Minggu, 24 Juli 2022

Alam Takambang Jadikan PBL


Pembelajaran Berbasis Proyek menjadi pembicaraan di dunia persekolahan di Indonesia semenjak kurikulum prototipe diluncurkan. Asyiknya setelah itu banyak nama dan penamaan kurikulum ini, mulai dari paradigma baru, merdeka, dan pancasila. Semuanya dikunci dengan Sekolah Penggerak dengan Propela sebagai backdropsnya. Padahal PBL itu sebenarnya adalah sebuah metodologi pembelajaran yang  mendorong keterlibatan siswa dan pembelajaran mandiri, dan membantu guru memanfaatkan waktu mereka sebaik mungkin. Apakah ada cara lain untuk menanamkan lebih banyak energi dan kegembiraan ke dalam kelas? Apakah ada kendaraan (pedagogis) yang dapat menjadi pendorong kolaborasi siswa dan pemikiran kritis, sambil menangani sebagian besar standar yang mengganggu itu? Apakah ada cara untuk memfasilitasi pembelajaran yang mendorong kolaborasi antar rekan kerja dan siswa yang berdaya? Paling tidak pertanyaan diataslah yang menjadi alasan kuat bagi PBL dinaikkan tingkatnya keatas. Itulah sebabnya kenapa PBL dipakai oleh banyak negara dalam pembelajaran saat ini.  https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/7851827514699353342 Paling tidak inilah metodologi tercocok di alam sekolah kekinian, "malakik" ditemukan formula baru.

Dari ide dasar PBL tersebut, maka dibuatkanlah sebuah formulasi dalam paket sempurna Sekolah Penggerak dengan turunan dan kelengkapannya. Karena ini juga berhubungan dengan administrasi dan lain lain, maka PBL yang adalah sebuah metodologi sederhana menjadi rumit dalam paket Propela tadi. Saya khawatir akhirnya PBL menjadi "jalang" warnanya karena (1) packaging dibuat jadi sesempurna mungkin sehingga lebih fokus pada tampilan, (2) ada benefit lain yang masih disematkan dan ada sematan baru disitu, sehingga lebih  menarik bagi guru bergenre adaptive dan adventurir.  https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/8291734848967551001. Lambat laun PBL akan lebih mirip "air basuhan tangan" karena walaupun sederhana tapi jadi rumit ditangan mereka. Akankah PBL menjadi hilang ditelan tumpukan bahan kelengkapan sekolah penggerak, akreditasi, komite propela dan lain sebagainya? Kita lihat saja nanti karena Guru Penggerak pun akan hilang dengan sendirinya nanti karena alasan sebelumnya.

Meskipun tidak ada "air sitawa" ajaib yang akan menyelesaikan semua masalah sekolahan ada kemungkinan bahwa dengan sedikit kreativitas yang bijaksana, kita dapat mengakhiri tahun akademik ini dengan catatan yang kuat dengan menggunakan Pembelajaran Berbasis Proyek. PBL sering diacuhkan karena dianggap sebagai "hal lain di piring kita yang sudah penuh."  Tetapi seperti yang dibagikan penulis John Spencer dalam artikelnya "Tujuh Mitos Menjaga Guru Dari Menerapkan Proyek Kreatif," "Ketika saya beralih ke pendekatan , saya menyadari bahwa itu bukan tentang menambahkan Pembelajaran Berbasis Proyek atau sesuatu yang baru ke piring. https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/976505044963774198 Itu tentang menata ulang piring saya.” Tetapi bagaimana rasanya “mengatur ulang piring anda” dengan cara yang dapat membantu meringankan beberapa tantangan yang tampaknya tidak dapat diatasi yang anda hadapi setiap hari?

Tidak dapat disangkal bahwa beberapa sekolah yang lebih dulu dari anda dalam kerangka sekolah penggerak tahun terakhir ini telah memakan korban. PBL tidak lagi original dilaksanakan. PBL sepertinya tidak jadi ditata di piring tadi karena anda disibukkan dengan tagihan assesment, scaffolding, inquiry, couching dan dan lain sebagainya. Apalagi dengan celah masuk 'studi tiru' yang dapat diasumsikan PBL akan jalan ditempat dan menjadi pemanis garnish di piring anda tadi. https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/7505866223107876003 Mulailah kembali memikirkan (bagi anda yang telah dalam sekolah penggerak)  bagaimana anda menggunakan waktu yang anda miliki, jika anda fokus pada penguatan budaya kelas, dan jika anda membuat perjalanan belajar lebih transparan—dalam melayani siswa—ada peluang untuk kegembiraan dan pemberdayaan. Ada kemungkinan bahwa Pembelajaran Berbasis Proyek layak untuk dilihat lagi. Berikut adalah tiga alasan mengapa sekarang mungkin waktu yang tepat untuk melihat lagi Pembelajaran Berbasis Proyek.


1. Memikirkan Kembali Bagaimana Mengefisienkan Waktu 

Langsung saja, mari kita bahas poster di atas papan tulis dikelas anda yang terus-menerus menatap anda: WAKTU. Pembelajaran Berbasis Proyek sering dianggap terlalu memakan waktu untuk direncanakan atau diimplementasikan. Semua contoh video itu sepertinya membutuhkan waktu 12 minggu untuk dilakukan. Siapa yang punya waktu untuk itu? Kedengarannya melelahkan bahkan sebelum memulai, jadi mengapa repot-repot? Tetapi jika anda menantang asumsi anda tentang seperti apa tampilan Pembelajaran Berbasis Proyek agar “berkualitas tinggi”, anda menemukan bahwa waktu mungkin bukan penghalang sebesar yang terlihat. 

Anda bisa fokus pada potongan waktu yang lebih kecil dan lebih ringkas, mungkin melihat standar dua hingga tiga minggu dan melihat apa yang secara alami terhubung untuk serangkaian pengalaman belajar yang lebih otentik. Bagaimana jika anda berkolaborasi dengan seorang kolega (misalnya anda mengajar bahasa Inggris, dan dia mengajar fisika) untuk membuat proyek yang berfokus pada penggunaan area konten spesifik anda untuk menjelaskan bahwa gravitasi itu tidak ada dan mataharilah yang berputar mengelilingi bumi? https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/1235067536179417067
Berkolaborasi tidak hanya dapat membantu meringankan setiap perencanaan pelajaran dan beban penilaian anda, tetapi juga dapat memberdayakan siswa dengan menyoroti betapa pembelajaran yang sebenarnya dapat terjadi. Bayangkan dampak yang akan anda peroleh dari berkolaborasi dalam pembuatan, koordinasi, dan presentasi proyek dengan rekan kerja. Ditambah lagi proyek tersebut akan membelalakkan mata penduduk bumi ini.


2. Transparansi Belajar dan Responsif bagi Siswa 

Bagaimana jika siswa melihat pembelajaran mereka jadi berbeda? Begitu banyak tentang tiga tahun terakhir yang terasa seperti itu terjadi pada mereka, dan persepsi itu dapat membuat belajar jauh lebih sulit. Unit Pembelajaran Berbasis Proyek tidak hanya dapat memberdayakan siswa tetapi juga memicu kegembiraan untuk belajar, menemukan, dan bertanya, yang juga membawa energi yang sangat dibutuhkan pendidik. Koneksi konten yang disengaja ini memberikan manfaat lain. Tapi sayangnya di beberapa sekolah PBL tidak begitu kuat.

Pertama, mengintegrasikan konsep membeli lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi, memanipulasi, dan mempertanyakan topik. Ini sebenarnya meningkatkan ketelitian dalam cara yang memberdayakan siswa, daripada membosankan, membuat frustrasi, atau membebani mereka. Melihat koneksi di luar kelas memberikan "jadi apa" secara alami mengapa mereka perlu mempelajari setiap konsep. Kedua, setiap kali siswa keluar selama beberapa hari berturut-turut, mereka kemudian dapat kembali ke serangkaian pelajaran dan pemikiran yang terhubung, dibandingkan merasakan tekanan untuk membuat 15 hari pelajaran individu. Jauh lebih mudah untuk melompat kembali ketika ada pola dan hubungan yang mudah dilihat di antara semuanya.


3. Pembelajaran Berbasis Proyek Memperkuat Budaya Dan Fungsi Sekolah

Waktu selalu menjadi tantangan, dan baru-baru ini tampaknya semakin akut. Penelitian menunjukkan bahwa, rata-rata, anda kehilangan sekitar 7–10 menit waktu pelajaran per hari karena masalah manajemen umum seperti perilaku di luar tugas dan 6–7 menit lagi karena gangguan umum seperti panggilan telepon, dan pengumuman dari ruang wakil. Menit yang hilang ini bertambah menjadi jam pada akhir bulan dan minggu pada akhir tahun. Namun, sebagian besar guru berbasis proyek tidak terlalu menganggap gangguan atau sebagai masalah karena dua alasan penting: Mereka cenderung tidak selalu menjadi pusat pengajaran, dan mereka memiliki struktur yang terkenal untuk membantu siswa tetap terlibat.

