Jumat, 08 April 2022

Otentikasi PBL

 <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2777427864397362"

     crossorigin="anonymous"></script>



Ada hal menarik yang terbesut di pikiran beberapa guru yang secara mekanikal siap untuk mengimplementasikan "belajar merdeka" di sekolah penggerak. Jumlah mereka sangat sedikit dan mereka tidak tampil di permukaan yang kaya jargon, jelas visi, dan kuat misi di atas kertas. Mereka seperti mendapatkan kembali habitat filosofi peradaban 'dunia pendidikan' mereka. "Eureka", mereka keluar bukan berlabel Calon Guru Penggerak (CGP) dab Guru Penggerak (GP), itulah sambutan guru-guru saluti mereka. "That sound to my ears", itulah yang menyesak ingin cepat seperti pemain cadangan dalam sepakbola memasuki lapangan.

Ada hal menarik yang terbesut di pikiran beberapa guru yang secara mekanikal siap untuk mengimplementasikan "belajar merdeka" di sekolah penggerak. Jumlah mereka sangat sedikit dan mereka tidak tampil di permukaan yang kaya jargon, jelas visi, dan kuat misi di atas kertas. Mereka seperti mendapatkan kembali habitat filosofi peradaban 'dunia pendidikan' mereka. "Eureka", mereka keluar bukan berlabel Calon Guru Penggerak (CGP) dab Guru Penggerak (GP), itulah sambutan guru-guru saluti mereka. "That sound to my ears", itulah yang menyesak ingin cepat seperti pemain cadangan dalam sepakbola memasuki lapangan.

Kini, mau tidak mau "the authority" sedang me-similar-kan konsep "adaptive", untuk "paradigma baru", "kurikulum prototipe", dan "kurikulum merdeka", dengan Sekolah Penggerak (SP) dan Calon Sekolah Penggerak (CSP) sebelum 2025 [baca artikel lain cewangputih: Unstated Purposes of Schooling] Anda akan harap harap cemas dibuatnya. Anda berharap anda termasuk didalamnya dengan kebanggaan busung dada plus mempertahankan posisi aman finansial. Disamping itu anda cemas akan mampukah menjalankan amanat GP dan luluskah jadi CGP! Ini disebabkan karena "merdeka belajar" ini bukanlah "that sight to my eyes" anda.

Salah satu metodologi yang akan familiar di mata dan telinga anda adalah Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL). Ini dianggap seperti anda memasang blok puzzle yang tepat diantara serakannya. Kini, apakah anda menikmati proses pemasangan atau hasil akhir puzzle tersebut? Disayangkan anda akan seperti yang di-satire-kan dalam Unstated Purposes of Schooling diatas. Semakin cepat aplikasi Pembelajaran Berbasis Proyek akan semakin banyak siswa yang diuntungkan.

Masalah kekinian membuat pengambil kebijakan pendidikan harus mereset kurikulum pendidikan yang sesuai. Konstruksi harus diubah kearah perkembangan masa depan peradaban dalam frame kekinian. Instruksi harus dipermak total disamping model kontemporer yang sudah 'vintage' bagi siswa generasi zillenial dan siap siap generasi post zillenial.

Konten dan fitur belajar dan pembelajaran harus berubah wajah dari kacang padi hampa yang merapung ketika dimasukkan ke cawan. Pembelajaran Berbasis Proyek dengan menggunakan model linier yang lebih lancar daripada statis. Mungkin paling baik mempersiapkan siswa untuk masa depan pembelajaran dan pekerjaan yang otentik. Menurut Michael McDowell ada lima cara untuk otentikasi dalam Pembelajaran Berbasis Proyek:

Siswa memperoleh pertanyaan pendorong dari beberapa konteks atau beberapa masalah dalam suatu konteks. Di kelas XII SMA, siswa membaca buku We Are Water Protectors dan mendiskusikan tantangan yang dihadapi penduduk asli Amerika dengan diperkenalkannya pipa Keystone. Selanjutnya, guru menyajikan dua masalah:

  • Ekstraksi kobalt untuk membuat mobil listrik dan dampak negatifnya pada komunitas pedesaan Afrika
  • Pengembangan ladang angin dan penurunan elang emas
  • Siswa kemudian bekerja sama dalam strategi ini untuk menentukan tantangan utama yang dihadapi masyarakat adat dan spesies asli.

Selanjutnya, mereka mengembangkan pertanyaan inti yang ingin mereka jawab dan menentukan apa yang mereka butuhkan untuk belajar menjawab pertanyaan tersebut.


Siswa menghadapi perubahan dalam masalah yang mereka pikirkan. Lingkungan masalah bersifat cair, tidak statis. Di mata pelajaran ekonomi, siswa menganalisis penawaran dan permintaan barang dan bersiap untuk memberi saran kepada perusahaan tentang apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan keuntungan.

Para siswa bekerja bersama dalam kelompok-kelompok kecil dan mendiskusikan faktor-faktor kunci yang memengaruhi perusahaan yang mereka beri saran, bersama dengan apa yang perlu dipelajari dan dipahami siswa sebelum bertemu dengan klien, dan akhirnya mengembangkan beberapa rekomendasi berdasarkan berbagai kemungkinan

Strategi umum terlihat seperti ini:

  • Siswa belajar tentang perubahan konten masalah (ini bisa melalui membaca beberapa laporan berita, mendengarkan podcast harian, atau terlibat dengan orang-orang yang sebenarnya di lapangan).
  • Dalam kelompok kecil, siswa berbagi pemahaman kunci mereka tentang perubahan dan bagaimana hal itu memengaruhi pemahaman dan strategi mereka saat ini.
  • Siswa menentukan kunci "perlu-untuk-tahu" yang mereka miliki dan bekerja dengan guru dan rekan-rekan untuk mendapatkan kompetensi.
  • Siswa merencanakan berbagai kemungkinan dan solusi tentatif.

Baca juga:

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/7203594928772326248

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/3045196645804592967

https://www.blogger.com/blog/post/edit/8563148637061168596/2456862958122939352


Presentasi adalah ledakan singkat dari apa yang siswa pikirkan dan usulkan selama proyek dengan sedikit umpan balik untuk membuat penyesuaian. Siswa kelas XI mengirimkan esai persuasif mereka pada salah satu dari sejumlah topik (misalnya, mengatasi krisis tunawisma, terlibat dengan politisi pada teori ras kritis).

Saat mereka sedang menyusun makalah mereka, siswa secara acak ditugaskan untuk mempresentasikan ide-ide mereka dan draf saat ini kepada siswa lain dan menerima umpan balik pada tulisan mereka serta persuasif mereka terhadap pandangan yang berlawanan.

Strateginya terlihat seperti ini:

  • Siswa memiliki perhentian tengah pelajaran di mana mereka memiliki 5 menit untuk bersiap mempresentasikan pekerjaan mereka saat ini.
  • Siswa melakukan protokol umpan balik (tuning atau teman kritis) di mana satu atau dua siswa menerima umpan balik.
  • Siswa yang menerima umpan balik membagikan apa yang telah mereka ubah dalam jurnal reflektif atau tiket keluar.

Proses ini diulang setiap hari.

Audiens otentik terlibat dengan siswa di seluruh proyek, bukan hanya di awal dan/atau akhir. Di kelas seni kelas X, siswa telah ditugaskan oleh dewan kota setempat untuk melukis mural yang mewakili suara-suara yang sebagian besar terpinggirkan di komunitas mereka. Selama bekerja, siswa bertemu dengan sejumlah seniman dan anggota komunitas yang berbagi cerita, menawarkan umpan balik, dan menjawab pertanyaan.

Dalam strategi ini, siswa terlibat dengan orang-orang di luar kelas di awal, tengah, dan akhir proyek untuk mendengar cerita yang berhubungan dengan konteks masalah, menerima bimbingan tentang aspek teknis dari konten yang mereka pelajari, dan mengajukan pertanyaan.



Kelompok bekerja sama dalam waktu singkat untuk memecahkan masalah. Kolaborasi mata pelajaran matematika dengan biologi kelas XII untuk memecahkan sejumlah masalah yang berkaitan dengan asam lambung, bak air panas berisi alga, komposisi tanah, dan gigi kerbau.

Sementara setiap siswa mungkin memecahkan masalah yang berbeda, siswa membentuk kelompok-kelompok kecil untuk berbagi pembelajaran mereka, mengevaluasi hubungan antara setiap konteks, dan saling memberikan umpan balik. Setelah kira-kira dua minggu menyelesaikan tugas matematika yang kompleks, guru menyajikan tiga masalah baru dan membentuk kelompok baru bagi siswa untuk memecahkan masalah tersebut dalam satu atau dua hari.

Dalam strategi ini, siswa membentuk kelompok sementara yang terdiri dari dua hingga tiga orang untuk memecahkan tantangan baru dan bekerja sama selama satu hingga dua hari tanpa membentuk peran khusus tugas.






Cewangputih adalah blog yang konsern pada masalah pendidikan dan peradaban untuk memperkaya ragam madah pengetahuan. Ingin mendapatkan langsung konten cewangputih jadilah "dunsanak cewangputih" dan "guru go-blog"
https://chat.whatsapp.com/EuuU3aWnMvQLsQoPzXWd8g
https://www.facebook.com/groups/1161463424621364/?ref=share







Tidak ada komentar: