Sabtu, 30 April 2022

Paling Efektif adalah Pembelajaran Berbasis Proyek

Oleh : Donny Boy

 <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>

Courtesy of Yose Hendry

Kenapa Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL) menjadi efektif bagi guru dimasa sekarang? Sebelum masuk kesana saya sarankan pada anda untuk segera tinggalkan gaya pembelajaran lama anda yang sudah basi. Refresh pemikiran anda terutama para guru yang berpikiran skeptis. Kenapa begitu? Tampilan kelas nantinya jadi lebih mandiri  dan pemanfaatan waktu lebih ditekankan. Ini seperti tawaran yang harus anda pilih. Apakah anda akan menanamkan lebih banyak energi dan kegembiraan ke dalam kelas? Faktanya, dalam kelas anda begitu monoton dan membosankan dimana anda adalah pusat proses belajar dan mengajar. Apakah anda akan gunakan pedagogis yang dapat menjadi pendorong  siswa dengan pemikiran kritis? Padahal, anda menjadikan siswa anda pengikut teori teori yang  mereka hafalkan. Apakah anda akan memfasilitasi pembelajaran kolaboratif? Sedangkan, siswa anda adalah objek pembelajaran untuk transferan ilmu pengetahuan. Apakah anda menutup mata dengan era digitalisasi sedang menatap tajam pada anda? Parahnya, siswa anda sedang bersiap, dalam, dan akan kearah era digitalisasi. Semua ini seperti  keledai yang memaksa jadi tunggangan pasukan kavaleri dalam penyerbuan. 

Mustahil kita menunggu petus tungga (petir tunggal) untuk lepas dari gigitan mingkaruang (kadal). Petus yang akan menyelesaikan semua masalah yang diperburuk oleh Covid-19 atau ujian negara. Ada kemungkinan bahwa dengan sedikit kreativitas yang bijaksana, kita dapat mengakhiri tahun akademik ini dengan catatan yang kuat dengan menggunakan Pembelajaran Berbasis Proyek. Harapan ini sering diberhentikan karena dianggap sebagai "hal lain di piring kita yang sudah penuh," tetapi seperti yang dibagikan penulis John Spencer dalam artikelnya "Tujuh Mitos Menjaga Guru Dari Menerapkan Proyek Kreatif," "Ketika saya beralih ke pendekatan , saya menyadari bahwa itu bukan tentang menambahkan Pembelajaran Berbasis Proyek sesuatu yang baru ke piring. Itu tentang menata ulang piring saya.” Tetapi bagaimana rasanya “mengatur ulang piring Anda” dengan cara yang dapat membantu meringankan beberapa tantangan yang tampaknya tidak dapat diatasi yang Anda hadapi setiap hari?
Tidak dapat disangkal bahwa beberapa tahun terakhir ini telah memakan korban. Tetapi jika kita memikirkan kembali bagaimana kita menggunakan waktu yang kita miliki, jika kita fokus pada penguatan budaya kelas, dan jika kita membuat perjalanan belajar lebih transparan—dalam melayani siswa—ada peluang untuk kegembiraan dan pemberdayaan. Ada kemungkinan bahwa Pembelajaran Berbasis Proyek layak diaplikasikan. Berikut adalah tiga alasan menurut James Fester dan Erin Starkey mengapa sekarang mungkin waktu yang tepat untuk melihat Pembelajaran Berbasis Proyek.

Courtesy of Yose Hendry

Berkolaborasi

Sesederhana itukah? Ya, sederhana sekali jika disandingkan dengan kerumitan pembelajaran dalam pikiran anda. Sederhana dan rileks. Pembelajaran Berbasis Proyek sering dianggap terlalu memakan waktu untuk direncanakan atau diimplementasikan. Siapa yang punya waktu untuk itu? Kedengarannya melelahkan bahkan sebelum memulai, jadi mengapa repot-repot? Tetapi jika kita menantang asumsi kita tentang seperti apa tampilan Pembelajaran Berbasis Proyek agar “berkualitas tinggi”, kita menemukan bahwa waktu mungkin bukan penghalang sebesar yang terlihat. Bagaimana jika Anda berkolaborasi dengan tiga orang kolega (misalnya Anda mengajar bahasa Inggris, dengan mereka mengajar fisika atau Ilmu Pengetahuan Alam, Informatika, dan Kewirausahaan) untuk membuat proyek besar tentang pembuktian apakah bumi ini berputar dan berotasi? Anda bisa gunakan materi IPA tadi secara keseluruhan dengan mengunakan Capaian Pembelajaran mata pelajaran IPA tadi. Timbul pertanyaan, lantas porsi anda sebagai guru bahasa Inggris dan teman sejawat Informatika serta Kewirausahaan dimana? Nah, anda bisa buat percakapan dan narasi bahwa secara hukum alam tidak benar bumi ini berputar dan berotasi. Bagaimana dengan mata pelajaran Informatika? Anda tinggal dokumentasikan pakai rekam digital semua yang mungkin dan layak untuk anda jadikan blog, vlog, tik tok, youtube, instagram, podcast dan lain lain.Sedangkan diakhir proyek anda bisa jadikan konten untuk dikembangkan pada mata pelajaran Kewirausahaan.

Berkolaborasi tidak hanya dapat membantu meringankan setiap perencanaan pelajaran dan beban penilaian Anda, tetapi juga dapat memberdayakan siswa dengan menyoroti betapa pembelajaran yang sebenarnya dapat terjadi. Bayangkan dampak yang akan Anda peroleh dari berkolaborasi empat mata pelajaran tadi.Anda dapat bayangkan betapa hebatnya Pembelajaran Berbasis Proyek ini. Wajah pembelajaran akan jadi ceria dan menyenangkan dengan sedikit tantangan yang renyah. Empat mata pelajaran menggarap suatu isu besar yang membulalikkan mata dunia. Kolaborasi yang menjawab semua pertanyaan diawal tadi.

Baca juga:
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/1235067536179417067
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/4668360326170611660
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/974502257813674394


Transparans dan Responsif  

Bagaimana jika siswa anda melihat pembelajaran ini berbeda dan membuat banyak perubahan? Begitu banyak dalam tiga tahun terakhir yang hilang dan berubah pada diri mereka. Persepsi itu dapat membuat belajar jauh lebih sulit. Unit Pembelajaran Berbasis Proyek tidak hanya dapat memberdayakan siswa tetapi juga memicu kegembiraan untuk belajar, menemukan, dan bertanya, yang juga membawa energi yang sangat dibutuhkan pendidik. Koneksi konten yang disengaja ini memberikan manfaat lain sesuai dengan siswa anda.

Dengan mengintegrasikan konsep memberi lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi, memanipulasi, dan mempertanyakan topik. Ini sebenarnya meningkatkan ketelitian dalam cara yang memberdayakan siswa, daripada membosankan, membuat frustrasi, atau membebani mereka. 

Courtesy of Yose Hendry

Memperkuat Budaya Dan Fungsi Sekolah

Waktu selalu menjadi tantangan, dan baru-baru ini tampaknya semakin akut. Penelitian menunjukkan bahwa, rata-rata, Anda kehilangan sekitar 7–10 menit waktu pengajaran per hari karena masalah manajemen umum seperti perilaku di luar tugas dan 6–7 menit lagi karena gangguan umum seperti panggilan telepon atau kunjungan mendadak oleh kepala sekolah. Menit yang hilang ini bertambah menjadi jam pada akhir bulan dan minggu pada akhir tahun. Namun, sebagian besar guru berbasis proyek tidak terlalu menganggap gangguan atau sebagai masalah karena dua alasan penting: Mereka cenderung tidak selalu menjadi pusat pengajaran, dan mereka memiliki struktur yang terkenal untuk membantu siswa tetap terlibat.

Ketika norma dan harapan kelas dipahami—dalam banyak kasus dibuat bersama dengan siswa—hal itu mendorong kejelasan dan penerimaan sejak awal. Ketika siswa bekerja dalam kelompok kolaboratif, sebuah struktur yang memberikan dukungan tambahan ketika klarifikasi diperlukan, mereka mengalami akuntabilitas individu dan tim melalui pembuatan produk bersama. Pengelompokan ini diperkuat melalui alat yang disediakan guru seperti kesepakatan tim, catatan kerja, dan protokol yang semuanya berfokus pada peningkatan kemandirian. Alat-alat ini membebaskan Anda untuk memberikan dukungan tambahan kepada masing-masing siswa atau untuk menangani masalah yang tidak terduga.




Cewangputih adalah blog yang konsern pada masalah pendidikan dan peradaban untuk memperkaya ragam madah pengetahuan. Ingin mendapatkan langsung konten cewangputih jadilah "dunsanak cewangputih" https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g





Tidak ada komentar: