Pembelajaran Berbasis Proyek adalah untuk semua orang. Ini tidak dimaksudkan untuk digunakan hanya mereka yang petantang petenteng sebagai 'Guru Penggerak' apalagi anda yang hanya 'Calon Guru Penggerak'. Ini juga berlaku sama paralel dengan Sekolah, baik Penggerak maupun Calon Penggerak. Lihatlah di media sosial begitu kecutnya mereka tersenyum karena mereka tidak punya kemistri dan view yang cocok untuk PBL. Lebih hanya pada postingan poto poto penuh intimidasi dengan mengatakan kami lebih dulu selangkah dan kami lebih paham. Kami disini dengan si anu dan disana dengan si una. Padahal mereka hanya ikut ikutan kesana disebabkan hanya dua hal; pertama karena adanya benefit pangkat dan karir setelah selesai pelatihan (saya tidak tahu jelas nama pastinya), dan kedua terpaksa ikut. Kelompok kedua ini adalah mereka yang adventurir.
PBL juga tidak dimaksudkan untuk digunakan hanya bagi mereka yang ingin ditantang. Ini dimaksudkan untuk mengangkat setiap siswa ke standar tertinggi mereka. Kita semua yang memiliki SK tenaga pendidik semuanya sebenarnya ditantang untuk melaksanakan PBL dengan harapan diatas. Bukan skeptis dengan ujaran 'hengak' ," Ganti menteri ganti kurikulum." Kita harus ingatkan kembali ingatan kita untuk meninggikan standar anak didik kita.
PBL adalah tentang peluang dan harapan, dan untuk memberi semua siswa akses ke pembelajaran yang menarik dan ketat, anda harus menyediakan perancah/scaffolding yang membantu mereka mencapai yang terbaik. Tetapi banyak guru berpikir bahwa siswa harus dapat mencapai tingkat tertentu bahkan sebelum mencoba terjun ke PBL.
Pembelajaran Bahasa Inggris adalah salah satu mata pelajaran yang cenderung dipandang sebelah mata ketika memikirkan siapa yang “siap” melakukan PBL. Namun semua siswa siap jika dipersenjatai dengan scaffolding yang sesuai oleh gurunya, ceritanya jadi lain. Faktanya, jika kita melihat pembelajaran dalam hal pertumbuhan, siswa EL/Bahasa Inggris cenderung menunjukkan kesuksesan besar karena seberapa mendalam PBL dalam keterampilan komunikasi dan pemikiran kritis. Kalau ada guru Bahasa Inggris yang bisa menggunakan metodologi PBL dalam pembelajarannya adalah luar biasa dan akan jelas berbanding terbalik dengan kelompok STEM
Jadi saya harus mendorong kembali anggapan ini bahwa seorang siswa membutuhkan tingkat kemampuan tertentu untuk dapat berkreasi, berpikir kritis, berkolaborasi, dan berkomunikasi. Semua siswa, dengan bimbingan, dapat merenungkan, meneliti, dan menanggapi pertanyaan yang mengarahkan terkait dengan konten mereka. Akankah seorang siswa yang berkeinginan keras dengan standar komunikasi Bahasa Inggris menghasilkan kemampuan bekomunikasi sangat lancar? (Mengangkat bahu). Mungkin tidak. Tetapi dengan PBL, ini bukan tentang hasil, ini tentang perjalanan dan perkembangan yang ditunjukkan siswa sambil berjalan di sepanjang jalan. Pembelajaran tidak hanya dibuktikan di akhir unit; siswa membuktikan pertumbuhan mereka di seluruh unit.
Kebutuhan untuk Memiliki Akses ke Keterlibatan dan Ketegasan
Sangat frustasi dengan menemukan begitu banyak siswa EL terjebak pada structure hanya karena mereka tidak memiliki dasar bahasa Inggris. Tingkat bahasa Inggris mereka yang lebih rendah entah bagaimana mengutuk mereka membuat PR dan latihan di LKS dan harapan berpikir Tingkat Dasar. Jadi berhentilah wahai para guru yang hanya fokus pada LKS sebagai bahan utama pembelajaran. Apalagi kalau untuk jualan buku (MGMP juga terlibat dengan ini) Tetapi penelitian membuktikan bahwa yang benar-benar mereka butuhkan adalah keterlibatan yang bijaksana dengan pengalaman otentik dalam bahasa. Dan PBL, seperti yang didefinisikan oleh Standar Emas, hanya itu.
Jennifer Miyake-Trapp, Asisten Profesor Pendidikan di Universitas Pepperdine dan Fakultas Utama Program MA TESOL mereka setuju bahwa “keterlibatan dalam PBL meningkatkan peluang bagi siswa untuk menggunakan dan menerapkan keterampilan bahasa dan literasi secara otentik dalam konteks yang bermakna, membuat pembelajaran menjadi relevan dan menyenangkan.” Inilah yang benar: menggunakan PBL membutuhkan lebih banyak frontloading. Tapi itu benar ketika mengajar populasi yang kurang terwakili. Namun demikian, ada kesalahpahaman bahwa hanya karena anda menyediakan perancah berarti anda entah bagaimana tidak mengajarkan pembelajaran mandiri. Ini tidak bisa jauh dari kebenaran. Memberi siswa Bahasa Inggris sumber daya yang mereka butuhkan untuk mengakses "hal-hal yang baik" berarti anda memberi mereka alat untuk meningkatkan dan tumbuh sehingga kemandirian lebih mudah diakses nanti.
Oleh karena itu, cewangputih dengan PBL, lebih fokus pada menulis dan berbicara dan berpikir dan membaca, adalah hal yang perlu ditingkatkan secara cepat dan mendalam untuk para siswa. Miyake-Trapp dengan tegas menyatakan bahwa “Dalam PBL, Pembelajar Bahasa Inggris mengembangkan rasa hak pilihan dan mengambil kepemilikan atas pembelajaran mereka secara bersamaan mempraktikkan bahasa akademik dan keterampilan literasi sambil terlibat dalam pemikiran kritis.”
Ah, itu kan teori! Anda yang skeptis dan terutama yang hanya tahu siapa dibelakang cewangputih akan streotipe melihat dan berujar. Anda akan sedikit ketus mengatakan "prakteknya mana"? Kenapa pertanyaan keputusan asaan itu anda sematkan? Padahal anda dan saya sama sama baru di PBL? Harusnya andalah yang lebih dulu maju karena anda lebih banyak dapat benefit dari saya sebelumnya? Saya hanya tergerak ingin bergerak tanpa target pribadi dan advantages sebesar anda. Bagi yang kenal cewangputih akan paham ini.
Jadi apa saja strategi yang dapat digunakan guru Bahasa Inggris di kelas untuk memberi siswa lebih banyak akses ke PBL? Tulisan setelah ini akan memberikan gambaran sedikit lebih jelas arahannya. Tunggu saja dan bersabar sedikit. Bagi anda terutama guru SMA/SMK di Sumatra Barat yang memiliki pemahaman tentang PBL semua mata pelajaran, saya mengajak anda bergabung dengan saya di "PBL Center SMAN 8 Padang" untuk memperkuat dan memperjelas pixel PBL untuk guru, siswa dan dunia pendidikan. Masuklah wahai para guru yang selama ini berada diluar pagar. "Gatus" 0811664758


Tidak ada komentar:
Posting Komentar