Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) sebenarnya berada dalam posisi yang strategis untuk membangun hubungan dengan siswa, mengamati dinamika kelompok siswa, peralatan sekolah, alat pendukung sekolah dan pembelajaran, kelancaran proses belajar mengajar, menciptakan kemistri harmonis inter dan antar guru siswa dan tenaga kependidikan, hubungan internal, eksternal dan pihak ketiga, membangun sinergi semua komponen pendukung kemajuan sekolah dan mencegah masalah sebelum dimulai, sampai semuanya bermuara pada Kepala Sekolah. Semuanya adalah kemampuan standar yang bisa dipelajari, tapi semuanya jadi berbeda ketika itu dipegang oleh mereka yang gagasan cemerlang. Sayangnya kecemerlangan tidak bisa ditiru. Pastinya tidak semua orang memilikinya.
Sebelum melangkah kepada penjelasan ideal dari bahasan ini, saya ingin memberitahu kekonyolan lumrah di sekolah yang ditutupi. Mustahil mendapatkan wakil kepala sekolah cemerlang kalau penentuan mereka dari hasil pemilihan suara. Mirip dengan PGPS (Pintar Goblok Penghasilan Sama) dan kepangkatan bukan menentukan kepintaran seseorang. Anda membenarkannya tapi terpaksa anda sangkal karena anda mengikuti permainan tersebut. Menggelitik lagi, kenapa bisa terjadi? Ini didedikasikan kepada Sekolah yang akan melaksanakan pemilihan Wakasek. Apalagi anda yang berminat disitu untuk literasi anda menjadi Wakasek. Mudah mudahan bisa menjadikan sekolah anda hebat, kontras dengan hanya jargon hampir semua sekolah menambahkan kata 'hebat' setelah angka sekolahnya. "Misalnya SMA/SMK Negeri 378 hebat", dibawah foto guru sambil mengacungkan jempol tangan kanan seperti like pada postingan di medsos.
Iklim sekolah sebenarnya adalah sesuatu yang dapat anda pengaruhi dan pantau sebagai wakasek. Karena visibilitas anda di seluruh sekolah, anda dapat mewujudkan iklim sekolah untuk orang lain pada saat yang sama anda mengawasinya. Ambil suhunya, lalu bekerja untuk mengaturnya. Gruenert & Whitaker, 2015, merekomendasikan pemeriksaan suhu harian sekitar pertengahan pagi dan sekali lagi setelah makan siang. Tidak butuh banyak waktu. Di antara kelas, dengarkan suara di lorong, terutama jika anda berjalan berada di balik pintu tertutup dan tidak terlihat. Lakukan beberapa penelusuran kelas. Tanyakan kepada guru piket di depan, bagaimana keadaannya. Pada dasarnya, lakukan apa pun yang anda bisa untuk mengukur dengan cepat sikap, keadaan pikiran, dan perasaan kelompok, karena iklim sekolah merupakan indikator moral secara keseluruhan, penting dalam memahami sistem sosial sekolah.
Tip: Data iklim sekolah tidak hanya berupa angka; mereka observasional. Jika anda mengamati sesuatu berulang kali saat anda berjalan di sekitar bangunan sekolah anda yang tampaknya memengaruhi perasaan, atau jika sesuatu yang sangat besar membalikkan keadaan, keduanya layak untuk dianalisis.
Poin terakhir mengenai pengukuran suhu adalah bahwa begitu anda menentukan iklim pada hari tertentu, anda dapat melakukan sesuatu untuk itu. Cari apa pun yang menghalangi nada positif dan profesional di antara siswa dan tentukan pelakunya. Poin yang harus anda lakukan adalah mencari hal-hal yang, jika tidak segera ditangani, dapat mengakibatkan siswa membuat keputusan yang buruk dan mendapat masalah. Kemudian, habiskan beberapa upaya untuk mengoreksi jika perlu.
Tip: Jika iklim sekolah berubah, jadilah pelayan yang baik, bukan penyelamat. Jika ada alasan yang sah untuk kesedihan atau kesedihan dalam tubuh siswa, jangan mencoba untuk membalikkannya secara artifisial. Gunakan keaslian sebagai panduan anda.
Anda selalu dapat melakukan pemeliharaan iklim preventif. Ini mungkin termasuk memastikan anda memiliki harapan yang jelas untuk perilaku dan konsekuensi untuk perilaku buruk dan bahwa anda mengukur upaya anda dalam hal keadilan dan kesetaraan melalui analisis data (Austin, O'Malley, & Izu, 2011). Apa yang bisa menjadi data anda? Mereka dapat mencakup jumlah rujukan kantor, jumlah keterlambatan atau ketidakhadiran, jumlah siswa yang ingin meninggalkan sekolah lebih awal, dan sebagainya. Tidak terletak pada orang atau situasi yang dihindari siswa; itu mungkin sesuatu di luar sekolah yang menciptakan kekhawatiran, kekhawatiran, atau pengasingan diri.
