<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"
crossorigin="anonymous"></script>
Saya yakin anda akan "mangaruik-an kaniang" (mengernitkan dahi) ketika mambaca judul diatas. Liar dan cenderung "malantun-lantun"(kemana-mana) arah pemikiran anda. Begana begini mereka keluar dan sayangnya anda akan kanalisasikan lantunan tadi dalam kerangka streotip "utak"(pikiran) anda, karena dipastikan anda gunakan pendekatan like dan dislike dalam menilai seseorang. Anda sepertinya akan "manggantangkan/manekak" (mengukur) orang dengan 'labelling'. Jangan pernah membaca ini jika anda adalah termasuk bagian dari Kepala/Wakil/Guru diatas"
Anda diundang bergabung menjadi "dunsanak cewangputih" https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g
Kerangka dasar dari tulisan ini adalah keprihatinan saya melihat dinamika kebanyakan sekolah secara umum dan khususnya formasi Kepala/Wakil Sekolah. Saya tidak masuk pada sistem pemilihan mereka, tapi lebih kepada isian untuk mengisi celah kosong yang sepertinya banyak dalam kerangka otak mereka. Kenapa begitu? Karena blank spot itu disebabkan frekwensi adaptif mereka dalam menjalani profesi sebagai guru. Akan jelas terbaca seperti running text, mereka tidak akan tertarik pada kreatifitas dalam dinamika sekolah dan pembelajaran. Lalu apa? Kemana orientasi passion mereka? Anda akan setuju dengan saya bahwa mereka hanya tertarik melakukan sesuatu kalau ada advantages dan benefits. Ya, itulah mereka, apakah anda juga tergolong dalam bagian itu? Cepatlah berbalik arah. Sebagai pengisi yang kosong tadi, berikut ini bisa anda jadikan referensi primer, sekunder dan atau tersier anda, terserah!
Follow IG: @pblcenter_
Sekolah Anda Harus 100 persen Untuk Semua. Jika anda mulai membuat keputusan berdasarkan menghindari konflik, para siswa kalah. Inilah yang menopang dasar anda melalui salah satu keputusan tersulit anda. Anda menjadi penyokong sekolah untuk tidak diskriminatif pada ekonomi orang tua murid. Anda pastinya menjawab itu tidak pernah terjadi di sekolah anda. Tapi pernahkah anda agak sedikit menurunkan frekuensi itu dengan mempelajari kenapa ada siswa anda yang memundurkan diri dari sekolah? Secara psikologi apakah pernah anda mendekat kesana dan atau ini anda lakukan juga pada siswa anda yang bermasalah? Lihatlah dengan kacamata empati dan differensiasi.
Buat Visi, Tulis, dan Mulai Implementasikan. Jangan menaruh visi anda di laci anda dan berharap yang terbaik hindari hanya jadit pajangan di dinding dinding sekolah anda. Setiap keputusan harus selaras dengan visi tersebut. Seluruh organisasi mengawasi ketika anda membuat keputusan, jadi konsistensi sangat penting.
Ini Orangnya, Bodoh,
Rahasia mengelola adalah menjauhkan orang-orang yang membenci anda dari mereka yang masih ragu-ragu. (Itu diadaptasi dari Casey Stengel.) Timkan orang yang mendukung visi anda, yang cerdas (ini sulit menemukannya), dan kreatif (apalagi ini).
Dayung di dalam Air
Di Outward Bound, anda belajar bahwa ketika anda menavigasi jeram berbahaya di rakit, satu-satunya cara untuk berhasil adalah semua orang di perahu duduk di tepi dan mendayung dengan sangat keras, meskipun semua orang lebih suka duduk di tengah, mana lebih aman. Di saat krisis, semua orang merespons dengan dayung di dalam air.
Temukan Waktu untuk Berpikir Sepanjang Hari. Anda digaji untuk khawatir. Tidak apa-apa untuk menatap dinding dan berpikir tentang bagaimana mengelola perubahan. Hebat bukan maksimal dalam patron tupoksi anda, tapi anda dapat membuat centangan inovasi diluar itu semua. Anda akan jadi tidak disukai, karena mereka standar. Anda akan jarang mengalami hari yang baik -- lupakan saja!
Bertanggung Jawab Atas Yang Baik Dan Yang Buruk. Jika masalah di sekolah atau organisasi anda terletak di bawah anda dan solusinya ada di tangan anda, maka anda telah menjadikan diri anda tidak relevan. Hebat sekolah terletak di dalam sekolah dan yang mengatakannya adalah dari luar sekolah. Bukan kosakata yang keluar dari anda dengan postingan di media anda yang disertai gambar dan video "ntah haha se"(entah apa saja). Solusi untuk masalah hampir selalu ada di depan anda.
Anda Memiliki Tanggung Jawab Utama. Memiliki harapan yang sangat jelas. Pastikan orang memiliki pengetahuan, sumber daya, dan waktu untuk mencapai apa yang anda harapkan. Ini menunjukkan rasa hormat. Sebisa mungkin, realisasikan Komite Pembelajaran Berbasis Sekolah (KPBS) otonom.
Memiliki Bias untuk Ya
Ketika putra saya masih kecil, saya mengalami banyak kekacauan di rumah, dan saya tidak ingin melakukan banyak hal ketika saya tiba di rumah. Suatu hari, saya memutuskan bahwa apa pun yang ingin dia lakukan, saya akan lakukan -- bermain bola, makan es krim, dan sebagainya yang kadang konyol dan kekanak-kanakan menurut saya. Saya menyadari kekuatan 'Ya'. Itu mengubah hubungan kami. Satu-satunya kemajuan yang pernah anda buat melibatkan risiko: Gagasan yang dimiliki guru mungkin tampak sedikit tidak aman dan gila. Coba pikirkan, "Bagaimana saya bisa membuat permintaan ini menjadi ya?"
Konsensus Berlebihan. Dua puluh persen orang akan menentang apa pun. Ketika anda menyadari hal ini, anda menghindari kompromi dengan apa yang sebenarnya harus dilakukan karena anda berhenti memperumit masalah. Jika anda selalu berusaha mencapai konsensus, anda sedang dipimpin oleh 20 persen.
Perubahan Besar Harus Dilakukan dengan Cepat. Jika Anda menunggu terlalu lama untuk membuat perubahan pada budaya sekolah, anda telah menyetujui perilaku biasa-biasa saja karena anda mengizinkannya. Saat itulah perubahan itu sulit, dan anda mulai membuat kesepakatan yang buruk.
Cigok:
- https://cewangputih.blogspot.com/2023/01/pembelajaran-sosial-dan-emosional.html
- https://cewangputih.blogspot.com/2022/12/pbl-what-is-that.html
- https://cewangputih.blogspot.com/2022/12/lebih-dalam-bersama-pbl.html
- https://cewangputih.blogspot.com/2022/12/merencanakan-pelaksanaan-pbl.html
- https://cewangputih.blogspot.com/2022/12/pbl-efektifkah.html
- https://cewangputih.blogspot.com/2022/12/pbl-apakah-efektif.html
- https://cewangputih.blogspot.com/2022/12/pembelajaran-berbasis-proyek-apa-itu.html
Komentari dan Bagikan





1 komentar:
Super pak guru. Pemikiran jenius.
Posting Komentar