Ketika norma dan harapan kelas dipahami—dalam banyak kasus dibuat bersama dengan siswa—hal itu mendorong kejelasan dan penerimaan sejak awal. Ketika siswa bekerja dalam kelompok kolaboratif, sebuah struktur yang memberikan dukungan tambahan ketika klarifikasi diperlukan, mereka mengalami akuntabilitas individu dan tim melalui pembuatan produk bersama.  https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/4522873560581203264 Pengelompokan ini diperkuat melalui alat yang disediakan guru seperti kesepakatan tim, catatan kerja, dan PBM yang semuanya berfokus pada peningkatan kemandirian. Alat-alat ini membebaskan Anda untuk memberikan dukungan tambahan kepada masing-masing siswa atau untuk menangani masalah yang tidak terduga.

Mengajak siswa untuk bertindak, guru dapat memberi siswa rasa hak pilihan dan memiliki dampak besar di luar kelas. Dalam Pembelajaran Berbasis Proyek, "produk publik" adalah acara puncak di akhir proyek yang berfungsi sebagai kesempatan bagi siswa untuk memamerkan pembelajaran mereka. Dalam produk publik, karya yang dihasilkan siswa disajikan di luar dinding kelas kepada orang-orang yang mungkin termasuk anggota masyarakat, dunia usaha/industri, politisi lokal, orang tua, komite sekolah, komite propela, dan pengawas.

Ini adalah puncak yang kuat untuk unit Pembelajaran Berbasis Proyek karena siswa menjadi termotivasi untuk memberikan polesan terbaik mereka pada pekerjaan yang mereka tahu akan dilihat orang lain. Menambahkan ajakan bertindak (call to action) yang disempurnakan dengan teknologi yang baik ke presentasi mereka dapat mendorong konversi dan meyakinkan orang-orang yang menghadiri atau melihat karya siswa untuk bertindak dan membantu dalam suatu tujuan. 


Misalnya, siswa dapat mendorong partisipasi dalam acara lingkungan seperti pembersihan pantai dengan memasukkan gambar sampah atau sampah plastik dalam infografis yang menarik. Mereka juga dapat membuat komunitas mereka sadar tentang bagaimana bertindak di sekitar isu-isu sosial yang kritis dengan menggunakan media sosial tentang hayati laut dan pesisir pantai. SMA 8 Padang untuk itu telah bersinergi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam program 'Conservation Goes To School'. 

Terkadang call to action (CTA) sesederhana tiga kata, seperti “Save Our Sea”, atau lebih panjang lagi, seperti “Ingin mempromosikan inklusivitas di SMA 8 dan mempelajari lebih lanjut tentang cara penangkaran kura-kura? Menulisnya di blog, jurnal dan saluran YouTube, InstaGram dan lainnya. Kami akan posting setiap aktifitas yang dilakukan untuk berbagi! Siswa dapat belajar mengembangkan produk publik dengan CTA yang mudah diingat dan dapat ditindaklanjuti. Kendaraan umum yang cocok untuk CTA bagi siswa dapat mencakup media sosial, artikel, blog, vlog, situs web, podcast, dan iklan layanan masyarakat (ILM).

Selain itu, mengingat topik yang dipelajari siswa, menyusun CTA yang dapat ditindaklanjuti sama pentingnya untuk memenuhi tujuan proyek. Pekerjaan siswa tidak selesai karena proyek berakhir—harus ada tindak lanjut. Pelajar perlu memahami bahwa alasan yang mereka dukung mungkin tidak akan meningkat sampai mereka melampaui pengetahuan mereka tentang hal itu dan memberi orang lain langkah-langkah terukur untuk bergerak menuju hasil yang diinginkan siswa. Berikut adalah bagaimana guru dapat memfasilitasi ini. Seperti menjadikan SMA 8 sebagai duta bahari Indonesia.

MEMBANTU SISWA UNTUK MEMBUAT CTA

Pembelajaran Berbasis Proyek yang efektif mengharuskan siswa untuk terlibat dalam penyelidikan berkelanjutan, observasi, dan semoga kerja lapangan untuk membantu mereka berkembang menjadi pendukung penyebab yang mereka jelajahi. Penyelidikan dan pengembangan solusi harus menjadi dorongan untuk menyusun CTA yang menarik. 

Mulailah dengan membantu siswa memahami apa itu CTA dan bagaimana mereka dapat digunakan untuk membujuk orang-orang di komunitas mereka untuk membantu dengan tujuan tertentu dengan melakukan sesuatu yang spesifik, seperti berikut ini:

  • Menyerukan intimidasi
  • Daur ulang lebih banyak
  • Menghemat air
  • Menghadiri pembersihan taman
  • Mengenakan sabuk pengaman
  • Berbagi konten di media sosial
  • Menghadiri presentasi untuk mempelajari apa yang bisa dilakukan
  • Berbagi dengan kaum tidak mampu
  • Pemungutan suara dalam pemilihan kepala daerah

Menjadi dunsanak cewangputih https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g untuk mendapatkan artikel dari Donny Boy tentang PBL"

Ikuti PBL center Smandel https://www.facebook.com/profile.php?id=100082340348628 untuk dapatkan postingan tentang PBL dalam proyek dikliniki oleh PBL center Smandel 

Bergabunglah dengan FB Siswa dan alumni SMA 8 https://www.facebook.com/groups/208285009204611/?ref=share_group_link jika anda adalah alumni SMA 8 Padang.

Untuk mengartikulasikan CTA mereka secara efektif kepada orang lain, siswa juga harus menyajikan fakta, motivasi, dan langkah yang sesuai. Ini akan mengharuskan mereka untuk mengetahui masalah yang mereka anjurkan di dalam dan di luar, untuk mempersiapkan audiensi, untuk disengaja, dan untuk menerima bantuan dari guru

TEKNOLOGI UNTUK MENINGKATKAN CTA

Untuk guru yang menunjukkan kepada siswa cara menggabungkan CTA ke dalam presentasi PBL dengan teknologi, saya sarankan anda membiarkan kreatifitas mereka menjadi pusat perhatian tetapi gunakan pedoman yang relevan untuk membantu meningkatkan pekerjaan mereka. Indikator dalam “Komunikasi Kreatif,” standar keenam dalam Masyarakat Internasional untuk Teknologi dalam Standar Pendidikan untuk Siswa, dapat menjadi pedoman yang sangat baik untuk membantu siswa mengomunikasikan CTA mereka menggunakan keterampilan verbal, data, dan teknologi dengan cara yang kreatif dan berdampak.

Mari kita membongkar dua indikator bersama dengan contoh.

Siswa memilih platform dan alat yang sesuai untuk memenuhi tujuan yang diinginkan dari penciptaan atau komunikasi mereka: Kunci dari produk publik adalah bahwa CTA dan pekerjaan harus menjangkau di luar komunitas terdekat, dan siswa dapat menggunakan alat teknologi dengan cara yang kreatif untuk berkomunikasi. 

Contohnya termasuk berikut ini:
Menggunakan Adobe Spark untuk membuat dan berbagi konten seperti grafik, cerita web, dan video animasi untuk posting media sosial dan produk digital lainnya (misalnya, blog, artikel, esai digital).

Menulis surat advokasi untuk menginformasikan legislator mereka mengapa isu tertentu penting dan bagaimana hal itu mempengaruhi lingkungan atau masyarakat lokal. Siswa perlu memberi tahu perwakilan mereka bagaimana mereka ingin mereka mendukung atau memilih masalah dan meminta tanggapan. Lihat tautan ini untuk templat surat advokasi yang bermanfaat.

Siswa membuat karya orisinal atau secara bertanggung jawab menggunakan kembali atau memadukan sumber daya digital menjadi kreasi baru: Kuncinya di sini adalah siswa menyadari cara membuat karya orisinal atau menambah pengetahuan yang ada dan menggunakan teknologi untuk melakukannya secara bertanggung jawab dalam CTA mereka. 
Membuat ILM, biasanya menggunakan iklan video dan cetak, untuk membujuk audiens mereka agar mengambil tindakan yang menguntungkan. Iklan layanan masyarakat dapat digunakan untuk menyadarkan CTA, mendorong perubahan perilaku, menunjukkan relevansi suatu isu, atau menyampaikan informasi yang diperlukan. Media sosial, Flipgrid, dan YouTube adalah platform video yang bagus untuk ILM.


Tidak ada komentar: