namun, Lisa Westman (2018) sebagai mantan guru yang memulai tahun keduanya sebagai konsultan penuh waktu yang bekerja dengan pendidik dasar menengah dalam diferensiasi pengajaran, Lisa menyadari bahwa ada kelompok pemangku kepentingan lain yang koaranya sama pentingnya dengan suara siswa, jika tidak lebih, jadi: guru.

MENGHORMATI KEAHLIAN GURU

Selama beberapa dekade sekarang, diferensiasi telah menjadi daftar inisiatif prioritas di sekolah swasta favorit. Bagaimana dengan sekolah anda? Apakah itu ada dalam Lokakarya sekolah anda? Bukankah sekolah anda adalah sekolah hebat? Anda yang punya kewenangan disini kenapa tidak pernah terpikirkan? Lokakarya menjadi sesuatu yang membosankan dan seperti aksioma lebih kepada mempersiapkan kelengkapan dan administratif. Makanya, diferensiasi pembelajaran hanya imajinatif dan menjadi kosakata rongsokan di sekolah-sekolah seperti itu. Mengapa?

Jawaban atas pertanyaan ini beragam. Sistem penilaian tradisional tidak mudah untuk membedakan, dan melacak siswa merusaknya. Namun, ada hambatan lain yang signifikan untuk memberlakukan inisiatif diferensiasi yang sukses dan berkelanjutan: kecenderungan yang meluas dari fasilitator, supervisor ataupun komite untuk mengabaikan suara guru.

Fasilitator semacam itu (apakah itu saya, anda, atau sesama guru) sering bersalah karena secara tidak sengaja mengabaikan sentimen perjuangan siswa. Anda melihat perjuangan ini sebagai perlawanan alih-alih mendengarkan apa yang dikatakan guru dan membedakan instruksi untuk kebutuhan guru.

Dalam pengalaman anda, sebagian besar contoh penolakan guru adalah tentang klaim yang valid, bukan keluhan yang tidak berdasar. Terkadang perjuangan yang dihadapi guru adalah dengan praktik khusus yang merupakan landasan diferensiasi, yang menghadirkan teka-teki.

Dalam upaya untuk membantu memutus siklus pengembangan diferensiasi tanpa akhir dan menemukan solusi untuk hambatan diferensiasi umum, anda telah bekerja dengan banyak guru untuk menciptakan solusi yang mencapai tujuan yang dimaksudkan dari praktik bermasalah dan juga menghormati profesionalisme guru, seperti yang diilustrasikan di sini dengan dua contoh.

Hambatan 1: PENILAIAN AWAL

Sentimen guru yang umum: “Penilaian awal terlalu lama untuk dilakukan, dan seringkali hanya menunjukkan bahwa sebagian besar kelas belum menguasai materi.” Tujuan yang dimaksudkan dari pra-penilaian: anda dapat menggunakan bukti dari pra-penilaian untuk merencanakan instruksi berdasarkan kebutuhan siswa. Data pra-penilaian akan menunjukkan kepada guru (antara lain) materi mana yang telah dikuasai siswa, sehingga guru dapat memberikan pengayaan, yang dapat berupa proyek jangkar yang dirancang bersama oleh guru dan siswa, atau tantangan yang memungkinkan bagi siswa untuk masuk lebih dalam ke niat belajar dengan mengajukan pertanyaan yang lebih kompleks.

Solusi: Bedakan pra-penilaian. Alih-alih memberikan semua siswa pra-penilaian seluruh unit yang intensif waktu, mulailah dengan memberikan semua siswa penilaian formatif cepat pada topik pertama yang tercakup dalam unit studi. Data dari penilaian formatif ini segera memberi tahu guru siswa mana yang mungkin sudah menguasai konten untuk seluruh unit.

Kemudian, berikan pra-penilaian unit penuh hanya kepada sekelompok kecil siswa yang telah menunjukkan bahwa mereka memiliki beberapa penguasaan konten unit. Hasil dari pra-penilaian ini akan memberi tahu guru apakah mereka perlu menawarkan pengayaan kepada siswa pada semua atau hanya beberapa bagian dari unit.

Untuk setiap topik berikutnya dalam unit, tawarkan penilaian formatif cepat kepada siswa yang tidak menunjukkan penguasaan pada penilaian formatif yang mencakup topik pertama. Tawarkan pengayaan topik tentang topik ini kepada siswa sesuai kebutuhan.

Hambatan 2: KERJA KELOMPOK

Sentimen guru yang umum: "Anda berjuang dengan kerja kelompok dan lebih memilih instruksi langsung."

Kebenaran yang jelas: Sekitar 10 tahun yang lalu, instruksi langsung mulai mendapatkan rap yang sangat buruk. Para guru diberi tahu bahwa mereka perlu menjadi “pemandu di samping, bukan orang bijak di atas panggung.” Namun, penelitian menunjukkan bahwa instruksi langsung sangat efektif untuk pembelajaran siswa.

Tujuan yang dimaksudkan dari kerja kelompok: Siswa bekerja secara kolaboratif untuk memproses dan memperdalam pemahaman mereka tentang konten.

Solusi: Gunakan campuran instruksi langsung dan pembelajaran kooperatif. Mari kita mulai dengan mengklarifikasi beberapa poin.

Pertama, instruksi langsung dan kuliah tidak identik. John Hattie telah mencatat bahwa instruksi langsung yang dilakukan dengan benar memiliki dampak yang lebih besar pada pembelajaran siswa daripada kerja kelompok yang dilakukan secara tidak benar. Instruksi langsung efektif ketika guru memberikan instruksi dalam segmen pendek, dengan sering memeriksa pemahaman dan kesempatan bagi siswa untuk memproses, berlatih, dan menerima umpan balik.

Kedua, kerja kelompok dan pembelajaran kooperatif tidak identik. Kerja kelompok adalah istilah ambigu yang mencakup segala sesuatu mulai dari siswa yang mengerjakan proyek bersama hingga siswa yang duduk dalam kelompok tetapi bekerja secara individu. Pembelajaran kooperatif terstruktur sehingga semua anggota kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat dalam pembelajaran yang ketat dan tepat.

Dengan klarifikasi ini dalam pikiran, untuk membuat campuran instruksi langsung dan pembelajaran kooperatif di kelas anda, ikuti langkah-langkah berikut:

Gunakan bukti penilaian formatif untuk menentukan siswa mana yang telah menguasai materi yang akan anda bahas selama pengajaran langsung.

Menawarkan pengayaan siswa yang memenuhi syarat.

Lanjutkan instruksi langsung seperti yang direncanakan dengan sisa siswa anda.

Buat jeda dalam pengajaran (setiap 7–12 menit tergantung pada usia siswa anda) untuk memeriksa pemahaman dan memberi siswa kesempatan untuk berlatih dan memproses.

Menggabungkan struktur pembelajaran kooperatif seperti Think-Pair-Share atau galeri berjalan selama istirahat dalam instruksi langsung.

PADA AKHIRNYA

Semua guru ingin siswanya berhasil, dan semua guru berusaha mewujudkannya. Itu semua diferensiasi. Anda memperumit diferensiasi dengan tidak membiarkan diri anda menjadi sementara dengan bagaimana anda menerapkan potongan-potongan dasar dari instruksi yang berbeda.

Sebaliknya, jika anda menjawab empat pertanyaan ini dalam perencanaan pembelajaran anda, diferensiasi akan selalu menjadi hasilnya: Apa yang dibutuhkan siswa? Bagaimana anda tahu? Apa yang akan anda lakukan untuk memenuhi kebutuhan mereka? Bagaimana anda tahu jika apa yang anda lakukan berhasil?


"Jika menurut anda ini berguna untuk dunia pendidikan dan orang lain diluar anda perlu tahu ini, silahkan bagiakan seberapa bisa anda. 'cewangputih' merasa senang jika banyak orang lain tahu tentang ini."



Ikon Diverifikasi Komunitas

Selasa, 18 Oktober 2022

Panduan Praktis Untuk Diferensiasi Pembelajaran

 


Dengan mempertimbangkan apa yang perlu diketahui siswa, minat mereka, dan bagaimana pembelajaran akan dinilai, anda dapat mendiferensiasikan melalui tagihan-tagihan.

"Mulai dari sini dan berikutnya semua gambar dalam artikel 'cewangputih' akan dimanisi dengan SMK 10 Padang. Kenapa?"

Diferensiasi Pembelajaran dimaksudkan untuk kebutuhan semua peserta didik adalah fokus penting yang dimiliki oleh banyak guru di seluruh dunia. Tidak ada lagi alasan bagi anda untuk tidak memahami ini jika anda adalah seorang guru. Anda pasti ingin siswa anda memiliki perkembangan lebih dari satu tahun kalender pendidikan. Anda jangan melihat siswa anda dari hasil akhir, tapi bukalah pikiran sempit anda dengan melihatnya dari effort mereka. Apakah mereka berjuang dengan dasar-dasar inti? hanya pada tingkat keterampilan yang sesuai? atau memiliki pemahaman yang melebihi hasil pembelajaran dari kurikulum? Ini adalah elemen kunci untuk dipertimbangkan dalam membedakan instruksi (John McCarthy, 2021):

Perencanaan: Konten, Proses, dan Produk

Akses Siswa: Kesiapan, Minat, dan Preferensi Pembelajaran

Lingkungan

Banyak yang telah ditulis untuk membantu anda terutama yang bersumbu pendek memikirkan dan memberikan pengalaman berbeda bagi siswa yang menyelaraskan dan menjelaskan elemen-elemen ini. Namun, pertanyaan dan tantangan yang paling sering didengar dan amati dari anda adalah? bagaimana anda secara efektif merencanakan diferensiasi yang disengaja yang dapat anda terapkan dan evaluasi dengan keyakinan dan pemahaman yang sama seperti pelajaran tradisional? Jawaban berikut didasarkan pada perubahan dalam cara menggunakan elemen perencanaan—konten, proses, dan produk—untuk diferensiasi, yang menemukan daya tarik di ruang kelas yang menggunakan pendekatan ini. Sayangnya anda tidak ambil perhatian untuk ini karena mayoritas dari anda lebih tertarik pada elemen untuk keuntungan finansial yang anda terima. Ditambah lagi dalam pikiran anda masih terbaring sudut pandang stereotipe dan penilaian atas dasar suka dan tidak suka. Algoritma apa ini?


PENDEKATAN TIGA RANGKA UNTUK PERENCANAAN DIFERENSIASI

Ada tiga rangka pendekatan yang bisa digunakan untuk perencanaan diferensiasi dalam pembelajaran menurut Jhon McCarthy. Ini dapat membantu anda dalam mengkanalisasikan panduan dan acuan anda dalam- konten, proses, dan produk-.

Satu: Konten.

Konten adalah apa yang siswa perlu ketahui, pahami, dan lakukan sesuatu. Saat mengidentifikasi hasil ini, anda juga membentuk penilaian dengan bagaimana peserta didik dapat mendemonstrasikan apa yang mereka pahami. Sukses datang dari guru menyelesaikan dua langkah untuk tugas ini.

"Anda dapat temukan arah pemikiran 'cewangputih' dan sebagai ragam madah pengetahuan dan  disini:"

https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g

https://www.facebook.com/groups/1161463424621364/?ref=share

https://padirabah.blogspot.com

https://cewangputih.blogspot.com

@pblcenter

@4alam_official

Pertama, mengidentifikasi keterampilan dan konsep khusus yang harus dicapai siswa. Inilah yang diukur dan dianalisis melalui berbagai penilaian. Membongkar, mengelaborasi, mengolaborasi keterampilan/kecakapan/pengetahuan dan konsep memungkinkan anda (1)untuk melacak kemajuan belajar siswa, (2)untuk bidang dukungan tambahan bagi siswa dengan kesenjangan yang signifikan dan pelajar yang siap (3)untuk kompleksitas di luar ekspektasi konten pelajaran. Pemahaman ini intinya adalah memungkinkan anda, komite pembelajaran, pengawas binaan, supervisor dan kepala sekolah berada di halaman yang sama dengan apa yang siswa perlu pelajari melalui diferensiasi yang disengaja.

Kedua, kumpulkan data tentang apa yang dibawa siswa ke konten yang terfokus. Terkadang, langkah ini dipandang sebagai menemukan strategi untuk merencanakan diferensiasi. Itu adalah kesalahan. Memenuhi kebutuhan pembelajar berarti mengetahui peluang apa yang mereka bawa ke pelajaran berdasarkan apa yang sudah mereka ketahui dan tantangan apa yang ada, berdasarkan kesenjangan di bidang kebutuhan inti. Contoh data siswa yang harus dikumpulkan sebelum perencanaan mencakup pengalaman dan minat hidup di luar sekolah dan keterampilan akademik. Menggunakan strategi seperti Knowing-Want-Learn charts atau need to know adalah salah satu cara untuk mengetahui apa yang sudah diketahui peserta didik tentang topik tersebut. Tingkat pemahaman mereka tentang konten harus diperhitungkan dalam perencanaan. Tidak ada siswa yang merasa terlibat dengan pelajaran atau sesi yang menyampaikan konten yang telah lama mereka kuasai. Tahap perencanaan ini juga membantu untuk mengkonfirmasi kesenjangan dalam pengetahuan.


Pendidik harus mengumpulkan informasi tentang minat dan hasrat siswa yang mungkin terkait dengan, atau memberi mereka latar belakang, penerapan konten. Data ini dapat menghasilkan pengalaman belajar yang kaya, seperti menyediakan teks informasi untuk dibaca dan dianalisis dari artikel tentang olahraga atau Minecraft jika banyak siswa mengidentifikasinya sebagai bidang minat.

"Mudah-mudahan artikel 'cewangputih' dapat berguna bagi semua sebagai bahan bacaan, tulisan untuk PTK dan naik pangkat, literasi di kurikulum baru, referensi penulisan dan lainnya."

Menyelesaikan dua langkah ini akan membantu memastikan bahwa anda merasa siap dengan harapan kurikulum tertentu pada tingkat yang ditargetkan. Ini juga memastikan bahwa anda sepenuhnya menyadari apa yang dibawa siswa ke konten dalam hal peluang dan tantangan.

Dua: Proses

Proses adalah tentang berbagai cara siswa memahami konten. Siswa membutuhkan pengalaman pemahaman yang sering melalui berbagai cara dan kesempatan yang berbeda. Anda mewujudkannya melalui pelajaran yang terdiri dari serangkaian kegiatan.

Diferensiasi melalui proses diterapkan dalam satu atau lebih kegiatan ini yang membentuk pelajaran. Guru mungkin mulai dengan membedakan satu kegiatan. Ketika kepercayaan diri dan pengalaman tumbuh, sebagian besar kegiatan pelajaran dapat dibedakan. Fokus diferensiasi yang disengaja untuk proses didasarkan pada peluang dan tantangan konten siswa. Ini juga menggabungkan setidaknya satu dari elemen akses pelajar: kesiapan, minat, dan preferensi belajar.

Berikut adalah dua contoh pada dua (2) mata pelajaran

Bahasa Inggris: Menggunakan detail secara tertulis melalui pusat pembelajaran. Setiap pusat berfokus pada jenis strategi detail yang berbeda: contoh, fakta, dan detail sensorik. Setiap pusat mencakup dua opsi dan siswa memilih satu untuk diselesaikan.

Matematika: Memahami bagian dan fungsi pecahan melalui titik berpikir. Siswa dikelompokkan berdasarkan tingkat kesiapan keterampilannya untuk menyelesaikan suatu kegiatan berjenjang dimana mereka semua harus menyelesaikan keterampilan fokus. Setiap kelompok berkolaborasi untuk menyelesaikan enam tugas dalam urutan pilihan acak.


Tiga: Produk

Produk adalah artefak yang dibuat siswa untuk menunjukkan apa yang mereka ketahui dan tidak ketahui. Produk-produk ini bervariasi dalam format kecil dan besar, seperti kuis, refleksi, diskusi, multimedia, alat media sosial, dan tugas kinerja.

"Jika menurut anda ini berguna untuk dunia pendidikan dan orang lain diluar anda perlu tahu ini, silahkan bagiakan seberapa bisa anda. 'cewangputih' merasa senang jika banyak orang lain tahu tentang ini."

Diferensiasi yang disengaja didasarkan pada bagaimana memanfaatkan apa yang diketahui tentang peluang dan tantangan konten siswa. Juga digunakan setidaknya salah satu elemen akses siswa: kesiapan, minat, dan preferensi belajar. Pengalaman-pengalaman ini berkisar dari praktik hingga pembelajaran hingga pemeriksaan penilaian atas kemajuan. Ada banyak fleksibilitas untuk memberikan siswa berbagai peluang dan pengalaman untuk membantu mereka membuat koneksi dan memperluas pembelajaran mereka sambil mempertahankan fokus konten.

MENGEMUDI DENGAN DIFERENSIASI

Jelajahi pendekatan ini untuk merefleksikan dan merencanakan kebutuhan siswa melalui diferensiasi. Menggunakan konten, proses, dan produk sebagai langkah perencanaan memberikan pendekatan yang jelas dan ringkas untuk memilih strategi dan aktivitas berdasarkan kebutuhan siswa yang selaras dengan hasil pelajaran. Portal kurasi sumber daya ini menawarkan ide untuk dimasukkan ke dalam rencana anda, dan panduan diferensiasi ini menawarkan lebih banyak wawasan dan daftar centangan kriteria perencanaan diferensiasi untuk memulai perjalanan perencanaan anda.

Struktur ini tidak hanya memberdayakan pembelajaran siswa tetapi juga memberi anda bahasa yang sama untuk peluang profesional kolaboratif untuk mendiskusikan, menerapkan, dan membangun pengalaman yang lebih kuat yang memenuhi kebutuhan semua siswa anda.





Ikon Diverifikasi Komunitas

Minggu, 16 Oktober 2022

Perencanaan Pelaksanaan PBL

 


Pembelajaran berbasis proyek bisa menjadi berantakan, apalagi pemahaman tentang PBL belum pas. Tetapi perencanaan untuk meminta siswa dengan arahan instruksi anda dapat membuat yang berantakan jadi teratur. Anda harus yakin kalau tidak maka PBL hanya akan menjadi penambah halaman booklet RPP anda. Sebenarnya juga tidak jadi masalah karena RPP anda pun hanya penambah tumpukan administrasi anda.

Perencanaan untuk pembelajaran berbasis proyek membutuhkan banyak waktu dan usaha. Semua guru yang telah merencanakan proyek baru tahu pekerjaan yang harus dilakukan untuk membuat proyek itu sukses. Anda harus (a)membuat pertanyaan pendorong yang menarik untuk memfokuskan penyelidikan. Anda perlu (b)memilih dan merencanakan produk dan audiens otentik sambil (c)memperhatikan suara dan pilihan. Anda harus (d)merencanakan peluncuran proyek yang hebat. Anda harus (e)menyelaraskan proyek dengan standar dan daftarnya terus bertambah.

Namun, setelah fase awal ini, perencanaannya belum selesai. Selanjutnya anda beralih ke seluk beluk—pekerjaan sehari-hari siswa, kalender tugas, dan kegiatan instruksional. Karena siswa mendorong pembelajaran, aspek perencanaan ini bisa sulit untuk dipetakan.

Berikut adalah beberapa ide tentang perencanaan implementasi proyek PBL sehingga Anda dapat siap untuk memulai dan fleksibel dalam menanggapi bagaimana siswa membentuk proyek saat mereka belajar (Andrew Miller, 2018)



PERENCANAAN UNTUK PEMBELAJARAN

Mulailah dengan target pembelajaran: Saat merencanakan proyek, mudah untuk beralih dengan cepat ke aktivitas, tugas, dan instruksi yang menurut anda akan dibutuhkan siswa. Seringkali, insting anda tepat, tetapi terkadang anda terlalu fokus pada poin-poin ini dan melupakan apa yang kita ingin siswa pelajari. Ketika anda fokus pada itu, anda bisa lebih sadar tentang instruksi yang dibutuhkan siswa.

Meskipun bukan hal baru, target pembelajaran dapat membantu memberikan fokus pembelajaran dan intensionalitas yang diperlukan untuk implementasi. Anda harus mulai dengan membongkar standar menjadi tujuan pembelajaran yang kecil, dapat dicapai, dan terfokus. Ini melibatkan pengambilan standar dan menganalisis kata benda dan kata kerja untuk membuat target yang diratakan. Misalnya, standar mungkin menyertakan ungkapan "menganalisis penyebab dan efek dari peristiwa atau perkembangan sejarah", tetapi mungkin berguna untuk membuat target yang menyertakan kata-kata seperti "mengidentifikasi" atau "mengklasifikasikan" untuk memastikan bahwa pembelajaran bersifat inkremental dan bergerak dengan kecepatan yang sesuai.

Target pembelajaran yang kami hasilkan mungkin memisahkan konsep jika standar memiliki beberapa di dalamnya. Misalnya, jika standar memasukkan konsep "tegak lurus", "sejajar", "persimpangan", dan sejenisnya, saya mungkin memiliki target pembelajaran yang berbeda untuk masing-masing.

Banyak guru menggunakan target pembelajaran “Saya bisa” untuk membuatnya lebih ramah siswa. Ketika kita merinci tujuan kita, kita membuat pembelajaran lebih bertahap, dan kita, sebagai guru, dapat memikirkan semua pembelajaran yang perlu terjadi dan berapa lama waktu yang dibutuhkan.

Rencanakan apa dan bagaimana, bukan kapan: Banyak dari anda adalah orang-orang linier—kita suka peristiwa terjadi dalam urutan yang logis, seringkali kronologis. Tetapi ketika kita merencanakan proyek PBL, anda harus lebih fleksibel dalam berpikir. Ya, beberapa hal perlu terjadi secara linier. Misalnya, kemungkinan besar kita akan memiliki awal yang jelas, bertujuan untuk banyak pencapaian yang ditetapkan, dan sampai pada kesimpulan logis dengan demonstrasi dan perayaan pembelajaran dalam proyek.

Garis besar linier yang luas itu memungkinkan banyak fleksibilitas. Setelah anda memiliki target pembelajaran secara tertulis, anda dapat memasangkannya dengan instruksi, perancah, dan tugas yang sesuai yang akan mendukung siswa dalam memenuhinya. Aktivitas dan instruksi tidak hilang dalam sebuah proyek—mereka hanya perlu digunakan pada waktu yang tepat. PBL berfokus pada inkuiri dan pertanyaan siswa: Setelah siswa menghasilkan daftar pertanyaan awal mereka, guru dapat siap dengan gerakan instruksional yang tepat untuk mendukung pembelajaran mereka.

Alih-alih memiliki kalender yang kaku, anda dapat menyimpan daftar perancah dan instruksi yang siap digunakan saat siswa siap untuk itu. Mereka akan terus menjawab pertanyaan, mengajukan pertanyaan baru, dan menemukan informasi dan ide, dan pada akhirnya anda harus memberikan perancah dan instruksi itu.

Anda akan dapatkan model semua ini pada TA 2022/2023 di sekolah baru dimana nantinya 'pblcenter' berhomebase. Anda bertanya kenapa tidak sekarang? "Bukankah di sekolah sekarang anda mendapat tempat luas untuk 'pblcenter' anda"? Anda saja yang pemalas, dan kami tidak dapat memengerti anda? Kenapa semuanya terlihat begitu 'silly' dengan stereotipe dan adaptive mereka. Sementara perpindahan ini jadi preseden baik di tempat lama, mudah mudahan.


Memanfaatkan diferensiasi: salah satu komponen kunci untuk membedakan proyek PBL adalah memikirkan tentang instruksi dan perancah apa yang diperlukan untuk seluruh kelas, untuk kelompok kecil, dan untuk individu. Anda bisa belajar pelajaran kritis tentang diferensiasi dari pedagogi untuk pelajar bahasa Inggris, siswa pendidikan khusus, dan sebagainya. Kami dapat menyediakan berbagai jenis instruksi dan perancah alih-alih menggunakan pendekatan satu ukuran untuk semua—merencanakan unit instruksi sambil mengetahui bahwa semua siswa mungkin tidak membutuhkan setiap unit.

Anda memiliki unit-unit itu, tetapi hanya menyediakannya kepada siswa yang membutuhkannya. Melalui penilaian, kita dapat mengidentifikasi kapan instruksi dan scaffolding diperlukan—dengan ketenangan pikiran mengetahui bahwa kita telah memikirkan instruksi dan siap untuk membedakan sesuai kebutuhan.

Bersiaplah, secara mental dan di atas kertas, untuk kekacauan yang teratur dalam pengalaman PBL. Ketika anda merencanakan proyek yang berfokus pada pembelajaran, anda dapat lebih responsif terhadap siswa, dengan pelajaran dan penilaian yang tersedia untuk memberikan instruksi tepat waktu bagi mereka saat mereka belajar melalui inkuiri yang kuat.


Ikuti semua di:

https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g

https://www.facebook.com/groups/1161463424621364/?ref=share

https://padirabah.blogspot.com

https://cewangputih.blogspot.com

@pblcenter

@4alam_official




Senin, 10 Oktober 2022

Diferensiasi dalam Pengajaran



Ketika memulai pembelajaran di awal tahun pembelajaran dan semester, ada pedagogik dasar 'Diferensiasi Pengajaran' ini yang sebaiknya jadi pemikiran anda. Kenapa? Karena diferensiasi adalah pengajaran yang responsif daripada satu ukuran yang cocok untuk semua pengajaran (Tomlinson, 2005). Ini berarti bahwa guru secara proaktif merencanakan berbagai pendekatan terhadap apa yang perlu (1. dipelajari) siswa, bagaimana mereka akan (2. mempelajarinya), dan atau bagaimana mereka akan menunjukkan apa yang telah mereka (3. pelajari) untuk meningkatkan kemungkinan bahwa setiap siswa akan (4. belajar) sebanyak yang mereka bisa. , seefisien mungkin (Tomlinson, 2003).

Tahukah anda bahwa siswa datang ke kelas dengan perbedaan yang unik sebagai manusia dan karena itu sebagai pembelajar. Siswa anda memiliki berbagai tingkat latar belakang pengetahuan dan kesiapan untuk belajar, pengalaman hidup yang berbeda, orientasi budaya, bahasa (mungkin), motivasi, minat, dan preferensi untuk cara terbaik mereka belajar, dan perasaan yang berbeda tentang diri mereka sendiri sebagai pelajar dan tentang sekolah. Sama seperti dokter medis yang tidak meresepkan obat yang sama untuk setiap pasien mereka, guru yang membedakan instruksi memperhatikan kebutuhan belajar siswa yang bervariasi dan merencanakan instruksi yang sesuai. Berbanding terbalik dengan anda yang sama dan seragam kesana. Ini dapat dijadikan bahan penulisan atau kajian khusus lebih lanjut untuk besok besoknya.

Diferensiasi instruksi adalah filosofi dan cara mengajar yang (a)menghormati kebutuhan belajar siswa yang berbeda dan (b)mengharapkan semua siswa untuk mengalami kesuksesan sebagai pembelajar. Kegiatan belajar dapat dibedakan berdasarkan (i)kesiapan siswa untuk mempelajari konten/materi atau keterampilan tertentu, dan (ii)minat mereka atau cara belajar yang mereka sukai. Di kelas yang berbeda, siswa mengalami pembelajaran dalam banyak konfigurasi – bekerja dalam kelompok kecil (dengan teman sebaya yang memiliki kesiapan, minat, atau preferensi belajar yang sama atau berbeda), secara individu, dan sebagai keseluruhan kelompok.

Menurut Carol Tomlison, Model Instruksi Diferensiasi (MID) didasarkan pada praktik pendidikan yang efektif (basis penelitian untuk MID) dan dibingkai di sekitar beberapa elemen kunci:

  • Kurikulum
  • Penilaian Berkelanjutan
  • Tugas
  • Membangun Komunitas
  • Fleksibel Mengajar

Apapun kurikulum yang dipakai di sekolah anda, semuanya berkualitas tinggi dari hasil kajian mereka yang mengerti memahami dunia pendidikan dan kependidikan. Seharusnya tidak ada masalah aplikatif karena teknikal diferensiasi pengajaran bukanlah ranah kurikulum dan itu "adjustive" ketika mereka disandingkan. Berarti ini adalah perencanaan dengan tujuan akhir. Ini dimulai dengan mendefinisikan dengan jelas ke mana anda inginkan siswa pergi sebelum memikirkan bagaimana anda ingin mereka sampai di sana. Bingkainya adalah apa yang anda ingin mereka Tahu, Pahami, dan mampu Lakukan (TPL) sebagai hasil dari pengalaman belajar?

Merancang kurikulum yang baik dimulai dengan mengidentifikasi pemahaman esensial — konsep, prinsip, atau gagasan besar dari topik unit. Pemahaman yang bermakna, menarik, dan merangsang pemikiran memungkinkan siswa untuk melihat relevansi dari apa yang mereka pelajari dengan mata pelajaran lain dan dengan dunia di sekitar mereka. Teorinya begitu, tapi apakah anda meyakini "kurikulum merdeka" yang anda telah, sedang, dan akan berada didalamnya telah melewatinya?

Pengetahuan mencakup fakta-fakta kunci (nama, tanggal, tempat, dll.), kosakata, dan contoh yang anda ingin siswa ketahui. Dalam isolasi, pengetahuan ini mudah dilupakan, tapi ketika dikaitkan dengan pemahaman, item pengetahuan membantu siswa untuk mengungkap dan memahami pemahaman. Pemahaman didapatkan dari melakukan dan atau terlibat selama proses 'pre, whilst, dan post activities'. Itulah sebabnya PBL menjadi seperti kunci inggris dalam pembelajaran 'within' I hear I forget, I see I know and I do I undersand. Paham?

Apa yang anda ingin siswa dapat lakukan mungkin termasuk keterampilan dasar seperti literasi dan berhitung 'Literatur-Based Learning', keterampilan berpikir seperti penalaran dan sintesis 'Brain-Based Learning', keterampilan berbasis disiplin seperti grafik 'Dicipline-Based Learning', keterampilan perencanaan seperti penetapan tujuan dan perencanaan proyek 'Project-Based Learning', dan keterampilan sosial seperti sebagai kerjasama dan kepemimpinan 'Social Emotional-Based Learning. Kurikulum berkualitas tinggi melibatkan siswa dalam mengeksplorasi ide-ide penting dan menantang siswa untuk mengembangkan keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan yang ketat dan berkualitas. Ada banyak based learning yang memungkinkan anda pilih atau jadikan fokus pada siswa.

Penilaian adalah elemen yang mengarahkan instruksi di kelas yang berbeda. Menggunakan tes atau survei yang tidak dinilai untuk memetakan kesiapan dan minat siswa sebelum atau pada awal unit akan membantu anda menentukan di mana setiap siswa dalam kaitannya dengan unit TPL dan memandu nda dalam mengidentifikasi pengelompokan siswa awal dan tugas tugas di awal dari unit. Selama unit, terus-menerus menilai kemajuan setiap siswa menuju tujuan pembelajaran (TPL) memandu guru dalam merencanakan langkah instruksional berikutnya di kelas.

Penilaian formatif seperti kartu keluar, pertanyaan untuk hari itu, petunjuk jurnal, pengamatan dan percakapan satu lawan satu dengan siswa semuanya membantu dalam mengidentifikasi kapan ada kebutuhan untuk mengajarkan kembali sesuatu kepada siswa tertentu atau untuk meningkatkan tantangan lebih tinggi untuk beberapa siswa. siswa. Penilaian formatif dapat dibedakan asalkan diselaraskan dengan unit TPL.

Penilaian sumatif juga dapat dibedakan berdasarkan kesiapan, minat dan profil belajar. Namun, sangat penting bahwa semua variasi penilaian sumatif memungkinkan siswa untuk mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari dengan mengacu pada unit TPL.

Siswa datang ke kelas anda mencari penegasan, kontribusi, tantangan, kekuatan, dan tujuan. Tugas yang penuh hormat adalah responsif terhadap kebutuhan tersebut. Di kelas mana pun, sangat penting bahwa tugas yang anda minta siswa lakukan adalah rasa hormat – tugas itu menantang, menarik, dan layak dilakukan. Di kelas yang berbeda, siswa sering mengerjakan tugas yang berbeda secara bersamaan. Tugas dapat disesuaikan untuk tingkat kesiapan, minat, atau preferensi belajar yang berbeda, tetapi terlepas dari tugas mana yang ditugaskan (atau dipilih) kepada siswa, tugas itu harus dihormati. Jika beberapa siswa terlihat seperti sedang melakukan tugas yang menantang, menarik, dan merangsang pemikiran mereka sementara siswa lain bekerja mengisi lembar kerja yang sederhana, kegiatan tersebut tidak secara efektif dibedakan dan akan mempengaruhi bagaimana siswa memandang status mereka di kelas.

Dalam kelas yang dibedakan secara efektif, guru berfokus pada membangun komunitas belajar di mana siswa merasa aman, diterima, dan didukung. Satu di mana siswa memperlakukan satu sama lain dengan hormat, membantu satu sama lain untuk menjadi produktif, dan berbagi kesuksesan satu sama lain. Di kelas yang berbeda, siswa memahami apa itu diferensiasi dan semua orang merasa mereka memainkan peran penting dalam masyarakat. Siswa memiliki suara tentang bagaimana komunitas bekerja dan bertanggung jawab untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah di kelas.

Kelas yang terdiferensiasi secara efektif dicirikan oleh praktik pengelompokan yang fleksibel. Ini berarti bahwa siswa bekerja dalam berbagai pengaturan – siswa dapat bekerja dalam kelompok kecil dengan siswa yang memiliki kesiapan, minat, atau profil belajar yang sama. Pengelompokan tugas dapat dipilih oleh guru, oleh siswa, atau secara acak. Dengan cara ini, siswa memiliki kesempatan untuk bekerja dengan berbagai siswa secara sering.

Mengajar berarti menaikkan 'langit-langit' untuk semua siswa. Di kelas yang berbeda, semua siswa harus bekerja pada tingkat kerumitan yang tepat di atas tingkat kenyamanan masing-masing. Dengan memberikan setiap siswa tingkat tantangan dan perancah instruksional yang wajar sesuai kebutuhan, siswa belajar bahwa kerja keras menghasilkan pertumbuhan yang sukses. Salah satu tip untuk mencapainya adalah dengan merencanakan aktivitas pembelajaran yang paling kompleks terlebih dahulu – aktivitas yang akan menantang pembelajar paling mahir di kelas anda. Kemudian ubah aktivitas tersebut untuk siswa yang saat ini berada pada tingkat kesiapan yang lebih rendah.


Ikuti cewangputih di:

https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g

https://www.facebook.com/groups/1161463424621364/?ref=share

https://padirabah.blogspot.com

https://cewangputih.blogspot.com