Jangan hanya melihat di permukaan. Perhatikan apa yang terjadi ketika kelompok siswa bubar dan pindah ke kelas. Pahami nuansanya. Bagaimana para anggota berperilaku ketika mereka menjadi individu sekali lagi dan berjalan menyusuri lorong? Jangan mengabaikan intuisi anda ketika ingin memahami ekosistem anda; jangan menulis hal-hal kecil sebagai kebetulan atau efek samping dari sesuatu yang jelas tetapi mungkin tidak penting. Goleman (2013) mencatat bahwa apa yang kita lihat sebagai efek samping dalam sistem salah nama; mereka bukan efek dari sistem. Berpikir bahwa suatu sistem memiliki efek samping adalah pemahaman yang salah; semua terjadi karena suatu alasan.
Dalam melihat dinamika grup dan individu, perbesar, perkecil, dan pindai elemen baik mikro maupun makro. Lihat grup ke grup juga. Saya suka deskripsi Goleman (2013) tentang bagaimana "bukaan emosional, kemampuan untuk merasakan isyarat halus seperti itu dalam sebuah kelompok, beroperasi sedikit seperti kamera. Kita bisa memperbesar untuk fokus pada perasaan satu orang, atau memperkecil untuk mengambil kolektif”. Perhatikan tren dari waktu ke waktu, tren yang luput dari kedekatan saat ini. Jangan lewatkan hal-hal tak kasat mata yang memengaruhi lingkungan sekolah dari waktu ke waktu, namun selalu hadir. Kami mendengarkan suara gemerisik di dedaunan yang mungkin menandakan harimau yang sedang mengintai. Tetapi kita tidak memiliki kesadaran persepsi yang dapat merasakan penipisan lapisan ozon atmosfer, maupun karsinogen dalam partikel yang kita hirup pada hari yang berkabut. Keduanya pada akhirnya bisa berakibat fatal, tetapi otak kita tidak memiliki radar langsung untuk ancaman ini (Goleman, 2013).
Wakil kepala sekolah perlu meluangkan waktu dalam pengamatan yang penuh upaya dan bernuansa, jika pengawasan memungkinkan. Berdiri dengan tujuan. Jangan hanya melihat apa yang siswa anda lakukan; melihat apa yang tidak mereka lakukan. Pikirkan hal-hal dari sudut pandang anda, tetapi juga dari sudut pandang mereka. Bagaimana mereka melihat dunia, saat ini, melalui mata mereka? Pengaruh apa yang mungkin ada untuk perilaku mereka dan apa yang dapat dikatakan ini tentang orang lain? Isyarat kontekstual adalah karunia kita; mereka menandakan apa yang terlihat di depan kita serta apa yang tidak terlihat namun masih berdekatan. Jika kita bertanya pada diri sendiri, “Apa artinya ini?” rasa ingin tahu yang sehat akan membantu kita dengan baik dalam pencegahan lingkungan melalui ketajaman pengamatan.
Anda akan bertanya, bagaimana dengan problematika pada wakil kepala sekolah bidang lain? Ya, mereka semua adalah gambaran umum deskripsi dalam perrimbangan. Tapi paling tidak mereka bisa dijadikan landasan komprehensif dalam bertindak. Sedangkan lainnya jika anda sisitu, itulah yang saya maksud kecemerlangan dengan ide baru kreatif yang membedakan anda dengan yang biasa. Guru seperti ini tidak banyak dan cenderung tidak tertarik tampil kepermukaan, tapi sebenarnya mereka sangat mudah distempeli. Sayangnya guru biasa akan cenderung mematikan lampunya dengan alasan sederhana tidak sesuai dengan selera mereka.
Bagaimana dengan Kepala Sekolah? Ya, proses rekrutmen Wakil Kepala Sekolah saja memungkinkan untuk mengalahkan kecemerlangan, sedangkan Kepala Sekolah berasal dari sistim diatas. Ditambah lagi faktor kedekatan dengan penguasa dan atau faktor kedekatan dengan yang dekat penguasa lebih dominan. Wow, ya begitulah karena kemampuan hanyalah masalah secarik kertas.
Gabung dengan kami :
https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g
https://www.facebook.com/groups/1161463424621364/?ref=share
https://www.instagram.com/p/ChoKt2UPZ8o/?igshid=MDJmNzVkMjY=

Tidak ada komentar:
Posting Komentar