Selasa, 12 Juli 2022

PBL dalam PKWU



Tergerak Ingin Bergerak (TIB) adalah tagline yang menjadi alasan kuat bagi saya dalam menyampani lautan sekolah penggerak. Dengan perahu TIB saya lebih liberty mendayung arah sampan saya walaupun saya tidak begitulah tertarik dengan penggerak itu sendiri. Ini lebih mendekati 'ondong ayia ondong dadak. Idenya bagus, tapi semakin ketengah semakin penuh dengan simponi teoritis yang penuh hapalan yang ditagih untuk syarat dan ketentuan untuk ini dan itu. Ujung ujungnya sama saja suasana kelas, keceriaan, kegembiraan belajar mengajar tidak akan ditemukan karena mayoritas guru itu nantinya hanya bereforia dengan 'penggerak'. Seperti kosakata yang lumayan sering saya gunakan saya menjadi adjustive daripada kebanyakan mereka yang adaptive. Sepertinya tergerak ingin bergerak menjadi alasan bagi saya untuk selalu menginterpretasikan yang ada dalam pikiran tentang PBL di cewangputih ini. Sepertinya saya akan lebih banyak "maota" dari biasanya dan "basiluncua" mengikuti arah ombak PBL daripada frame besar yang yang banyak bingkai, sekolah penggerak, guru penggerak, merdeka belajar, pelajar pancasila, dan turunannya. 

Saya merasakan bahwa sebenarnya roh dari penggerak itu adalah Pembelajaran Berbasis Proyek. PBL inilah yang dikemas dalam packaging penggerak dan membuatnya berbeda dari 'kurtilas' sebelumnya. Paket lengkap PBL dengan derivatifnya; Blended Learning, Brain Based Learning, Differentiated Instruction, Inquiry, Scaffolding, Couching, Social and Emotional Learning, Culturally Responsive Learning, STEM, and Collaborative Instruction, sebenarnya harus lebih dipahami. Terlihat lebih rumit dan membuat anda "mangango" dan mengintimidasi "banak" anda. Serumit itukah? Tentu tidak! Semuanya jelas lebih 'bit arround the bush' lah yang pernah anda jalani di lokakarya, IHT, zoom learning, propela, dan training lainnya untuk merdeka belajar. Lantas, dimana letak sederhananya PBL? Saya katakan pada anda sebenarnya PBL itu adalah turunan dari 'Learning By Doing' yang pernah anda ucapkan dulu. Katupkan mulut anda dan 'smile horse' kan setelah itu. 

Cigok:
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/636964250737498086
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/976505044963774198
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/3221927754616717606
https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/840537245559515192

PBL yang kita kenal saat ini adalah metamorposa dari Problem Based Learning yang awalnya muncul di Fakultas Kedokteran Universitas Mc. Master, Kanada di tahun 80an. Setelah itu baru muncul Project Based Learning yang populer kan oleh seorang educational theorist dan philosopher. Awalnya PjBL adalah Project-Based Learning dan PBL adalah Problem Based Learning. Metodologi yang dianggap dimulai oleh Konfusius dan Aristoteles dengan tiga kerangka dasar: questioning, inquiry, dan critical thingking. Apa hal yang ingin saya sampaikan disini adalah mulailah saja memahami PBL itu dengan sederhana diatas.

Saya ingin berbagi dengan anda semua disini yang membaca artikel ini. Anda bisa jadikan sebagai kerangka dasar untuk memenuhi tugas anda dalam aplikasi aksi nyata. Sebagai guru mata pelajaran Kewirausahaan di SMA 8 nantinya, seperti dalam tulisan sebelumnya diawali dengan proyek budidaya galogalo. Kenapa?

Saya mengambil kesempatan bagus menjadikan budidaya galogalo ini dalam kewirausahaan yang saya jadikan awal proyek saya. Saya melihat peluang besar didepan mata disini. Ada keputusan strategis yang diambil oleh otoritas tentang galogalo ini. Pasarnya terbuka luas jika dilihat memakai analisa SWOT. Bagi anda menjadi guru kewirausahaan di sekolah anda, saya katakan bahwa ambilah ide saya ini dan saya dengan senang hati menambah kolaborasi dengan sekolah anda. Atau anda bisa undang PBLcenter Smandel (PBLcS) untuk bersinergi dan menambah pundi kolaborasi anda. Karena untuk ini saya berlindung dibawah payung PBLcS, semacam badan independen yang hanya dimiliki SMA 8 Padang. Ide sederhana yang inquiry PBLcS akan menjadi besar karena ini semacam kliniknya PBL di sekolah penggerak. 

'Critical thinking' menjadi backdrops nya tampilan proyek yang bernama budidaya galogalo di SMA 8 Padang. Pasarnya terlihat jelas karena gubernur Sumatera Barat ingin jadikan ini sebagai konsumsi untuk jajarannya. Anda bisa investigasikan ini dan anda akan ternganga setelah tahu kenyataannya. Dengan kekuatan ini dan masih belum ditindak lanjuti oleh dinas terkait, madu galogalo ini adalah hasil hutan bukan kayu. Narasinya bisa panjang jika diuraikan betapa peluang ini terbuka dalam kacamata ekonomi. Saya ingin berbagi ini dengan anda untuk membuka mata anda akan ide PBL itu sendiri.

Pertanyaannya adalah bagaimana ini dapat dijadikan lroyek dalam PBL di sekolah anda. Saya sebenarnya bukanlah guru penggerak dan tidak mengajar di kelas X. Di tulisan sebelum ini berharap seperti itu, tapi saya mengajar KWU di kelas XI yang tidak menjadi bagian penggerak karena ini masih di kurtilas. Semua ini diakhiri dengan pertanyaan mampukah saya dengan KWU di SMA 8 menjawabnya? Siapkah saya lebih dulu menerapkan PBL yang bukan zona aplikasi PBL?

Untuk lebih banyak mendapatkan artikel cewangputih bisa digunakan link berikut:
https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g
https://www.facebook.com/groups/1161463424621364/?ref=share
https://www.facebook.com/profile.php?id=100082340348628


Tidak ada komentar: